REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Mohammad Yadi Sofyan Noor mengatakan petani memanfaatkan sumur dalam sebagai sumber air alternatif ketika pasokan air mulai terbatas akibat musim kemarau. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga ketersediaan air sehingga kegiatan budidaya dan produksi pertanian tetap berjalan.
Sebelum memanfaatkan sumur dalam, petani terlebih dahulu mengandalkan pompa air apabila sumber air masih tersedia. Jika sumber air benar-benar mengering, kebutuhan air dipenuhi menggunakan mobil tangki sesuai kebutuhan di lapangan.
"Untuk menghadapi dampak kekeringan, KTNA sudah terbiasa beradaptasi. Kalau masih ada sumber air, maka kita gunakan mesin pompa air yang sudah tersedia. Untuk sumber air yang terbatas, maka kita gunakan sumur-sumur dalam. Kalau air memang kering, kita biasanya menggunakan mobil tangki untuk keperluan air secukupnya," kata Sofyan kepada Republika, dikutip Selasa (21/7/2026).
Ia menerangkan, sejumlah wilayah mulai terdampak kekeringan. Di Jawa Barat, kondisi tersebut mulai terjadi di Kabupaten Indramayu dan Subang. Sementara di Jawa Tengah, Kabupaten Purworejo masih relatif aman karena didukung sistem irigasi teknis dan sumber air yang masih tersedia. Adapun di Kalimantan Selatan, wilayah yang mulai terdampak meliputi Kabupaten Banjar, Tanah Laut, dan Tanah Bumbu.
Kementerian Pertanian (Kementan) sebelumnya membeberkan berbagai langkah mitigasi yang disiapkan pemerintah untuk menghadapi potensi kekeringan akibat musim kemarau dan ancaman El Nino. Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengatakan strategi tersebut dilakukan agar produksi pangan nasional tetap terjaga.
Menurut dia, mitigasi dilakukan melalui Sistem Informasi Peringatan Dini (Si-PERDITAN), penguatan infrastruktur air, pompanisasi, rehabilitasi jaringan irigasi, penyediaan benih tahan kekeringan, hingga koordinasi intensif dengan kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah.
"Data menunjukkan upaya mitigasi yang kita lakukan berjalan efektif. Luas puso akibat El Nino hingga Juli 2026 sekitar 12 ribu hektare, jauh lebih rendah dibandingkan tahun 2015 yang mencapai sekitar 217 ribu hektare. Artinya, kesiapsiagaan pemerintah semakin kuat dan produksi pangan nasional tetap dapat kita jaga," kata Sudaryono dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI di Jakarta beberapa hari lalu.
Untuk memperkuat kesiapan menghadapi musim kemarau, Kementan juga mempercepat penyediaan alat dan mesin pertanian (alsintan), seperti pompa air, traktor, rice transplanter, serta berbagai sarana pendukung lainnya agar produktivitas lahan pertanian tetap optimal di berbagai daerah.
Sudaryono mengatakan langkah mitigasi tersebut ditujukan untuk menekan risiko gagal panen sekaligus menjaga produktivitas lahan di tengah ancaman perubahan iklim. Pemerintah akan terus memperkuat kesiapsiagaan agar ketahanan pangan nasional tetap terjaga dan target swasembada pangan dapat tercapai.
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan operasi modifikasi cuaca (OMC) belum dapat dilakukan untuk mengatasi kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia. Hal itu karena efektivitas OMC bergantung pada ketersediaan awan hujan yang dapat disemai.

7 hours ago
10















































