Rupiah Tembus Rp 17.700-an, Bank Indonesia Bakal Naikkan Suku Bunga?

20 hours ago 15

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih melanjutkan tren pelemahan hingga menembus level Rp 17.700 per dolar AS pada Selasa (19/5/2026). Analis mata uang Lukman Leong memprediksi Bank Indonesia (BI) bakal menaikkan suku bunga acuan (BI rate) pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mei 2026 untuk menstabilkan rupiah.

Mengutip Bloomberg, rupiah dibuka melemah pada level Rp 17.679 per dolar AS pada perdagangan Selasa (19/5/2026). Pada sekitar pukul 11.22 WIB, rupiah berada pada posisi Rp 17.727 per dolar AS.

Lukman menuturkan, rupiah kembali dibuka melemah terhadap dolar AS, meski dolar AS dan harga minyak mentah dunia sendiri terpantau sudah terkoreksi akibat ditundanya penyerangan militer AS ke Iran. Agenda RDG BI yang akan digelar pada Rabu (20/5/2026) juga diperkirakan akan menghasilkan kenaikan suku bunga guna mendukung rupiah.

“Pelemahan ini mencerminkan sentimen yang lemah terhadap rupiah. Investor menganggap pemerintah dan BI tidak cukup tepat bertindak dan menganggap ringan permasalahan di awal-awal,” ujar Lukman dalam keterangannya kepada wartawan, Selasa (19/5/2026).

Lebih lanjut, Lukman mengatakan investor saat ini mulai mengantisipasi kemungkinan BI menaikkan suku bunga acuan sebagai upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Rupiah diketahui telah mencapai posisi terlemah sepanjang sejarah.

“(Perkiraan pergerakan rupiah hari ini) Range Rp 17.600—Rp 17.750 per dolar AS,” ujarnya.

Menurut analisisnya, kenaikan suku bunga acuan (BI rate) akan mencapai 25 basis poin (bps). Diketahui saat ini BI rate berada pada level 4,75 persen. Dengan demikian, apabila naik 25 bps, suku bunga acuan akan menjadi 5 persen.

Lukman menilai, sebenarnya langkah kenaikan suku bunga acuan oleh BI sudah cukup terlambat untuk menjaga stabilitas rupiah yang telanjur terkoreksi dalam. Namun, menurut dia, lebih baik terlambat daripada tidak dilakukan sama sekali.

“Kalau dinaikkan lebih awal, mungkin 50 bps sudah mencukupi. Saat ini saya lihat 100 bps atau 150 bps pun sulit meredam tekanan pada rupiah,” kata dia.

BI: Rupiah Bakal Menguat pada Juli-Agustus

Sebelumnya diberitakan, Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan optimismenya bahwa nilai tukar rupiah bakal segera berbalik menguat. Ia menuturkan, penguatan Mata Uang Garuda akan terjadi memasuki Juli-Agustus 2026 seiring dengan meredanya faktor-faktor seasonal atau musiman terkait kebutuhan dolar AS.

“Dari tahun ke tahun rupiah itu memang umumnya dalam tekanan April, Mei, Juni karena demand-nya tinggi. Tapi Juli-Agustus akan menguat,” ungkap Perry dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks DPR RI, Jakarta, Senin (18/5/2026).

Ia menerangkan, pada April, Mei, dan Juni, permintaan terhadap dolar AS tinggi karena sejumlah kebutuhan musiman. Mulai dari kebutuhan devisa, pembayaran dividen oleh perusahaan, hingga kebutuhan dolar AS untuk Jamaah haji.

“Jadi kami yakini mulai Juli, Agustus, September rupiah akan menguat, dan keseluruhan tahun kami masih yakin rerata nilai tukar rupiah masih dalam kisaran APBN, yang paling tinggi Rp 16.800 per dolar AS,” tuturnya.

Perry menekankan, rupiah saat ini undervalued. Oleh sebab itu, ia yakin pergerakan rupiah sepanjang tahun ini tetap akan mencapai target dalam asumsi makro APBN 2026, yakni Rp 16.500 per dolar AS, dengan batas bawah Rp 16.200 per dolar AS dan batas atas Rp 16.800 per dolar AS.

“Rerata secara year to date saat ini rupiah berada sebesar Rp 16.900 per dolar AS,” ungkapnya.

Perry yakin, ketika nantinya rupiah benar-benar terbukti menguat memasuki Juli 2026, pergerakan rupiah tidak akan menjauh dari level target sesuai APBN, meski saat ini sebenarnya sudah melewati batas atas APBN.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |