REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA – Peran perempuan sebagai salah satu pilar utama dalam keluarga semakin besar tantangannya di era digital saat ini. Hal ini diungkapkan dalam pembukaan Rapat Kerja Nasional Aliansi Perempuan Peduli Indonesia (Alppind) yang berlangsung di Tavia Heritage Hotel, Jakarta Pusat pada Jumat, 8 Mei 2026.
Alppind adalah organisasi kemasyarakatan yang menjadi wadah bagi sejumlah perempuan profesional lintas sektor. Berdiri sejak 2018, Alppind memiliki visi dan misi besar untuk membangun dan menguatkan ketahanan keluarga menuju masyarakan yang bermartabat. Alppind juga merupakan salah satu dari 40 ormas Islam anggota federasi yang bergabung dalam BMIWI.
Rakernas Alppind kali ini mengusung tema “Penguatan Peran Perempuan dalam Membangun Ketahanan Keluarga dan Bangsa di Era Digital”. Pemilihan tema terkait dunia digital dianggap penting karena saat ini para orang tua, khususnya para Ibu mendapatkan tantangan yang luar biasa dengan semakin terbukanya keran informasi bagi keluarga lewat dunia digital.
“Perempuan berperan besar dalam menjaga kesehatan keluarga, pendidikan anak, hingga menopang perekonomian keluarga. Alppind bisa menjadi ruang untuk kolaborasi dan sinergi,” kata Arifah Choiri Fauzi, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang bertindak sebagai keynote speaker sekaligus membuka Rakernas Alppind 2026.
Data BPS terakhir menunjukkan populasi masyarakat Indonesia 49,8% adalah perempuan. Karenanya perempuan bukan kelompok minortas. “Dengan peningkatan kapasitas diri perempuan di era digtal ini kita bisa mewujudkan Indonesia sebagai ruang bersama yang ramah anak dan perempuan,” kata Menteri PPPA.
Literasi digital untuk perempuan jadi keharusan, dengan perempuan sebagai sosok pendidik di keluarga. Lewat dunia digital, informasi dan ilmu terbuka luas. Tapi di sisi lain bisa menjadi sumber anak-anak terpapar konten-konten negatif.
“Keluarga dan masyarakat diharapkan dapat berperan aktif dalam menciptakan ruang digital yang aman, sehat, dan produktif bagi anak serta perempuan. Khususnya dalam upaya perlindungan perempuan dan anak di era digital, terutama dalam hal pencegahan tindak kekerasan seksual dan penggunaan media sosial yang tak bijak,” kata Menteri PPPA.
Tercatat pada 2025, telah terjadi 35. 131 kasus kekerasan, dengan 30 ribu sekian korbannya adalah anak dan perempuan. Lebih lanjut 1 dari 4 perempuan Indonesia pernah alami kekerasan dalam hidupnya dengan kasus terbanyak adalah kekerasan seksual dalam keluarga seperti diantaranya kasus incest.
Salah satu faktor pemicunya adalah penggunaan medsos tak bijak. Pemerintah sendiri telah bergerak melakukan pencegahan kasus-kasus serupa dengan PP Tunas No. 17/2025 yang mengatur penggunaan media sosial untuk anak-anak di bawah umur.
Ketua Presidium Badan Musyawarah Islam Wanita Indonesia, Dr. Iin Kendedes,M.Pd menyambut hangat penyelenggarkan Rakernas Alppind.
“Untuk keluarga yang maju kita harus membangun ketahanan keluarga yang kuat di era digital ini. Keluarga tangguh muncul dari wanita yang tangguh sebagai pendidik anak untuk kemajuan bangsa. Kita perlu perempuan yang berdaya dan anak yang terlindungi menuju Indonesia emas 2045” kata Iin Kendedes. Menurutnya perempuan Indonesia harus mulai adaptif terhadap teknologi, media online, bermanfaat untuk kemajuan Indonesia.
Seiring dengan paparan Menteri PPPA dan Ketua Presidium BMIWI, Ketua Umum ALPPIND
DR. (HC) Atifah Hasan, Lc., menyebutkan Rakernas Alppind dinilai memiliki makna strategis sebagai wadah penyusunan dan penyepakatan visi dan misi program kerja organisasi di era transformasi digital.
“Perempuan memiliki peran penting dalam menghadapi berbagai tantangan sosial, mental, dan ancaman digital sehingga perlu terus diperkuat sebagai tiang peradaban bangsa,” kata Atifah Hasan.
Dalam sambutannya Ketua Panitia Rakernas Alppind, Hani Hendayani, SE melaporkan bahwa dalam acara yang akan berlangsung pada 8-10 Mei 2026 ini, hadir sebanyak 24 perwakilan dari 32 delegasi pengurus daerah Alppind. “Kami sangat mengapresiasi kehadiran perwakilan pengurus daerah yang telah berupaya hadir dalam acara penting ini di tengah kondisi saat ini” kata Hani Hendayani.

10 hours ago
10















































