REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR - Risiko bencana di perkotaan bukan peristiwa yang jauh dari keseharian, melainkan hal yang selalu hadir di wilayah ibukota dan kota-kota penyangga lainnya. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sepanjang 2025 hingga 31 Desember terjadi 3.233 kejadian bencana di seluruh Indonesia, dengan banjir sebagai kejadian terbanyak, yaitu 1.652 kejadian, diikuti cuaca ekstrem sebanyak 714 kejadian.
Kondisi ini menempatkan relawan sebagai pihak yang sering kali lebih dahulu tiba di lokasi terdampak dibanding bantuan formal, terutama pada jam-jam awal yang paling menentukan keselamatan korban. Namun kehadiran yang cepat saja tidak cukup, tanpa bekal asesmen lapangan, pertolongan pertama, dan pemahaman prosedur keselamatan, relawan justru berisiko menambah beban penanganan.
Hal inilah yang menjadi perhatian lembaga kemanusiaan Rumah Zakat, yaitu jarak antara besarnya semangat kerelawanan dengan kesiapan kompetensi teknis di lapangan. Merespons kebutuhan itu, Rumah Zakat menggelar Volunteer Basic Training (VBT) 2026 selama tiga hari sejak 10 sampai 12 Juli 2026 di Camping Ground Villa Pink, Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Kabupaten Bogor. Kegiatan ini diikuti 42 peserta dari enam cabang Rumah Zakat, meliputi Jakarta, Depok, Tangerang, Bekasi, Bintaro, dan Cilegon.
CEO Rumah Zakat, Irvan Nugraha, mengatakan Volunteer Basic Training merupakan agenda tahunan sebagai bagian dari regenerasi relawan kemanusiaan yang memiliki kompetensi, integritas, dan semangat kolaborasi. Volunteer Basic Training selalu diselenggarakan setiap tahun sebagai bagian dari proses regenerasi relawan.
"Para relawan merupakan ujung tombak setiap misi kemanusiaan. Kami berharap mereka terus meningkatkan kapasitas dan siap terlibat dalam berbagai aksi kemanusiaan di seluruh Indonesia," ujar Irvan.
Mengusung tema 'Relawan Kemanusiaan yang Berdampak dan Berkelanjutan', peserta memperoleh pembekalan pengetahuan Islam oleh Muhammad Ali Akbar dari Humanitarian Division Rumah Zakat, Medical First Response (MFR) oleh dr. Eky Danu Fahrizal, manajemen bencana oleh Tubagus dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor, serta materi Search and Rescue (SAR), survival, safeguarding, hingga kepemimpinan dalam situasi darurat oleh Donny Amrizal selaku PKPP Ahli Muda dari Badan SAR Nasional (BASARNAS).
Peserta juga mengikuti long march menuju lokasi pelatihan dan simulasi penanganan bencana yang dirancang untuk melatih asesmen lapangan, koordinasi tim, pertolongan pertama, dan pengambilan keputusan dalam kondisi darurat.
Kegiatan ini turut didukung oleh Majelis Telkomsel Taqwa (MTT) dan Cita Sehat Foundation (CSF). Ketua Pelaksana VBT 2026, Rulyando Rizky Juliansyach, mengatakan pelatihan ini diharapkan menjadi titik awal lahirnya relawan yang memiliki kepedulian, kompetensi, dan komitmen untuk menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Peserta asal Cabang Depok, Rifaza Saulimatema, mengaku memperoleh banyak pengalaman selama pelatihan. "Alhamdulillah, saya mendapatkan banyak ilmu dari Volunteer Basic Training 2026. Tidak hanya pengetahuan tentang kebencanaan dan pertolongan pertama, tetapi juga pembentukan mental, karakter sebagai relawan, serta penguatan nilai-nilai keislaman. Bekal ini menjadi motivasi bagi saya untuk terus siap berkontribusi dalam setiap aksi kemanusiaan," kata Rifaza.
Dengan tren bencana hidrometeorologi yang belum menunjukkan tanda melandai, pelatihan seperti ini tidak dapat berhenti pada satu penyelenggaraan. Kompetensi pertolongan pertama dan SAR merupakan keterampilan yang menurun apabila tidak diasah secara berkala, sementara siklus regenerasi relawan menuntut kaderisasi yang terus berjalan. Melalui Volunteer Basic Training 2026, Rumah Zakat berharap lahir semakin banyak relawan yang memiliki kompetensi teknis, karakter yang kuat, serta semangat kolaborasi sehingga siap menjadi garda terdepan dalam aksi kemanusiaan dan program pemberdayaan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia, khususnya di wilayah Jabodetabek dan Cilegon.

18 hours ago
14









































