REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Bank Indonesia (BI) menyampaikan pembaruan pertumbuhan kredit perbankan yang tercatat masih bergerak single digit. BI terus mendorong penguatan pertumbuhan kredit perbankan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
“Kredit perbankan pada Maret 2026 tumbuh sebesar 9,49 persen (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit perbankan pada bulan sebelumnya sebesar 9,37 persen (yoy),” kata Gubernur BI, Perry Warjiyo, dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulan April 2026 yang diadakan secara daring, Rabu (22/4/2026).
Perry menerangkan, berdasarkan kelompok penggunaan, perkembangan tersebut didukung oleh kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi yang pada Maret 2026 masing-masing tumbuh sebesar 20,85 persen (yoy), 4,38 persen (yoy), dan 5,88 persen (yoy).
“Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit 2026 tetap terjaga pada kisaran 8—12 persen, dipengaruhi oleh sisi permintaan dan penawaran,” tuturnya.
Dari sisi permintaan, Perry menyebut pemanfaatan pembiayaan perbankan masih dapat ditingkatkan, terutama dengan mengoptimalkan fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan) yang masih cukup besar. BI mencatat angka undisbursed loan mencapai Rp 2.527,46 triliun atau 22,59 persen dari plafon kredit yang tersedia.
Adapun dari sisi penawaran, kapasitas pembiayaan bank tetap memadai, ditopang oleh rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 27,85 persen dan DPK yang masih tumbuh tinggi sebesar 13,55 persen (yoy) pada Maret 2026.
“Selain itu, minat penyaluran kredit perbankan tetap baik, tercermin dari persyaratan pemberian kredit (lending requirement) yang masih longgar, kecuali pada segmen kredit konsumsi dan UMKM akibat masih tingginya risiko kredit pada kedua segmen tersebut,” kata dia.
Ke depan, Perry memastikan BI akan terus memperkuat kapasitas pendanaan perbankan, termasuk pengembangan instrumen nontraditional funding (non-DPK) untuk mendukung penyaluran kredit perbankan. Koordinasi dengan Pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) juga terus diperkuat untuk memperbaiki struktur suku bunga dan mendorong pertumbuhan kredit atau pembiayaan perbankan tersebut.
Ketahanan Perbankan
Kendati pertumbuhan kredit perbankan masih stagnan di bawah 10 persen, Perry menyampaikan ketahanan perbankan tetap kuat untuk memitigasi risiko dampak dari perang Timur Tengah. Hal itu ditandai dengan likuiditas perbankan yang memadai, kapasitas permodalan yang terjaga pada level tinggi, dan risiko kredit yang tetap rendah.
Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan pada Februari 2026 tercatat tinggi sebesar 25,83 persen. Angka tersebut tergolong kuat dalam menyerap risiko dan mendukung pertumbuhan kredit.
Adapun rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) perbankan secara agregat tetap rendah sebesar 2,17 persen (bruto) dan 0,83 persen (neto) pada Februari 2026.
“Hasil stress test Bank Indonesia menunjukkan ketahanan perbankan tetap kuat dalam menghadapi berbagai risiko, termasuk dampak rambatan gejolak global dari perang Timur Tengah, ditopang oleh kemampuan bayar dan profitabilitas korporasi yang tetap terjaga,” ujar Perry.

21 hours ago
14













































