Risiko Jatuh pada Lansia Bisa Dicegah, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini

17 hours ago 12

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Risiko jatuh pada lansia kerap dianggap sebagai bagian yang wajar dari proses penuaan. Padahal, kejadian tersebut dapat berujung pada cedera serius, seperti patah tulang hingga cedera kepala, yang berdampak pada penurunan kualitas hidup serta mengurangi kemandirian lansia.

Dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi di Seraphim Medical Center, dr Raymond Posuma SpKFR MS(K) FIPM (USG), mengatakan sebagian besar kasus jatuh pada lansia sebenarnya dapat dicegah apabila faktor risikonya dikenali sejak dini dan ditangani secara tepat. "Sebagian besar kejadian jatuh sebenarnya bisa dicegah jika risikonya dikenali lebih awal dan ditangani dengan pendekatan yang tepat," ujar Raymond dalam keterangan tertulis, Sabtu (4/7/2026).

Menurut dia, terdapat sejumlah faktor yang membuat lansia lebih rentan mengalami jatuh. Di antaranya adalah penurunan massa otot, gangguan keseimbangan dan koordinasi gerak, penurunan fungsi penglihatan, serta efek samping obat-obatan tertentu yang dapat menyebabkan pusing atau tekanan darah menjadi tidak stabil.

Raymond menjelaskan, berbagai faktor tersebut umumnya tidak muncul secara terpisah, melainkan saling berkaitan sehingga meningkatkan risiko jatuh secara signifikan. Selain kondisi fisik, faktor lingkungan juga berkontribusi terhadap tingginya risiko jatuh pada lansia. Lantai licin, pencahayaan yang kurang memadai, tidak adanya pegangan tangan di area tertentu, hingga permukaan lantai yang tidak rata dapat menjadi pemicu kecelakaan.

Ia mengingatkan keluarga untuk mengenali tanda-tanda awal yang sering kali diabaikan sebelum kejadian jatuh terjadi. Beberapa di antaranya adalah lansia yang mulai sering berpegangan pada dinding atau furnitur saat berjalan, langkah kaki yang semakin pendek dan hati-hati, menghindari aktivitas karena takut kehilangan keseimbangan, sering merasa pusing saat berdiri dari posisi duduk, hingga respons tubuh yang lebih lambat ketika kehilangan keseimbangan.

"Tanda-tanda ini bukan bagian normal dari proses menua yang harus diterima begitu saja, melainkan sinyal bahwa ada yang perlu dievaluasi dan ditangani sebelum terlambat," kata Raymond.

Karena itu, ia menekankan pentingnya asesmen risiko jatuh sebelum insiden benar-benar terjadi. Melalui pemeriksaan dini, dokter dapat mengidentifikasi faktor risiko dan menyusun program penanganan yang sesuai dengan kondisi masing-masing pasien.

Salah satu pendekatan yang diterapkan di Seraphim Medical Center adalah program KINESIQ. Program tersebut diawali dengan asesmen menyeluruh untuk mengukur keseimbangan, kekuatan otot, dan pola gerak pasien. Hasil pemeriksaan kemudian menjadi dasar penyusunan latihan yang disesuaikan dengan kebutuhan individu.

Menurut Raymond, tujuan program tersebut bukan sekadar mengurangi risiko jatuh, tetapi juga membantu lansia tetap aktif, mandiri, dan percaya diri dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Ia juga mengingatkan pemeriksaan risiko jatuh sebaiknya tidak menunggu hingga lansia mengalami kecelakaan atau kondisi fisiknya sudah sangat menurun. Semakin dini risiko dikenali, semakin besar peluang untuk mencegah jatuh dan mempertahankan kualitas hidup di usia lanjut.

"Keluarga memiliki peran penting dengan memperhatikan perubahan kecil pada kemampuan bergerak lansia dan segera berkonsultasi apabila menemukan tanda-tanda yang mengarah pada peningkatan risiko jatuh," ujar Raymond.

Seraphim Medical Center, salah satu unit bisnis Bethsaida Healthcare, berlokasi di Paramount Gading Serpong dengan fasilitas unggulan yang modern seperti Cryo Chamber Therapy, TPS, Hyperbaric Oxygen Treatment, PicoWay Laser, Fotona Laser, dan lain sebagainya.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |