Ilmuwan Singapura Temukan Cara Daur Ulang Kemasan Plastik Campuran

17 hours ago 13

REPUBLIKA.CO.ID, SINGAPURA -- Ilmuwan dari Nanyang Technological University (NTU) Singapura mengembangkan metode baru untuk mendaur ulang kemasan plastik campuran tanpa menggunakan pelarut kimia berbahaya. Teknologi ini dinilai dapat membuka peluang pengolahan limbah plastik multilapis yang selama ini sulit didaur ulang dan sebagian besar berakhir di tempat pemrosesan akhir atau insinerator.

Tim peneliti dari School of Materials Science and Engineering dan Nanyang Environment and Water Research Institute (NEWRI) memperkenalkan metode yang dinamakan depolymerisation-induced polymer separation (DIPS). Teknologi ini bekerja dengan memecah secara selektif jenis plastik tertentu dalam kemasan campuran, sementara material yang masih dapat didaur ulang tetap dipertahankan sehingga lebih mudah diproses kembali.

Kemasan plastik multilapis banyak digunakan pada produk makanan seperti makanan ringan dan mi instan karena memiliki daya tahan tinggi dan mampu menjaga kualitas produk. Namun, kombinasi beberapa jenis plastik yang direkatkan dalam satu kemasan membuat material tersebut sulit dipisahkan dan didaur ulang.

Direktur Program NEWRI sekaligus ketua penelitian, Hu Xiao mengatakan, penggunaan kemasan plastik campuran terus meningkat, sementara teknologi daur ulang yang efisien dan aman masih terbatas.

“Kami melihat semakin banyak kemasan plastik campuran yang digunakan pada produk makanan sehari-hari, tapi untuk mendaur ulangnya secara efisien dan aman masih menjadi tantangan besar, tim kami berupaya mengatasi hal ini dengan mengembangkan cara praktis dan terukur untuk memisahkan material ini tanpa menggunakan pelarut berbahaya," kata Hu Xiao dalam pernyataannya, Rabu (3/6/2026).

Peneliti lainnya, Lian Yen Nan menjelaskan, salah satu tantangan terbesar industri daur ulang saat ini adalah minimnya teknologi yang layak untuk mengolah plastik campuran. Karena itu, penelitian tersebut difokuskan untuk menghasilkan solusi yang dapat diterapkan secara nyata oleh industri.

Metode DIPS memanfaatkan teknik reactive extrusion, yakni proses yang menggunakan mesin extruder yang umumnya dipakai untuk melelehkan dan membentuk plastik. Dalam metode ini, mesin tersebut difungsikan sebagai reaktor kimia.

Saat limbah plastik campuran diproses, plastik jenis poly (ethylene terephthalate) atau PET bereaksi dengan gliserol, bahan kimia yang relatif murah dan mudah diperoleh. Reaksi tersebut memecah PET menjadi molekul yang lebih kecil sehingga sifat fisik dan kimianya berubah.

Perubahan tersebut membuat PET terpisah secara alami dari polypropylene (PP) yang juga banyak digunakan dalam kemasan plastik. Pemisahan terjadi karena perbedaan polaritas dan viskositas kedua material selama proses berlangsung.

Seluruh proses dilakukan pada tekanan normal dan tanpa menggunakan pelarut kimia. Kondisi ini membuat metode DIPS dinilai lebih aman dan berpotensi menekan biaya dibandingkan teknologi daur ulang kimia konvensional.

Dalam pengujian laboratorium, plastik PP hasil pemisahan mampu mempertahankan hingga 90 persen kekuatan tarik dibandingkan material baru. Ketika diterapkan pada sampel limbah industri, kualitas material yang dihasilkan juga disebut lebih baik dibandingkan metode daur ulang mekanis konvensional.

Sementara itu, material PET hasil proses tidak langsung digunakan kembali sebagai kemasan, namun masih memiliki nilai ekonomi karena dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku produk bernilai tambah tinggi, termasuk material pengganti epoksi untuk bilah turbin angin atau diolah kembali menjadi monomer pembentuk polimer baru.

Tim peneliti meyakini metode DIPS dapat diterapkan pada berbagai kombinasi plastik campuran lainnya dan diperluas ke skala industri menggunakan mesin extrusion yang telah banyak digunakan di pabrik saat ini.

Penulis utama penelitian sekaligus mahasiswa doktoral NTU, Kathirvel Periasamy mengatakan, teknologi tersebut dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara penelitian laboratorium dan kebutuhan industri.

"Proses kami mencoba menjembatani kesenjangan antara penelitian laboratorium dan aplikasi industri, dengan menyederhanakan pemisahan dan menghilangkan zat pelarut, kami bertujuan membuat daur ulang plastik lebih layak secara ekonomi dan berkelanjutan bagi lingkungan," kata Kathirvel.

Para peneliti memperkirakan, apabila limbah plastik campuran dapat didaur ulang secara efisien dalam skala besar, potensi nilai ekonomi yang tercipta secara global dapat mencapai lebih dari 250 miliar dolar AS atau sekitar Rp4.000 triliun per tahun. Untuk tahap selanjutnya, tim peneliti berencana bekerja sama dengan mitra industri guna menguji teknologi tersebut pada skala produksi yang lebih besar.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |