REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Erik Purnama Putra dari Bengaluru, India
Industri pertahanan (indhan) India saat ini dalam fase berkembang pesat. Republika belum lama ini berkesempatan mengunjungi setidaknya empat indhan di Kota Bengaluru, negara bagian Karnataka, India. Dapat disimpulkan, baik indhan milik pemerintah dan swasta sama-sama berkompetisi menyuplai semua kebutuhan pertahanan nasional.
Bengaluru menjadi hub kemajuan teknologi India. Mereka berusaha menyediakan pasokan dalam negeri bagi kebutuhan Angkatan Bersenjata India dalam merespons perkembangan global. India berusaha mandiri di bidang pertahanan.
Saat mengunjungi Bharat Electronics Limited (BEL), Republika dan puluhan jurnalis internasional diajak melihat langsung sejumlah produk yang dihasilkan untuk menyuplai kebutuhan militer. Bahkan, BEL menyumbang sejumlah komponen penting dalam produksi Kapal Induk INS Vikran (R 11).
Direktur Eksekutif BEL, K Kumar, menyebut, perusahaannya menjadi mitra strategis bagi Angkatan Bersenjata India. Dia juga menggambarkan, BEL seperti aset nasional yang menjadi mitra perusahaan skala global, seperti Boeing dan Safran. "Pertumbuhan kami berlandaskan pada inovasi berkelanjutan dan kemitraan yang terpercaya," kata Kumar kepada para jurnalis.
Pensiunan Angkatan Laut India (Indian Navy) ini mencontohkan, BEL mampu menciptakan sistem radar militer, sistem komunikasi taktis dan strategis, sistem radar pantai, serta fasilitas manufaktur presisi canggih. Tidak ketinggalan, teknologi drone, termasuk kamikaze ikut dikembangkan.
Belum lagi, suplai platform berteknologi tinggi dalam pembangunan INS Vikran yang merupakan kapal induk pertama buatan dalam negeri semakin menahbiskan BEL sebagai pemain utama penydiakan teknologi di India. Kumar menegaskan, semua pencapaian itu menunjukkan kemandirian India semakin meningkat dalam teknologi pertahanan canggih.
Sementara itu, kunjungan juga dilakukan ke SSS Defence yang berlokasi di KIADB Industrial Area, Jigani Hobli, Bengaluru. Perusahaan swasta ini fokus mendesain, memproduksi, menguji, dan mensertifikasi sistem senjatanya sepenuhnya secara internal.
Uniknya, semua jurnalis diajak menjajal senapan sniper berbagai jenis yang digunakan pasukan khusus Angkatan Bersenjata India. Sebelum diajak menembak menggunakan senapan sniper dengan target 50 meter, Republika berkesempatan melihat suasana produksi di sebuah pergudangan.
Menariknya, terdapat empat pekerja perempuan berpakaian sari duduk berjejer, yang menjadi bagian proses produksi senjata. Kemudian, dipajang sejumlah senjata dipajang dan mendapatkan paparan dari petinggi perusahaan, kemudian peserta diajak menuju ruang bawah tanah.
Di sinilah, sejumlah senjata bisa dicoba untuk membidik target. Di antaranya, 338 Saber, 308 Viper, T72 Viper DMR, hingga Raptor 300 Blackout. Semua senjata itu bisa dicoba peserta dengan tentu didampingi petugas. Selain itu, SSS Defence juga memproduksi senapan otomatis, pistol, amunisi berbagai kaliber, hingga peredam.
CEO SSS Defence Vivek Krishnan menjelaskan, senapan sniper, senapan serbu, senapan mesin ringan, hingga amunisi, peredam, dan optik senjata, merupakan hasil rancangan perusahaannya. Dia menyoroti, India sebenarnya memiliki sejarah produksi senjata swasta yang kuat.
Vivek menyatakan, reformasi kebijakan di India sejak 2016 telah membuka pintu bagi partisipasi sektor swasta. Alhasil, SSS Defence bisa mengekspor sejumlah senjata ke berbagai negara, termasuk Armenia sembari menjajaki transfer teknologi. "Dengan mengendalikan pasokan senjata dan amunisi, kami memperkuat keandalan operasional bagi pelanggan kami," ujar Krishnan.

19 hours ago
7








































