QUPRO Indonesia
Khazanah | 2026-07-04 11:19:03
Oleh: Irawan Koordinator Gerakan #IndonesiaJagaNyalaPalestina Chapter Sumatera & Manager Operasional QUPRO Sumatera Selatan
Setiap hari, dunia selalu disuguhi angka-angka.
Ratusan ribu korban jiwa. Jutaan warga kehilangan tempat tinggal. Rumah sakit yang lumpuh total. Sekolah yang menjadi puing. Anak-anak yang seharusnya belajar, justru tumbuh bersama suara ledakan. Di layar gawai kita, semua itu datang silih berganti, lalu bergeser oleh berita-berita berikutnya. Angka-angka yang tersuguhkan perlahan namun pasti kehilangan makna, padahal di balik setiap angka ada satu nama, satu keluarga, dan satu kehidupan yang tak akan pernah kembali.
Di titik inilah kemanusiaan kita diuji.
Bukan tentang seberapa jauh jarak Indonesia dengan Palestina. Bukan pula tentang apakah kita mampu mengubah arah sejarah seorang diri. Ujian sesungguhnya adalah apakah hati kita masih terusik ketika melihat penderitaan manusia lain.
Bangsa Indonesia sejak awal memiliki hubungan batin yang amatlah kuat dengan Palestina. Ketika republik ini masih berjuang memperoleh pengakuan sebagai negara merdeka, dukungan dari dunia Arab, termasuk Palestina, menjadi bagian penting dalam perjalanan diplomasi Indonesia. Hubungan itu kemudian bertumbuh menjadi komitmen yang terus dijaga lintas generasi. Dukungan terhadap Palestina lahir dari keyakinan bahwa kemerdekaan, keadilan, dan martabat manusia adalah hak setiap bangsa.
Nilai itulah yang hidup hingga hari ini.
Di berbagai daerah, masyarakat menyampaikan keberpihakan pada nilai-nilai kemanusiaan sesuai dengan latar belakangnya masing-masing. Ada yang menggalang bantuan, mengirimkan doa, menyebarkan informasi, menjadi relawan, hingga membangun kolaborasi lintas komunitas. Semua mengambil peran. Semua menjaga agar nurani tidak padam.
Palembang termasuk salah satu kota yang terus menunjukkan denyut itu.
Kota yang dikenal dengan semangat gotong royong ini berulang kali membuktikan bahwa kepedulian dapat tumbuh menjadi gerakan. Berbagai elemen masyarakat, institusi pendidikan, tokoh agama, komunitas, dunia usaha, organisasi sosial, anak muda, hingga keluarga-keluarga biasa memilih mengambil bagian. Mereka datang tanpa melihat latar belakang, karena panggilan kemanusiaan selalu berbicara dengan bahasa yang sama.
Tahun ini, gerakan kepedulian untuk Palestina di Palembang telah memasuki Jilid VI.
Enam kali penyelenggaraan menjadi penanda bahwa perhatian masyarakat Palembang tidak berhenti pada satu momentum. Ada kesinambungan, ada kepercayaan, dan ada tekad untuk terus menjaga nyala solidaritas. Gerakan kemanusiaan memang tidak dibangun dalam sehari. Ia tumbuh melalui konsistensi orang-orang yang percaya bahwa setiap ikhtiar memiliki arti.
Besok, 5 Juli 2026, perjalanan itu kembali menorehkan satu babak baru.
Ribuan masyarakat akan berkumpul dalam Konser Amal Wali Band Palembang Darussalam untuk Palestina. Mereka datang dari berbagai profesi, usia, organisasi, dan komunitas. Ada yang membawa keluarga. Ada yang mengajak sahabat. Ada yang hadir untuk menikmati lantunan lagu. Ada pula yang datang karena ingin menjadi bagian dari ikhtiar bersama.
Saat itulah Palembang akan menghadirkan pemandangan yang indah. Lautan manusia dengan satu tujuan, menghadirkan harapan bagi mereka yang sedang menghadapi ujian kemanusiaan.
Panggung konser akan menjadi ruang bertemunya musik, empati, dan aksi nyata. Setiap lagu yang dinyanyikan membawa pesan bahwa kepedulian masih hidup. Setiap langkah kaki yang datang menjadi bukti bahwa masyarakat tidak memilih diam. Setiap donasi yang terkumpul adalah bentuk ikhtiar yang lahir dari hati dan aksi nyata
Dunia tidak akan pernah mengetahui satu per satu nama orang yang hadir di Palembang. Namun dunia selalu membutuhkan kota-kota yang menjaga nuraninya.
Kita mungkin tidak berada di ruang perundingan internasional. Kita juga tidak berada di garis depan wilayah konflik. Namun, kita memiliki sesuatu yang tetap bernilai di mana pun: kemampuan untuk saling peduli.
Palembang sedang menunjukkan bahwa sebuah kota dapat mengambil peran dalam panggung kemanusiaan dunia. Bahwa solidaritas tidak mengenal batas wilayah, bahasa, maupun kebangsaan. Bahwa ketika ribuan orang memilih berkumpul demi satu nilai yang sama, harapan memperoleh ruang untuk terus hidup.
Esok hari, mari kita hadir bersama!
Bukan untuk menjadi penonton sejarah, melainkan menjadi bagian dari mereka yang memilih berdiri di sisi kemanusiaan.
Karena pada akhirnya, yang dikenang bukan hanya siapa yang tampil di atas panggung. Yang akan selalu hidup dalam ingatan adalah mereka yang tetap menjaga nyala kepedulian ketika dunia sedang membutuhkannya!
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

4 hours ago
10




































