REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Sudah sekitar delapan tahun, Bank Indonesia (BI) menginisiasi Local Currency Transaction/LCT (gubahan dari Local Currency Settlement/LCS) sebagai upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS. Implementasi LCT terbukti terus berkembang, bahkan meningkat hingga lebih dari 70 kali lipat dalam sewindu terakhir, memberi gambaran perwujudan kedaulatan keuangan, di tengah kondisi ketidakpastian global.
Berdasarkan data yang dihimpun Republika, nilai transaksi LCT pada awal peluncurannya di tahun 2018 tercatat sebesar 348 juta dolar AS. Kemudian melonjak lebih dari 100 persen menjadi 760 juta dolar AS pada 2019. Angkanya terus berkembang dari tahun ke tahun, hingga pada 2025 berhasil menembus nominal 25,66 miliar dolar AS, atau 74 kali lipat dibandingkan pertama kali diluncurkan.
Bahkan, selama lima bulan pertama tahun 2026, angkanya sudah melampaui total nilai transaksi di sepanjang 2025. BI mencatat, jumlah ransaksi LCT pada Januari—Mei 2026 mencapai 32,89 miliar dolar AS atau sekitar Rp 592 triliun (kurs Rp 18.000 per dolar AS).
Peningkatan nilai transaksi LCT sejalan dengan upaya BI memperluas kerja sama dengan berbagai negara. Pada 2018, implementasi LCT dimulai lewat kerja sama dengan Malaysia dan Tailan. Kemudian pada 2019, kerja sama implementasi LCT dilakukan dengan Jepang, disusul China pada 2021. Lantas, pada 2024, dua negara bergabung pula, yakni Korea Selatan dan Uni Emirat Arab (UEA). Sehingga, jumlah negara mitra aktif pengimplementasian LCT yakni sebanyak enam negara. BI kini sedang memperluas LCT ke berbagai negara lain, seperti Singapura, India, dan Arab Saudi.
Data-data tersebut menunjukkan LCT semakin diterima oleh pelaku usaha sebagai alternatif penyelesaian transaksi internasional tanpa bergantung pada dolar AS. Para pelaku usaha memang mengakui manfaatnya, terlebih di tengah dinamika global yang penuh dengan ketidakpastian.
Salah satunya diungkapkan oleh pengusaha Indonesia Moelyono Soesilo, yang merupakan CEO PT Sumber Kurnia Alam, pemasok dan eksportir komoditas pertanian yang berfokus pada komoditas kopi. Moelyono mengungkapkan, perusahaannya sudah menggunakan LCT sejak tahun lalu, dan telah mencatatkan peningkatan pemanfaatan LCT dalam setahun terakhir.
Menurutnya, kehadiran LCT menjadi alternatif transaksi yang sangat membantu mempermudah proses sistem pembayaran tanpa harus menukarkan dengan dolar AS terlebih dahulu. Cukup dengan mata uang dari kedua negara yang terlibat dalam aktivitas ekspor-impor. Hal itu dinilai lebih efektif sekaligus menekan biaya, di tengah kondisi pasar keuangan yang sangat fluktuatif akibat ketidakpastian geopolitik dan geoekonomi.
“Kita tahu sendiri bahwa dolar AS sekarang kondisinya kan sedang berfluktuasi, jadi kalau kita dengan mata uang lain, bisa lebih stabil, enggak mengalami naik turun yang terlalu ekstrem seperti saat ini,” kata Moelyono saat dihubungi Republika, Jumat (31/7/2026).
Lebih lanjut, ia menerangkan, dengan adanya LCT, eksportir seperti dia bisa melakukan diversifikasi mata uang. Sehingga, hal itu lebih mampu menekan risiko dari pergerakan dolar AS yang tengah bergejolak. LCT sendiri juga bisa dilakukan tanpa hedging (lindung nilai) karena menggunakan transaksi pasar spot langsung, sehingga pengusaha bisa memanajemen risiko dengan lebih baik.
“Kan pergerakan dolar AS bisa ke Rp 18.100 atau Rp 18.200, ini kalau tidak ada LCT kan kita harus manaj (manajemen) risikonya, ini yang kadang-kadang kita kesusahan. Dengan adanya LCT kita terbantukan untuk manaj risiko kita,” terangnya.
Menurut perhitungannya, manfaat penggunaan LCT bisa menciptakan selisih sekitar 1—2 persen dibandingkan menggunakan dolar AS. Meskipun terkesan kecil, hal itu diakui bisa membantu memperlancar cash flow perusahaan.
“Bisa pengaruh sekitar 1—2 persen, itu membuat perputaran cash flow kita bisa lebih cepat,” ungkapnya.

2 hours ago
7

















































