Muhammad Akmansyah
Agama | 2026-07-14 10:46:59
Sumber: Ilustrasi dibuat menggunakan kecerdasan buatan.
Oleh: Muhammad Akmansyah
(Pemerhati Pendidikan Islam, Spiritualitas Islam, dan Kehidupan Sosial)
Mengapa Gelar Sarjana Tak Lagi Menjamin Pekerjaan?
Dulu, banyak yang percaya bahwa gelar pendidikan hampir selalu membuka pintu pekerjaan. Hari ini, keyakinan itu tidak lagi sesederhana dahulu. Mendapatkan pekerjaan yang layak kini bukan perkara mudah. Persaingan makin ketat, sementara kebutuhan tenaga kerja terus bergeser. Digitalisasi, kecerdasan buatan, dan otomatisasi mengubah wajah dunia kerja: sebagian pekerjaan baru muncul, sebagian pekerjaan lama menyusut atau hilang sama sekali.
Setiap tahun jutaan lulusan memasuki pasar kerja. Ironisnya, pertumbuhan kesempatan kerja tidak selalu bergerak dengan kecepatan yang sama. Kondisi ini menimbulkan kegelisahan, terutama di kalangan generasi muda yang mulai bertanya-tanya soal masa depan mereka.
Bagi banyak orang, pekerjaan bukan sekadar sumber penghasilan. Ia juga soal harga diri, kemandirian, dan harapan untuk hidup lebih baik. Jadi wajar saja kalau kesempatan kerja yang semakin terbatas memunculkan rasa cemas.
Pertanyaannya, apakah Islam hanya mengajarkan bersabar menunggu rezeki datang? Atau ada panduan yang lebih aktif untuk menghadapi perubahan zaman?
Ajaran Islam tidak pernah mengajarkan umatnya menunggu nasib berubah dengan sendirinya, melainkan mendorong mereka untuk berikhtiar melalui usaha yang sungguh-sungguh, disertai doa dan tawakal. Kesabaran memang penting, tapi bukan berarti berhenti bergerak. Justru kesabaranlah yang membuat seseorang tetap berusaha ketika jalan terasa makin sulit.
Islam Mengubah Cara Pandang tentang Bekerja
Selama ini banyak orang memandang pekerjaan hanya sebagai sumber penghasilan. Dalam pandangan Islam, bekerja memiliki makna yang jauh lebih luas. Bekerja bisa menjadi ibadah, asal diniatkan dengan benar, dilakukan dengan cara yang halal, dan bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. Mencari nafkah, dengan begitu, sekaligus menjalankan amanah sebagai khalifah di bumi.
Al-Qur’an mendorong manusia untuk tidak berdiam diri menunggu. Setelah salat Jumat usai, Allah memerintahkan kaum beriman untuk kembali bertebaran di muka bumi mencari karunia-Nya (QS. al-Jumu’ah [62]: 10). Ayat lain menyerukan hal serupa: manusia diperintahkan berjalan di segala penjuru bumi dan memakan sebagian dari rezeki-Nya (QS. al-Mulk [67]: 15).
Para ulama tafsir membaca kedua ayat ini lebih jauh dari sekadar anjuran mencari uang. Imam Fakhruddin al-Razi menjelaskan bahwa perintah “mencari karunia Allah” adalah rezeki, keuntungan, dan juga usaha untuk mencari penghidupan (Mafātih al-Ghaib). Imam Ibnu Katsir menambahkan bahwa manusia diperintahkan menjelajahi berbagai wilayah untuk berusaha dan berniaga (Tafsir Ibnu Katsir). Syariat, dengan kata lain, mendorong umat Islam aktif mencari peluang, bukan menunggunya datang sendiri.
Berbagai nash Al-Qur’an dan Hadis mendorong umat Islam bekerja keras dan berusaha memperoleh rezeki yang halal, bahkan menempatkan mencari nafkah sebagai tanggung jawab keagamaan. Bekerja sebagai bentuk memakmurkan bumi (‘imārat al-arḍ) sekaligus menjalankan amanah kekhalifahan.
Yang menarik, seluruh ajaran tersebut tidak berhenti pada anjuran bekerja. Semuanya mengarahkan manusia agar aktif membangun kehidupan, bukan sekadar menunggu perubahan datang.
Di sinilah letak optimisme yang ditawarkan Islam. Selama usaha ditempuh dengan cara yang halal, setiap pekerjaan tetap memiliki nilai ibadah di hadapan Allah.
Ikhtiar Lebih dari Sekadar Mencari Pekerjaan
Sayangnya, ikhtiar sering dimaknai sempit: sebatas mengirim lamaran lalu menunggu panggilan. Padahal maknanya jauh lebih luas.
Ikhtiar berarti memaksimalkan seluruh potensi yang Allah berikan. Ketika lapangan kerja formal makin terbatas, ikhtiar bisa berwujud belajar keterampilan baru, menguasai teknologi digital, memperluas jaringan, membangun kolaborasi, atau bahkan berani menciptakan peluang usaha sendiri.
Rasulullah saw. memberi teladan kuat tentang kemuliaan bekerja. Beliau bersabda, “Tidak ada makanan yang lebih baik daripada makanan hasil usaha tangannya sendiri.” Beliau bahkan mencontohkan bahwa Nabi Dawud a.s. pun mencari nafkah dari hasil usahanya sendiri (HR. al-Bukhari). Dalam hadis lain, Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh, seandainya salah seorang di antara kalian mencari kayu bakar lalu memikulnya di atas punggungnya, itu lebih baik daripada ia meminta-minta kepada seseorang, baik orang itu memberi maupun menolaknya” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Pesan ini masih terasa sekarang. Dalam ajaran Islam, kemuliaan seseorang tidak diukur dari jenis profesinya, melainkan dari kejujuran, kerja keras, dan kemandiriannya. Tidak ada pekerjaan halal yang hina, justru bergantung pada orang lain padahal masih mampu berusaha yang tidak dianjurkan syariat.
Karena itu, saat lapangan kerja menyempit, semangat berikhtiar semestinya tidak ikut menciut. Justru di sinilah kreativitas, kemampuan beradaptasi, dan keberanian mengambil peluang menjadi modal yang paling berharga.
Mengapa Kesempatan Kerja Semakin Kompetitif?
Penyempitan lapangan kerja tidak bisa dijelaskan dengan satu sebab saja. Ada beberapa penyebab yang saling berkaitan.
Salah satunya ialah kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan membuat pekerjaan yang sifatnya rutin mulai digantikan sistem otomatis. Banyak perusahaan kini semakin membutuhkan kemampuan spesifik: analisis data, literasi digital, pemanfaatan AI, dan kemampuan memecahkan masalah.
Di sisi lain, dunia pendidikan dan kebutuhan industri belum selalu berjalan seiring. Akibatnya, banyak perusahaan kesulitan menemukan tenaga kerja yang sesuai, sementara banyak pencari kerja belum memiliki keterampilan yang dibutuhkan. Masalahnya bukan cuma soal jumlah lapangan kerja, tapi kecocokan kompetensi.
Data Badan Pusat Statistik (2026) menunjukkan bahwa pengangguran masih ditemukan pada lulusan pendidikan menengah hingga perguruan tinggi. Kondisi ini mengindikasikan adanya kesenjangan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan dunia kerja.
Faktor lain yang tak kalah penting ialah orientasi sebagian masyarakat yang masih cenderung menjadi pencari kerja. Sebagian lulusan masih memusatkan pilihan pada profesi tertentu saja, biasanya yang dianggap bergengsi atau menjanjikan kepastian pendapatan, sehingga ketika peluang di sektor itu terbatas, mereka enggan melirik alternatif lain yang sebenarnya cukup prospektif.
Persoalan ini menunjukkan bahwa tantangan dunia kerja saat ini bukan hanya soal ketersediaan lapangan kerja, tetapi juga perubahan pola pikir dalam memandang pekerjaan itu sendiri.
Ajaran Islam menawarkan cara pandang yang berbeda di sini. Selama halal, bermanfaat, dan dikerjakan dengan tanggung jawab, setiap profesi punya kemuliaannya sendiri. Al-Qur’an memerintahkan manusia menjelajahi bumi dan memanfaatkan peluang yang tersedia, dan para ulama membaca perintah ini sebagai isyarat betapa luasnya ruang usaha yang bisa ditempuh manusia dalam mencari rezeki.
Tantangan sesungguhnya, kalau begitu, bukan cuma sempitnya lapangan kerja, tapi kesiapan kita menghadapi perubahan itu sendiri.
Dari Pencari Kerja Menuju Pencipta Peluang
Salah satu pelajaran penting dari ajaran Islam adalah semangat menciptakan manfaat bagi orang lain. Keberhasilan seorang Muslim tidak berhenti pada dirinya mendapat pekerjaan, tapi juga pada kemampuannya menghadirkan kemaslahatan bagi sekitarnya.
Rasulullah saw. sendiri dikenal sebagai pedagang yang jujur sebelum diangkat menjadi nabi, dan banyak sahabat tumbuh menjadi pelaku usaha sukses yang turut menggerakkan roda ekonomi masyarakat, bukan cuma mengejar keuntungan pribadi.
Al-Qur’an juga menyebut manusia diciptakan dan ditempatkan di bumi untuk mengelola dan memakmurkannya. Para mufasir menjelaskan tugas ini mencakup pembangunan, pertanian, perdagangan, industri, dan segala aktivitas yang membawa manfaat bagi kehidupan.
Karena itu, ketika peluang menjadi pegawai kian terbatas, membuka usaha kecil, membangun bisnis digital, atau menciptakan inovasi lokal bukan pilihan kelas dua. Itu justru bentuk nyata dari ikhtiar yang diajarkan Islam.
Mungkin di sinilah ukuran keberhasilan perlu diubah. Bukan hanya berapa banyak pekerjaan yang kita dapatkan, tetapi juga berapa banyak peluang yang dapat kita ciptakan bagi orang lain.
Usaha yang berkembang berpotensi membuka lapangan kerja bagi orang lain. Inilah nilai sosial kewirausahaan yang sering luput dari perhatian. Seorang pelaku usaha tidak cuma menghidupi keluarganya sendiri, tapi juga membuka jalan rezeki bagi keluarga lain.
Semangat semacam ini yang perlu ditumbuhkan pada generasi muda Indonesia. Pendidikan idealnya tidak hanya mencetak lulusan siap melamar kerja, tapi juga generasi yang berani menciptakan peluang baru.
Pada akhirnya, masyarakat yang mampu menciptakan peluang tidak hanya lebih siap menghadapi perubahan, tetapi juga lebih besar peluangnya untuk menghadirkan manfaat bagi sesama.
Empat Nilai Islam untuk Menghadapi Dunia Kerja Modern
Di tengah persaingan global yang makin ketat, Indonesia membutuhkan sumber daya manusia yang cerdas sekaligus berkarakter. Tradisi Islam telah meletakkan fondasi etos kerja melalui empat nilai utama, yaitu amanah, itqān, ihsān, dan tawakal.
Nilai Amanah mengajarkan bahwa kepercayaan merupakan modal utama dalam dunia kerja. Setinggi apa pun kemampuan seseorang, tanpa integritas ia akan sulit memperoleh kepercayaan dan mempertahankannya.
Nilai itu kemudian diwujudkan melalui nilai itqān, yakni bekerja secara profesional, teliti, dan tuntas. Islam tidak mengajarkan pekerjaan yang sekadar selesai, tetapi mendorong setiap tugas diselesaikan dengan kualitas terbaik karena pada hakikatnya setiap pekerjaan berada dalam pengawasan Allah.
Etos kerja itu kemudian berkembang melalui nilai ihsān, yaitu dorongan untuk terus memberikan hasil terbaik, melampaui standar minimum, serta membangun budaya inovasi dan perbaikan yang berkelanjutan.
Semua itu berpuncak pada nilai tawakal, bukan sebagai alasan untuk berhenti berusaha, melainkan sebagai sikap berserah diri kepada Allah setelah ikhtiar dilakukan secara maksimal. Dalam pandangan Islam, ikhtiar dan tawakal bukanlah dua hal yang saling bertentangan, tetapi saling melengkapi.
Keempat nilai ini menjadi modal penting menghadapi perubahan dunia kerja. Selain kompetensi teknis, banyak perusahaan juga kini semakin menilai integritas, kemampuan beradaptasi, komunikasi, dan kemauan belajar. Dalam konteks yang lebih luas, etos kerja seperti ini juga menjadi fondasi pembangunan bangsa. Masyarakat yang produktif dan berintegritas lebih siap menghadapi perubahan ekonomi global dibanding masyarakat yang hanya menunggu kesempatan datang.
Masa Depan Milik Mereka yang Terus Berikhtiar
Perubahan memang tidak selalu mudah. Sebagian pekerjaan mungkin hilang, tapi peluang baru terus bermunculan. Pertanyaannya, apakah kita siap belajar keterampilan baru, beradaptasi, dan melihat peluang dari sudut pandang yang berbeda.
Ajaran Islam menempatkan doa, kerja keras, inovasi, dan tawakal dalam satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Seorang Muslim diperintahkan berusaha sekuat tenaga, lalu menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah. Sikap inilah yang membuat seseorang tetap optimistis meski keadaan belum sesuai harapan.
Dunia boleh berubah, teknologi terus berkembang, dan jenis pekerjaan akan terus berganti. Namun nilai kerja keras, kejujuran, profesionalisme, dan kemandirian tetap relevan sepanjang masa. Sebab dalam ajaran Islam, rezeki memang datang dari Allah, tetapi ikhtiar selalu dimulai dari manusia. Meski peluang kerja tidak selalu berada dalam kendali kita, pilihan untuk terus belajar, bekerja keras, dan berikhtiar selalu ada di tangan kita.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

15 hours ago
12






































