Zulfajri Abas
Pendidikan dan Literasi | 2026-07-14 09:31:50
Oleh: Zulfajri
Ada peristiwa-peristiwa kecil dalam kehidupan keluarga yang mungkin luput dari perhatian banyak orang, namun sesungguhnya memiliki makna yang sangat besar. Hari pertama seorang anak memasuki bangku sekolah dasar adalah salah satunya. Bukan sekadar pergantian jenjang pendidikan, melainkan awal dari sebuah perjalanan panjang dalam menapaki dunia ilmu pengetahuan, membangun karakter, dan merajut masa depan.
Bagi keluarga kami, momen itu hadir pada Senin, 13 Juli 2026, ketika putra kami, Fathi Fadhlurrahman, untuk pertama kalinya mengenakan seragam Sekolah Dasar sebagai siswa baru di salah satu Sekolah Dasar Negeri di Kota Pekanbaru.
Persiapan telah dimulai sehari sebelumnya, pada Ahad. Di tengah aktivitas akhir pekan, saya sebagai ayah meluangkan waktu membuat sebuah papan nama yang akan dikenakan Fathi pada saat kegiatan perkenalan siswa baru. Papan nama itu tampak sederhana, namun di balik kesederhanaannya tersimpan harapan yang tidak sederhana. Di atasnya tertulis nama lengkap Fathi Fadhlurrahman, Kelas 1A, Hobi: Sepak Bola, dan Cita-cita: POLRI.
Bagi seorang ayah, papan nama itu bukan sekadar identitas. Ia adalah simbol bahwa seorang anak sedang memasuki gerbang baru kehidupan. Setiap huruf yang ditulis seolah menjadi doa agar kelak tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, berakhlak mulia, serta memberi manfaat bagi masyarakat.
Pagi itu, Fathi bangun lebih awal dari biasanya. Wajahnya memancarkan semangat sekaligus rasa penasaran menghadapi pengalaman baru. Seragam yang masih tampak rapi dikenakan dengan penuh kebanggaan. Hari itu menjadi berbeda dari hari-hari sebelumnya ketika ia masih berada di taman kanak-kanak.
Rutinitas keluarga pun berjalan sebagaimana mestinya. Saya berangkat lebih awal menuju tempat kerja sambil mengantarkan kakaknya yang telah duduk di kelas VIII di salah satu Madrasah Tsanawiyah swasta di Kota Pekanbaru. Sementara itu, ibunya mendampingi dan mengantar Fathi menuju sekolah barunya.
Pagi itu kami berjalan pada rute yang berbeda, tetapi memiliki tujuan yang sama: mengantarkan anak-anak menuju masa depan mereka.
Sesampainya di sekolah, suasana dipenuhi wajah-wajah baru. Halaman sekolah dipenuhi anak-anak yang datang bersama orang tua masing-masing. Ada yang tampak percaya diri, ada pula yang masih menggenggam erat tangan ayah atau ibunya.
Fathi pun melangkah memasuki lingkungan sekolah dengan penuh semangat, meskipun masih diselimuti rasa malu yang wajar dimiliki seorang anak yang sedang memasuki dunia baru.
Ada satu momen kecil yang mengundang senyum. Sebelum berangkat dari rumah, ia menolak mengenakan papan nama yang telah dipersiapkan.
"Nanti saja dipasang kalau sudah sampai di sekolah," katanya singkat.
Sesampainya di sekolah, ia tetap belum langsung mengenakannya. Setelah memperhatikan teman-teman di sekelilingnya, barulah papan nama itu perlahan dipasang di dadanya. Barangkali bukan karena ia enggan, melainkan karena sedang belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan yang sama sekali baru.
Bagi orang dewasa, memasang papan nama mungkin hanyalah hal sederhana. Namun bagi seorang anak yang baru memasuki dunia sekolah dasar, tindakan kecil itu adalah bagian dari proses membangun keberanian dan mengenalkan dirinya kepada lingkungan baru.
Kegiatan belajar hari pertama berlangsung hingga pukul 10.00 WIB. Setelah pulang ke rumah, Fathi tidak banyak bercerita. Tubuh kecilnya tampak lelah, lalu tertidur pulas.
Mungkin rasa lelah itu bukan semata karena mengikuti kegiatan di sekolah. Bisa jadi, ia sedang beradaptasi dengan ritme kehidupan baru: bangun lebih pagi, bertemu guru dan teman-teman baru, mengikuti suasana belajar yang berbeda, serta mulai mengenal tanggung jawab sebagai seorang siswa sekolah dasar.
Hari pertama sekolah memang hanya berlangsung beberapa jam. Namun bagi seorang anak, pengalaman itu akan menjadi salah satu kenangan yang tersimpan sepanjang hidupnya. Di sanalah keberanian mulai tumbuh, rasa ingin tahu mulai berkembang, dan mimpi-mimpi kecil mulai menemukan ruang untuk bertumbuh.
Bagi orang tua, tugas mengantar anak ke sekolah bukan hanya memastikan mereka sampai di ruang kelas. Lebih dari itu, setiap langkah yang mereka ayunkan merupakan amanah untuk terus mendampingi, membimbing, dan mendoakan agar perjalanan pendidikan mereka senantiasa berada di jalan yang benar.
Pada akhirnya, hari pertama sekolah bukan sekadar tentang seragam baru, tas baru, atau papan nama yang tergantung di dada. Ia adalah penanda bahwa seorang anak telah memulai perjalanan panjang menuju masa depannya.
Semoga setiap langkah kecil yang dimulai hari ini kelak mengantarkannya menjadi pribadi yang berilmu, berintegritas, mencintai bangsanya, berbakti kepada kedua orang tua, dan senantiasa menjadikan iman sebagai penuntun dalam setiap perjalanan hidupnya.
Selamat menempuh perjalanan baru, Fathi Fadhlurrahman. Langkahmu hari ini adalah awal dari kisah-kisah besar yang masih menunggu untuk dituliskan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

15 hours ago
11






































