Mentan Amran Bersama 150 Mahasiswa Papua Gagas Gerakan Kembali Berkebun

12 hours ago 13

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Mentan Andi Amran Sulaiman bersama 150 mahasiswa Papua menggagas Gerakan Kembali Berkebun. Ini upaya membangun ekonomi masyarakat dari tanah sendiri lewat pengembangan komoditas unggulan berbasis potensi lokal. 

Gerakan ini diharapkan melahirkan generasi muda Papua yang mampu menjadi penggerak pembangunan pertanian sekaligus menciptakan lapangan kerja di daerahnya.

Gagasan tersebut disampaikan Mentan Amran saat berdialog dengan Asosiasi Mahasiswa Papua Indonesia di kediamannya, Jakarta, Kamis (2/7/2026). Pertemuan berlangsung hangat dan dihadiri mahasiswa dari berbagai wilayah, meliputi Papua Pegunungan, Papua Tengah, Papua Barat, Papua Barat Daya, dan Papua Induk.

Dalam dialog, mahasiswa memaparkan beragam potensi komoditas unggulan daerah, mulai dari ubi jalar, sagu, pala, kakao, kopi, hingga peternakan. Menanggapi hal itu, Mentan Amran menegaskan pembangunan pertanian Papua harus bertumpu pada kekuatan komoditas lokal dan pemanfaatan lahan yang dimiliki masyarakat.

“Kita harus membangun ekonomi dari desa. Mahasiswa seperti kalian adalah putra-putri terbaik tanah Papua. Kalian yang bisa mengangkat ekonomi Papua karena memiliki pengetahuan, kecerdasan, dan lahan yang harus dibangun,” kata Mentan Amran.

Sebagai bentuk komitmen nyata, Mentan Amran langsung memberikan dukungan kepada salah seorang mahasiswa Papua, Anton, yang telah memiliki lahan pertanian seluas tujuh hektare sekaligus membina kelompok tani di kampung halamannya. 

Melihat keseriusan tersebut, Mentan Amran memutuskan menambah dukungan pengembangan lahan seluas lima hektare.

“Kalau sudah punya lahan sendiri dan sudah mulai bergerak, kita harus dukung. Saya tambah lima hektare lagi, yang penting dikerjakan dengan baik dan bisa menjadi contoh bagi anak-anak muda Papua lainnya,” ujarnya.

Menurut Mentan Amran, keterlibatan mahasiswa menjadi strategi penting dalam menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru di Papua. 

Pemerintah ingin generasi muda Papua tidak hanya menjadi pencari kerja, juga pencipta lapangan kerja melalui pertanian modern berbasis potensi daerah. Ia mengajak mahasiswa yang masih memiliki lahan keluarga untuk mulai mengelolanya sejak masih menempuh pendidikan.

“Saya ingin membangun Gerakan Pemuda Tani Papua. Kalau adik-adik mahasiswa punya lahan di kampung, mari kita tanam mulai sekarang. Begitu lulus kuliah, pendapatannya bisa lebih tinggi daripada pegawai,” ujar Mentan Amran.

Ia mencontohkan komoditas perkebunan seperti kopi dan pala yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Menurutnya, dengan memanfaatkan lahan keluarga sebagai modal awal, mahasiswa dapat membangun usaha pertanian yang produktif dan berkelanjutan.

“Kalau ada mahasiswa punya dua hektare lahan dan ditanami kopi atau pala, begitu selesai kuliah hasilnya sudah bisa menjadi sumber pendapatan. Kita harus membangun ekonomi dari desa, membangun ekonomi dari tanah kita sendiri,” tegasnya.

Mentan Amran juga menambah bantuan pengembangan kopi seluas 100 hektare bagi kelompok petani muda Papua Pegunungan yang telah membuka lahan kopi seluas 48 hektare. 

Selain itu, pemerintah menyiapkan bantuan alat pertanian seperti linggis, sekop, parang, dan peralatan lainnya untuk mendukung pengembangan pangan lokal, khususnya ubi jalar di Papua Tengah dan Papua Pegunungan.

“Untuk Papua Pegunungan dan Papua Tengah, kita siapkan bantuan alat pertanian sesuai kebutuhan karena komoditas utamanya adalah ubi. Ini menjadi program khusus untuk memperkuat pengembangan pangan lokal,” kata Mentan Amran.

Ronaldo Jakub Inesta, mahasiswa asal Papua Barat Daya mengapresiasi respons cepat Mentan Amran atas aspirasi mahasiswa. Forum ini, kata dia, jadi ruang penting bagi mahasiswa Papua menyampaikan langsung potensi daerah kepada pemerintah.

“Menurut saya, Pak Menteri orangnya tegas, rendah hati, dan sangat cekatan. Apa yang kami sampaikan langsung dicatat dan ditindaklanjuti,’’ katanya. 

Kesempatan seperti ini, imbuh dia, sangat baik karena jarang sekali mahasiswa bisa berdialog langsung dengan seorang menteri. ‘’Kami bisa menyampaikan potensi daerah kami masing-masing agar pemerintah mengetahui langsung kekuatan pertanian di Papua.”

Ketua Komite Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, Velix Wanggai menilai, Gerakan Kembali Berkebun bukan sekadar gerakan ekonomi, juga upaya menghidupkan kembali identitas budaya masyarakat Papua yang selama ini memiliki keterikatan kuat dengan tanah adat dan komoditas lokal.

“Gerakan Kembali Berkebun bukan hanya gerakan ekonomi, juga gerakan budaya. Kita ingin menghidupkan kembali komoditas-komoditas lokal yang menjadi bagian dari budaya luhur masyarakat Papua, sekaligus menjadikan tanah adat sebagai sumber kesejahteraan bagi generasi sekarang dan masa depan,” kata Velix.

Velix menambahkan, setiap wilayah Papua memiliki keunggulan komoditas berbeda. Mulai dari ubi jalar di kawasan pegunungan, sagu di wilayah rawa, hingga kopi, kakao, pala, dan berbagai komoditas perkebunan lainnya.

Karena itu, pembangunan pertanian berbasis potensi lokal menjadi strategi yang tepat untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Mentan Amran berharap Gerakan Kembali Berkebun menjadi titik awal lahirnya generasi baru petani muda Papua yang mampu mengembangkan potensi daerahnya, memperkuat ketahanan pangan lokal, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan tetap menjaga nilai-nilai budaya dan kearifan lokal tanah Papua. 

Dengan semangat tersebut, Papua diharapkan tumbuh sebagai salah satu pusat kekuatan pertanian Indonesia di masa depan.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |