Bank Dunia Turunkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, Rupiah Tertekan

8 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Nilai tukar rupiah masih bergerak di atas Rp 17.000 per dolar AS di tengah kondisi ketidakpastian global akibat perang di Timur Tengah yang terus bergulir. Pelemahan rupiah turut dipengaruhi oleh outlook Bank Dunia yang menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 4,7 persen.

Mengutip Bloomberg, rupiah melemah 78 poin atau 0,46 persen menuju level Rp 17.090 per dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis (9/4/2026). Pada perdagangan sebelumnya, rupiah berada di posisi Rp 17.012 per dolar AS.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi berpandangan adanya sentimen, baik internal maupun eksternal, yang memengaruhi tertekannya nilai tukar rupiah. Sentimen internal di antaranya adalah proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang melambat pada tahun ini.

“Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 sebesar 4,7 persen, turun dari perkiraan sebelumnya 4,8 persen,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Kamis (9/4/2026).

Meski direvisi turun, angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan proyeksi pertumbuhan kawasan Asia Timur dan Pasifik (East Asia and Pacific/EAP) yang hanya 4,2 persen.

“Prospek ekonomi kawasan dipengaruhi tiga faktor eksternal utama, yakni konflik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga energi, pembatasan perdagangan di Amerika Serikat serta ketidakpastian kebijakan global, dan perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI),” terangnya.

Sebelumnya, OECD memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026. Pertumbuhan diperkirakan berada di level 4,8 persen dari sebelumnya 5 persen. Revisi tersebut muncul di tengah tekanan global yang meningkat, terutama akibat lonjakan harga energi dan ketegangan geopolitik.

Pesimisme Bank Dunia dan OECD berbanding terbalik dengan pemerintah yang optimistis memproyeksikan ekonomi 2026 tumbuh kuat di kisaran 5,4–5,7 persen, didorong oleh konsumsi domestik, investasi, dan program biodiesel B50, dengan optimisme mencapai 6 persen melalui transformasi struktural. Fokusnya adalah kedaulatan pangan dan energi, kebijakan fiskal pruden, serta percepatan investasi untuk menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian global.

Sentimen Eksternal

Sentimen eksternal yang memengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah tidak lain adalah dinamika perang di Timur Tengah antara Iran melawan AS-Israel, terutama dampak dari penutupan Selat Hormuz.

“Gangguan di Selat Hormuz terus berlanjut dan ketegangan geopolitik yang kembali meningkat di Timur Tengah mengaburkan prospek pasokan, karena jalur penting yang membawa sekitar seperlima pasokan minyak global sebagian besar tetap terblokir meskipun ada gencatan senjata sementara antara AS dan Iran. Pergerakan kapal yang terbatas dan terkontrol ketat telah dilanjutkan, tetapi gangguan pengiriman tetap ada, dengan Iran mempertahankan kendali signifikan atas transit dan akses, menurut laporan,” terang Ibrahim.

Ia menyebut sentimen pasar semakin terganggu oleh meningkatnya serangan Israel di Lebanon yang berisiko merusak gencatan senjata yang rapuh. Laporan menunjukkan jalur kapal tanker melalui selat dihentikan setelah serangan tersebut, meskipun pejabat AS memberi sinyal tanda-tanda awal pembukaan kembali sebagian.

Adapun Iran mengatakan pembicaraan damai dengan AS akan “tidak masuk akal” setelah serangan terbaru, dengan alasan bahwa serangan tersebut melanggar ketentuan gencatan senjata yang baru diumumkan.

“Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan dengan Iran, yang memicu harapan akan dibukanya kembali Selat Hormuz dan mengurangi hambatan pasokan. Namun, para analis memperingatkan bahwa gangguan struktural pada rantai pasokan dan infrastruktur di seluruh wilayah tersebut dapat memakan waktu berbulan-bulan untuk diperbaiki,” jelasnya.

Sementara itu, lanjut Ibrahim, menurut risalah FOMC bulan Maret yang dirilis pada Rabu, para pejabat The Fed masih memperkirakan akan menurunkan suku bunga tahun ini, bahkan di tengah tingkat ketidakpastian yang tinggi akibat perang Iran dan kebijakan tarif. Para pembuat kebijakan menyatakan perlu tetap “gesit” saat mempertimbangkan dampak perang terhadap inflasi yang masih berada di atas target The Fed, serta perekrutan tenaga kerja yang sebagian besar stagnan selama setahun terakhir.

Berdasarkan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih akan melanjutkan pelemahan pada perdagangan selanjutnya, Jumat (10/4/2026).

“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.090–Rp 17.140 per dolar AS,” tutupnya.

sumber : Antara

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |