Rafles
Bisnis | 2026-06-19 02:51:55
Masih Layakkah Emas Disebut Sebagai Aset Safe Haven?
Emas sudah dikenal sebagai safe haven atau aset yang sering dipilih untuk melindungi nilai kekayaan sejak ratusan tahun lalu. Banyak orang melihat emas sebagai tempat menyimpan aset ketika terjadi kondisi yang tidak pasti, seperti krisis ekonomi, inflasi, perang, atau situasi politik yang tidak stabil. Hal ini karena emas memiliki nilai yang relatif bertahan dan tidak bergantung langsung pada kondisi suatu negara maupun perusahaan.
Di Indonesia, salah satu harga emas yang sering menjadi perhatian masyarakat adalah emas batangan Antam. Pergerakan harga emas ini dipengaruhi oleh harga emas dunia, nilai tukar rupiah, serta kondisi ekonomi global. Pada 29 Januari 2026, harga emas Antam sempat mencatat rekor tertinggi sepanjang masa (All Time High/ATH) dengan harga sekitar Rp3,168 juta per gram. Kenaikan tersebut terjadi karena adanya kekhawatiran terhadap ekonomi global, ketidakpastian pasar, dan berbagai masalah geopolitik yang membuat investor kembali melirik emas.
Selain konflik global, kebijakan ekonomi seperti penerapan tarif perdagangan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump beberapa bulan lalu juga ikut memengaruhi pasar. Kebijakan tersebut membuat munculnya kekhawatiran terhadap hubungan perdagangan antarnegara, perlambatan ekonomi, dan perubahan arah investasi. Dalam kondisi seperti ini, sebagian investor memilih aset yang dianggap lebih aman, termasuk emas. Namun, harga emas tetap tidak bergerak sendiri karena masih dipengaruhi oleh faktor lain seperti suku bunga, nilai dolar Amerika Serikat, dan kondisi ekonomi dunia.
Ketika terjadi konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat sebelum diumumkannya perjanjian damai beberapa waktu lalu, terutama karena adanya kekhawatiran terhadap gangguan jalur perdagangan energi seperti Selat Hormuz, perhatian investor mulai terbagi. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur penting bagi distribusi minyak dunia, sehingga gangguan di wilayah tersebut dapat berdampak pada pasokan energi dan pergerakan harga minyak secara global. Dalam kondisi seperti ini, sebagian investor tidak lagi hanya melihat emas sebagai pilihan investasi, tetapi juga mulai melirik sektor energi, terutama saham perusahaan minyak mentah yang berpotensi mengalami kenaikan ketika harga minyak terdorong akibat kekhawatiran terhadap pasokan.
Perubahan situasi tersebut menunjukkan bahwa pilihan investasi saat terjadi krisis kini semakin beragam. Emas memang masih menjadi salah satu aset yang diperhatikan ketika dunia mengalami ketidakpastian, tetapi investor juga mulai mempertimbangkan berbagai aset lain seperti energi, saham, dan instrumen investasi lainnya. Pergerakan emas tidak hanya dipengaruhi oleh konflik, tetapi juga oleh bagaimana pasar melihat dampak ekonomi dari suatu peristiwa.
Dengan perkembangan tersebut, meskipun emas masih memiliki peran penting sebagai aset penyimpan yang bernilai, statusnya sebagai safe haven tidak lagi bersifat mutlak. Investor saat ini mempertimbangkan berbagai faktor ekonomi dan geopolitik sebelum menentukan aset untuk melindungi kekayaan mereka. Emas tetap menjadi salah satu pilihan investasi, tetapi bukan satu-satunya tempat utama ketika terjadi gejolak ekonomi maupun politik dunia.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

13 hours ago
13
















































