REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Perkembangan komputer kuantum atau quantum computing mulai menjadi perhatian industri kripto karena berpotensi memengaruhi sistem kriptografi yang menjadi fondasi keamanan aset digital. Meski teknologinya masih dalam tahap riset dan pengembangan, pelaku industri dinilai perlu mulai mempersiapkan kemampuan adaptasi terhadap perkembangan tersebut.
Chief Marketing Officer Indodax Aloysia Dian mengatakan, perkembangan komputer kuantum menjadi salah satu isu strategis yang perlu dipahami ekosistem blockchain, terutama berkaitan dengan keamanan kriptografi dan pengembangan infrastruktur.
“Pembahasan mengenai quantum computing perlu dipandang sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem blockchain yang semakin matang dan siap menghadapi perkembangan teknologi di masa depan,” kata Aloysia dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.
Menurut Aloysia, perkembangan teknologi selalu membawa tantangan sekaligus peluang. Potensi komputer kuantum terhadap sistem kriptografi pun telah menjadi perhatian komunitas global.
Meski demikian, ia menekankan komputer kuantum belum menjadi ancaman langsung terhadap blockchain saat ini. Risiko yang menjadi perhatian para peneliti dan pengembang lebih mengarah pada kemungkinan komputer kuantum di masa depan memiliki kemampuan memecahkan sistem kriptografi yang digunakan untuk mengamankan aset digital.
“Oleh karena itu, penting bagi seluruh pelaku industri untuk mulai memahami arah perkembangan ini agar ekosistem dapat beradaptasi secara bertahap melalui diskusi dan edukasi,” ujarnya.
Aloysia menjelaskan, perkembangan ekosistem blockchain selama satu dekade terakhir telah melahirkan berbagai inovasi. Ethereum, misalnya, menjadi fondasi bagi pengembangan decentralized finance (DeFi), NFT, aplikasi berbasis smart contract, hingga tokenisasi aset.
Seiring perkembangan tersebut, menurut dia, standar keamanan dan infrastruktur perlu terus diperkuat agar mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi.
Di sisi lain, komputer kuantum tidak hanya dipandang dari sisi risiko. Teknologi tersebut juga berpotensi mempercepat berbagai proses komputasi kompleks dan membuka peluang inovasi di berbagai sektor apabila telah mencapai tingkat kematangan tertentu.
Komunitas blockchain global, lanjut Aloysia, juga terus melakukan riset dan mengembangkan pendekatan baru untuk mempertahankan keamanan ekosistem seiring berkembangnya teknologi komputasi kuantum.
Ia menilai kesiapan menghadapi perubahan tersebut membutuhkan proses panjang, mulai dari riset, pengujian, pengembangan standar keamanan, hingga kolaborasi antarpelaku industri.
“Membangun ekosistem blockchain yang siap menghadapi era komputer kuantum bukanlah proses yang sederhana. Dibutuhkan waktu untuk riset dan pengujian, pengembangan standar keamanan baru, serta kolaborasi lintas ekosistem agar transisi dapat dilakukan secara bertahap dan tetap menjaga kepercayaan pengguna,” katanya.
Indodax, lanjut Aloysia, mendorong peningkatan literasi dan diskusi mengenai masa depan blockchain dan kriptografi melalui forum ETH Genesis: Quantum Leap. Forum tersebut membahas implikasi teknologi komputasi kuantum terhadap blockchain, kesiapan ekosistem, serta kolaborasi dalam membangun fondasi teknologi jangka panjang.
Menurut Aloysia, pembahasan mengenai industri aset kripto juga perlu diperluas agar tidak hanya berfokus pada pergerakan harga, tetapi mencakup perkembangan teknologi dan sistem keamanan yang menopang industri.
“Edukasi, riset, serta kolaborasi dinilai menjadi kunci untuk membangun ekosistem aset digital Indonesia yang semakin matang, aman, dan berkelanjutan,” ujarnya.
sumber : Antara

17 hours ago
6

















































