
Oleh: Lela Kania Rahsa Puji, SKM., MKM, Mahasiswi Program Doktoral Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Jakarta
REPUBLIKA.CO.ID, Indonesia tidak sedang berhadapan dengan satu masalah gizi. Negeri ini memanggul tiga beban sekaligus yaitu anak-anak yang kekurangan gizi, orang dewasa yang makin banyak mengalami obesitas, dan masyarakat miskin yang masih dihantui infeksi parasit akibat sanitasi buruk. Tiga masalah itu berjalan beriringan, saling menindih, dan perlahan menjadi krisis kesehatan publik yang tidak bisa lagi hanya ditangani dengan cara biasa.
Selama bertahun-tahun, percakapan tentang gizi di Indonesia nyaris selalu berpusat pada stunting. Hal tersebut tidak keliru, karena stunting memang masih menjadi luka serius dalam pembangunan kesehatan Indonesia.
Data Survei Status Gizi Indonesia tahun 2024 menunjukkan prevalensi stunting nasional berada di angka 21,6 persen pada 2022, turun menjadi 21,5 persen pada 2023, lalu kembali menurun menjadi 19,8 persen pada 2024. Penurunan ini patut dicatat, tetapi belum cukup untuk dirayakan secara berlebihan. Artinya, sekitar satu dari lima balita Indonesia masih tumbuh dalam kondisi tidak optimal.
Bahkan di beberapa wilayah, masalahnya jauh lebih berat. NTT dan sejumlah daerah di Papua masih mencatat angka stunting yang melampaui 35 persen. Ini bukan sekadar statistik. Di balik angka itu ada anak-anak yang kehilangan kesempatan untuk tumbuh maksimal, keluarga yang hidup dalam keterbatasan pangan bergizi, dan negara yang berisiko kehilangan kualitas generasi masa depannya.
Namun stunting hanyalah satu sisi dari persoalan. Pada saat yang sama, Indonesia juga mulai menyaksikan wajah lain dari krisis gizi yaitu kelebihan berat badan sejak usia dini. Dalam SSGI 2024, prevalensi wasting pada balita tercatat 6,2 persen, severely wasting 1,2 persen, dan overweight serta obesitas mencapai 3,4 persen. Dengan kata lain, sebagian anak Indonesia kekurangan gizi akut, sementara sebagian lainnya mulai mengalami kelebihan berat badan. Dua masalah yang tampak berlawanan ini hidup dalam satu ekosistem kesehatan yang sama.
Prevalensi Obesitas Orang Dewasa
Krisis makin kompleks ketika melihat kondisi orang dewasa. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi obesitas pada penduduk usia di atas 18 tahun meningkat dari 21,8 persen pada 2018 menjadi 23,4 persen pada 2023.
Hampir satu dari empat orang dewasa Indonesia kini hidup dengan obesitas. DKI Jakarta mencatat prevalensi tertinggi sebesar 31,8 persen, disusul Papua 31,3 persen dan Sulawesi Utara 30,6 persen.
Obesitas bukan perkara bentuk tubuh, dia adalah pintu masuk menuju berbagai penyakit tidak menular, seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung, dan gangguan metabolik lainnya. Masalahnya, banyak penyakit itu tidak terdeteksi.
SKI 2023 mencatat prevalensi hipertensi berdasarkan diagnosis dokter hanya 8,6 persen, tetapi berdasarkan pengukuran tekanan darah mencapai 30,8 persen. Artinya, banyak orang hidup dengan tekanan darah tinggi tanpa mengetahui kondisi apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam tubunya.
Hal serupa terjadi pada diabetes. Prevalensi berdasarkan diagnosis dokter pada penduduk usia 15 tahun ke atas sebesar 2,2 persen, tetapi berdasarkan pemeriksaan gula darah mencapai 11,7 persen.
Inilah ironi kesehatan publik Indonesia. Di satu sisi, sebagian anak belum mendapat cukup zat gizi untuk tumbuh. Di sisi lain, pola konsumsi tinggi gula, garam, lemak, serta makanan ultra proses mendorong peningkatan obesitas dan penyakit tidak menular. Tubuh-tubuh Indonesia sedang ditarik oleh dua kutub yaitu kekurangan dan kelebihan yang sama-sama memiliki potensi resiko kesehatan.
Tetapi ada beban ketiga yang sering luput dari pembicaraan nasional yaitu infeksi parasit usus. Masalah ini bekerja diam-diam, terutama di wilayah dengan sanitasi buruk. Infeksi cacing dan protozoa tidak hanya menyebabkan diare. Ia dapat mengganggu penyerapan nutrisi, menurunkan nafsu makan, memicu kehilangan zat besi, serta memperparah kekurangan gizi.
Sebuah studi di Kabupaten Bandung terhadap anak usia 24-59 bulan menemukan 11,5 persen anak terinfeksi soil transmitted helminths atau cacing yang ditularkan melalui tanah. Studi lain di Pulau Sumba menemukan prevalensi infeksi protozoa usus sebesar 20 persen dari 291 sampel anak. Angka ini menunjukkan bahwa infeksi parasit bukan masalah masa lalu. Ia masih hadir di tengah masyarakat, terutama ketika akses air bersih dan sanitasi layak belum merata.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

17 hours ago
13
















































