Margie A.H
Pendidikan dan Literasi | 2026-08-18 14:32:06
Belakangan, satu kata semakin sering muncul dalam percakapan para orang tua: gifted.
Di media sosial, orang tua berbagi pengalaman tentang anak yang sejak kecil cepat menangkap konsep, mengajukan pertanyaan yang tidak biasa, memiliki minat yang sangat mendalam, berpikir kritis, atau justru mengalami kesulitan beradaptasi dengan pola belajar yang seragam.
Fenomena ini menarik. Namun, menurut saya, yang lebih penting bukanlah semakin banyaknya anak yang disebut gifted. Yang lebih penting adalah semakin banyak orang tua mulai menyadari bahwa anak-anak tidak selalu berkembang dengan cara yang sama.
Kesadaran tersebut perlu disambut, tetapi juga perlu disertai literasi.
Giftedness bukan sekadar anak pintar, nilai tinggi, atau IQ yang tinggi. Dalam bidang gifted education sendiri tidak terdapat satu definisi tunggal yang digunakan secara universal. National Association for Gifted Children (NAGC), misalnya, memandang anak gifted sebagai anak yang memiliki atau menunjukkan kemampuan untuk tampil pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan teman sebaya dalam satu atau lebih domain dan membutuhkan penyesuaian pengalaman pendidikan agar potensinya berkembang.
Karena itu, anak yang banyak bertanya belum tentu gifted. Anak yang cepat belajar belum tentu gifted. Demikian pula anak yang sensitif, perfeksionis, kritis, atau mudah bosan tidak otomatis dapat disebut gifted hanya berdasarkan perilaku tersebut.
Namun ada sisi lain yang juga perlu dipahami.Anak gifted tidak selalu tampak sebagai anak berprestasi sempurna.
Perspektif asynchronous development yang dikembangkan oleh Columbus Group, yang salah satu tokohnya adalah psikolog Linda Kreger Silverman, melihat giftedness dari sisi pengalaman anak. Gagasan utamanya adalah bahwa perkembangan anak gifted dapat berlangsung tidak serempak: kemampuan kognitifnya dapat berkembang jauh lebih cepat dibandingkan perkembangan sosial, emosional, fisik, atau aspek lainnya.
Perspektif ini membantu menjelaskan mengapa seorang anak dapat memahami persoalan yang sangat kompleks, tetapi pada saat yang sama masih membutuhkan pendampingan emosional sesuai usianya.
Seorang anak bisa mampu memahami konsep abstrak tetapi belum mampu mengelola frustrasi dengan matang. Ia bisa sangat kritis terhadap ketidakadilan, tetapi belum mempunyai kemampuan sosial untuk menyampaikan keberatannya dengan cara yang diterima lingkungan.
Bukan berarti setiap anak gifted pasti demikian. Namun, memahami kemungkinan adanya perkembangan yang tidak sinkron membuat kita lebih berhati-hati dalam memberikan label “nakal”, “terlalu sensitif”, “susah diatur”, atau sebaliknya “sudah pintar sehingga tidak perlu banyak dibantu”.
Di sinilah persoalan pendidikan menjadi penting.Selama ini kita sering membayangkan pendidikan yang baik sebagai pendidikan yang mampu membuat semua anak mencapai standar yang sama. Padahal, anak dengan kemampuan dan kebutuhan yang berbeda mungkin membutuhkan jalan belajar yang berbeda pula.
NAGC (National Association for Gifted Children) menegaskan bahwa identifikasi gifted sebaiknya tidak bergantung pada satu tes pada satu waktu. Berbagai informasi mengenai potensi dan performa anak dapat digunakan, termasuk asesmen formal, observasi, portofolio, serta informasi dari orang tua dan guru.
Artinya, tes IQ dapat menjadi informasi penting, tetapi bukan keseluruhan cerita seorang anak.
Hal ini sekaligus menjadi pengingat bagi orang tua. Ketika pembicaraan tentang gifted semakin ramai, jangan sampai kita justru terjebak dalam perlombaan angka.
“Berapa IQ anakmu?”
“Masuk persentil berapa?”
“Apakah sudah ikut program gifted?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mudah menggeser tujuan awal dari identifikasi.
Padahal pertanyaan yang lebih penting adalah: “Setelah kita memahami potensinya, apa yang perlu kita lakukan?”
Identifikasi seharusnya menjadi pintu menuju pemahaman dan layanan pendidikan yang lebih sesuai, bukan tujuan akhir. NAGC menempatkan kebutuhan pendidikan anak sebagai bagian penting dari proses identifikasi dan pengembangan potensi.
Di titik ini, keluarga dan sekolah memiliki peran yang sama-sama penting. Orang tua adalah pihak yang sering menyaksikan perkembangan anak dalam rentang waktu panjang. Guru melihat anak dalam konteks pembelajaran dan interaksi sosial. Psikolog dapat memberikan perspektif profesional melalui asesmen. Ketiganya seharusnya tidak berdiri sendiri.
Kita juga perlu mengingat bahwa potensi bukan prestasi. Anak dengan kemampuan tinggi belum tentu otomatis menjadi ilmuwan, penemu, pemimpin, seniman, atau profesional hebat. Potensi membutuhkan kesempatan, pendidikan, lingkungan, latihan, motivasi, dan pengalaman untuk berkembang menjadi talenta.
Karena itu, anak gifted tidak membutuhkan tekanan untuk selalu menjadi yang terbaik. Mereka membutuhkan kesempatan untuk menemukan apa yang mampu membuat mereka bertumbuh.
Sebagai orang tua yang berusaha memahami giftedness secara lebih utuh, saya tidak hanya mengandalkan pengalaman pribadi maupun percakapan di media sosial. Saya mengikuti webinar edukasi yang diselenggarakan oleh Parents Support Group for Gifted Children (PSGGC).
Dalam webinar “Mengenali Gifted, Aset Bangsa yang Masih Tersembunyi” pada 11 April 2026, saya mengikuti paparan Patricia Lestari Taslim, S.Pd., M.Pd., Founder PSGGC Jogja, tentang “Anak Gifted dan Cara Memahaminya”; dr. Irnova Suryani, Pendiri Otak Anak Indonesia, tentang “Cara Berpikir Otak Gifted dan Realitas Perkembangan Riset Ilmiah Giftedness dari Masa ke Masa, Apa yang Bisa Dipetik?”; serta Fabiola Audrey Najoan, M.Psi., Psikolog, tentang “Menjembatani Komunikasi Orangtua/Guru dengan Anak dan Remaja Gifted”. Dari rangkaian pembelajaran tersebut, saya semakin memahami bahwa giftedness jauh lebih kompleks daripada sekadar angka IQ.
Dalam konteks masyarakat kita, saya melihat ramainya pembicaraan tentang gifted sebagai peluang untuk membangun percakapan yang lebih dewasa. Bukan tentang siapa yang anaknya paling pintar. Bukan tentang siapa yang memiliki skor IQ paling tinggi. Dan bukan pula tentang membagikan label sebagai simbol keberhasilan orang tua.
Kita perlu menggeser pertanyaannya menjadi: apakah kita sudah cukup mampu mengenali potensi anak-anak kita, termasuk potensi yang belum terlihat dalam nilai rapor?
Sebab setiap potensi adalah amanah. Amanah bukan untuk dipamerkan, tetapi untuk dirawat dan dikembangkan.Jika seorang anak membutuhkan tantangan intelektual yang lebih dalam, berikan ruang untuk bertanya dan mengeksplorasi. Jika ia membutuhkan dukungan sosial-emosional, jangan abaikan hanya karena kemampuan kognitifnya tinggi. Jika ia belum menunjukkan prestasi, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa potensinya tidak ada.
Dan jika seorang anak memang memiliki kemampuan yang luar biasa, jangan berhenti pada sebuah label.
Bantu ia menjadi manusia yang mampu menggunakan kemampuannya untuk sesuatu yang bermakna.
Mungkin inilah cara paling sehat melihat fenomena gifted yang semakin ramai dibicarakan.
Gifted bukan tren.
Gifted bukan medali.
Gifted bukan sekadar angka IQ.
Gifted adalah salah satu bentuk keragaman potensi manusia yang menuntut kita untuk belajar melihat anak secara lebih utuh.
Sebab tugas pendidikan bukan membuat semua anak menjadi sama.
Tugas pendidikan adalah membantu setiap anak menjadi versi terbaik dari dirinya dan suatu hari menggunakan potensi itu untuk memberi manfaat bagi sesama.
REFERENSI ILMIAH
National Association for Gifted Children. (n.d.). What Is Giftedness? NAGC.
National Association for Gifted Children. (n.d.). Identification. NAGC.
National Association for Gifted Children. (n.d.). Assessments & Tests. NAGC.
Renzulli, J. S. (1978). What makes giftedness? Re-examining a definition. Phi Delta Kappan, 60(3), 180–184.
Renzulli, J. S. (1999). What is this thing called giftedness, and how do we develop it? A twenty-five year perspective. Journal for the Education of the Gifted, 23(1), 3–54.
Renzulli, J. S. (2016). The Three-Ring Conception of Giftedness: A Developmental Model for Promoting Creative Productivity. In S. M. Reis (Ed.), Reflections on Gifted Education.
Renzulli, J. S., & Reis, S. M. (2021). The three-ring conception of giftedness: A change in direction from being gifted to the development of gifted behaviors. In R. J. Sternberg & D. Ambrose (Eds.), Conceptions of Giftedness and Talent.
Morelock, M. J. (1995). Giftedness: The view from within. Understanding Our Gifted, 7(2), 1–4.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

1 hour ago
7









































