Mantan Wamenlu Minta Pemerintah Jelaskan Pasukan TNI di Gaza akan Kenakan Helm Biru atau tidak

19 hours ago 9

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Mantan Wakil Menteri Luar Negeri (Menlu) Indonesia Dino Patti Djalal kembali menagih penjelasan dari pemerintah perihal status pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang akan diterjunkan ke Jalur Gaza, Palestina. Dino mempertanyakan, perihal para prajurit TNI itu nantinya selama berada di wilayah jajahan zionis Israel itu, apakah mengenakan helm pelindung dengan warna biru seperti halnya Pasukan Perdamaian Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), atau tidak.

Dino mengatakan, partisipasi TNI di Gaza yang bergabung ke dalam Pasukan Stabilitas Internasional (ISF) bentukan Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian untuk Gaza bikinan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, harus tetap mengacu pada penggunaan atribut-atribut perdamaian yang selama ini mencirikan sebagai Pasukan Penjaga Perdamaian. “Sampai sekarang, publik belum dapat kejelasan apakah pasukan penjaga perdamaian Indonesia di Gaza akan gunakan blue helmets (helm biru) sebagaimana biasanya pasukan peacekeepers (penjaga perdamaian) Indonesia selama ini,” ujar Dino seperti dikutip dari akun media sosial (medsos) Twitter miliknya, Kamis (26/2/2026).

Mantan Duta Besar (Dubes) Indonesia di Washington itu menuntut penjelasan, dan kepastian penggunaan helm biru untuk pasukan-pasukan TNI itu nantinya. Karena menurutnya, tanpa menggunakan helm biru seperti halnya Pasukan Penjaga Perdamaian PBB selama ini, keberadaan ribuan prajurit TNI di Gaza nantinya bakal memunculkan polemik internasional yang lain. “Mohon dapat dipastikan dan dijelaskan, i'ts a significant difference (ini merupakan perbedaan yang sangat signifikan),” kata Dino. 

Persoalan keharusan prajurit-prajurit TNI yang akan diterjunkan ke Gaza menggunakan helm biru ini, pun sebetulnya bukan sekali ini dipertanyakan oleh Dino. Usai rapat perdana negara-negara anggota BoP di Washington, Kamis (19/22026) lalu, Dino pun pernah mempertanyakan hal serupa. Kata Dino ketika itu, Presiden Prabowo Subianto harus memastikan pasukan TNI di Gaza mengenakan helm biru sebagai identitas visual pada prajurit-prajurit TNI sebagai Pasukan Penjaga Perdamaian. 

Karena selama ini, partisipasi TNI dalam Pasukan Penjaga Perdamaian PBB mengenakan helm biru sebagai tanda netralitas dan perdamaian pasukan dari pihak ketiga yang sedang berada di wilayah konflik, atau zona perdamaian usai perang pihak-pihak lain. “Saya berpandangan, perlu ada kejelasan dari pemerintah apakah pasukan perdamaian Indonesia di Gaza, akan menggunakan helmet biru (blue helmet) sebagaimana biasanya Pasukan Perdamaian PBB. Kalau tidak, ini berarti pertama kalinya pasukan perdamaian Indonesia tidak menggunakan blue helmets, dan perlu dijelaskan kepada publik kenapa,” ujar Dino.

Dalam rapat perdana negara-negara anggota BoP di Washington pekan lalu, Presiden Prabowo memastikan untuk menyertakan sedikitnya 8.000 prajurit TNI dalam ISF. Pasukan ISF itu, nantinya akan dikerahkan ke Gaza dengan dalil untuk menjaga perdamaian atas nama BoP. Tercatat lebih dari 20 negara yang bergabung dalam BoP, namun cuma lima negara yang disetujui untuk mengerahkan militernya ke dalam ISF untuk menjaga zonasi di Gaza. Selain Indonesia, Maroko, Albania, dan Kazakhstan, serta Kosovo yang akan mengerahkan total 20 ribu tentara. 

Sementara AS, sebagai komandan tertinggi ISF, tak mengirimkan tentaranya bergabung ke Gaza untuk misi yang disebut perdamaian ini. Lalu AS malah menunjuk Indonesia sebagai wakil komandan ISF. Dan dari rapat perdana BoP pekan lalu itu, lima negara ISF sudah ditentukan zonasinya untuk pengerahan. 8.000 pasukan dari TNI dizonasikan untuk berada di wilayah Rafah. Markoko di wilayah Khan Younis, pasukan militer Albania di Deir al-Balaah, dan Kazakhstan di Kota Gaza, serta militer dari Kosovo di wilayah Gaza Utara. Adapun Mesir dan Yordania, dalam misi ISF diminta oleh BoP untuk mengerahkan 12 ribu personel kepolisian untuk penguatan peran Polisi Palestina di Gaza.

Pasukan ISF di bawah kendali BoP ini, diklaim sebagai realisasi Resolusi Dewan Keamanan (DK) PBB 2803 terkait dengan pembentukan pasukan perdamaian khusus untuk Gaza yang diterbitkan 2025 lalu. Akan tetapi keberadaan ISF ini banyak dikritik karena tak sesuai dengan mandat PBB sebagai Pasukan Penjaga Perdamaian. Karena beberapa misi keberadan pasukan internasional tersebut di Gaza, mendapat banyak penolakan. Pun keberadaan BoP yang diketuai oleh Donald Trump, menjadi objek kritik yang utama karena menyertakan entitas Israel, selaku penjajah di Gaza sebagai anggota. Terkait dengan mandat PBB, Pasukan Penjaga Perdamaian di wilayah merah, atau zona-zona konflik, selama ini wajib mengenakan helm biru sebagai identitas resmi sebagai gabungan militer resmi PBB.

Helm biru itu sendiri, mengacu pada bendera PBB dengan warna yang berarti perdamaian untuk seluruh dunia. Dalam laman resmi PBB, helm biru atau baret biru harus melekat pada semua pasukan dari seluruh negara anggota PBB yang mengirimkan militernya sebagai pihak ketiga di zona perang, atau konflik. Pasukan Penjaga Perdamaian PBB dengan helm atau baret biru bertugas untuk memelihara perdamaian di tapal batas zona perselisihan, atau perang, melindungi warga sipil dari penyerangan, dan membantu keamanan militer untuk pelaksanaan perjanjian perdamaian kedua negara yang sedang berperang, atau dalam masa gencatan senjata.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |