Gontor, Ronggowarsito, dan Nilai-Nilai Pesantren

1 hour ago 4

Oleh: Umar Idris, Alumni Pondok Modern Gontor, Co-Founder Indonesian Institute of Journalism

REPUBLIKA.CO.ID, Pesantren Gontor yang lahir pada 20 September 1926 atau 12 Robiul Awwal 1345 H. kini memasuki usia 100 tahun. Pesantren yang didirikan Trimurti—KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fannanie, dan KH Imam Zarkasyi—telah menjadi salah satu institusi pendidikan Islam paling berpengaruh di Indonesia saat ini. Tak mengherankan pesantren Gontor juga bagian dari perjalanan panjang tradisi pesantren, intelektualisme, dan pembentukan moral masyarakat di Jawa secara khusus dan Indonesia secara umum.

Sebuah relasi sejarah membayangi imajinasi ketika Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, memasuki usia satu abad pada pekan ini. Yaitu relasi antara Gontor dengan pujangga dan sastrawan Ronggorwarsito, karena keduanya lahir dari rahim pesantren yang sama, yaitu Pesantren Tegalsari.  

Jika kita menengok lebih jauh ke belakang, Pesantren Gontor merupakan kelanjutan dari tradisi dan trah pesantren yang melegenda sebelumnya, yaitu Tegalsari yang letaknya tak jauh hanya tiga kilometer dari Pondok Gontor. Pada masanya di abad ke-19, Pesantren Tegalsari, merupakan sebuah pusat pendidikan Islam yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah keislaman dan kebudayaan Jawa. 

Dari lingkungan tradisi pesantren di Tegalsari inilah nama Raden Ngabehi Ronggowarsito, salah satu santri Pesantren Tegalsari, kerap disebut dalam mata rantai sejarah intelektual santri di masyarakat Jawa.  Ronggowarsito dikenal sebagai salah satu pujangga terbesar dalam sejarah Jawa. Dia kemudian menjadi pujangga Keraton Kasunanan Surakarta pada abad ke-19. Ia hidup pada masa ketika kerajaan-kerajaan Jawa berada dalam tekanan perubahan sosial dan politik yang sangat besar akibat menguatnya kekuasaan kolonial. Dalam situasi tersebut, peran seorang pujangga tidak hanya menghasilkan karya sastra, tetapi juga membaca perubahan zaman, merekam kegelisahan masyarakat, dan memberikan nasihat moral kepada lingkungan kekuasaan.

Sejumlah karya Ronggowarsito menunjukkan luasnya perhatian tersebut. Di antaranya adalah Serat Kalatidha, Serat Jaka Lodhang, Serat Sabdajati, dan Serat Wirid Hidayat Jati. Karya-karyanya tidak hanya berbicara mengenai spiritualitas, tetapi juga tentang manusia, kehidupan sosial, kepemimpinan, moralitas, dan masa depan masyarakat. Karena itu, Ronggowarsito dilihat bukan semata sebagai pujangga keraton, tetapi juga sebagai intelektual yang berusaha menjaga kesadaran moral masyarakat di tengah perubahan zaman.

Serat Kalatidha barangkali merupakan karya yang paling populer dalam konteks tersebut. Istilah zaman edan yang sering dikutip dari karya itu menggambarkan situasi ketika tatanan nilai mengalami kekacauan dan manusia kehilangan pegangan. Kritik Ronggowarsito sebenarnya tidak hanya diarahkan kepada masyarakat biasa. Ada kegelisahan terhadap keadaan zaman ketika manusia lebih mudah mengikuti arus kepentingan daripada mempertahankan kebenaran dan moralitas. Pesan itu terasa tetap relevan karena setiap zaman memiliki bentuk zaman edan-nya sendiri.

Yang menarik, Ronggowarsito berada di lingkungan keraton, dekat dengan pusat kekuasaan. Namun, kedekatan tersebut tidak berarti ia kehilangan fungsi kritisnya sebagai intelektual. Justru karena berada dekat dengan kekuasaan, ia memiliki kesempatan untuk membaca dari dalam bagaimana perubahan zaman memengaruhi kehidupan masyarakat dan kerajaan. Dari sini kita mendapatkan sebuah pelajaran penting: seorang intelektual boleh berada dekat dengan kekuasaan, tetapi ia tidak boleh kehilangan jarak moral terhadap kekuasaan.

Pascakemerdekaan, tepatnya di era Orde Baru, Pesantren Gontor sendiri telah melahirkan sejumlah tokoh yang kemudian memberi warna besar dalam kehidupan intelektual dan kebudayaan Indonesia. Salah satu yang paling dikenal adalah Nurcholish Madjid atau Cak Nur. Tokoh kelahiran Jombang itu pernah menempuh pendidikan di Gontor dan kemudian menjadi salah satu pemikir Islam Indonesia paling berpengaruh melalui gagasan mengenai pembaruan pemikiran Islam, demokrasi, pluralisme, masyarakat madani, serta hubungan agama dan negara.

Tokoh lain adalah Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun, yang juga lahir di Jombang dan pernah belajar di Gontor. Jika Cak Nur banyak bergerak melalui dunia pemikiran dan akademik, Cak Nun memilih jalan kebudayaan melalui puisi, esai, teater, musik, pengajian, dan berbagai forum masyarakat. Keduanya menunjukkan seorang santri tidak harus menjadi pejabat atau berada di dalam struktur kekuasaan untuk memberi pengaruh terhadap perjalanan bangsa. Bahkan kyai Gontor sangat mengapresiasi santrinya yang menjadi guru ngaji di surau di pelosok, setara dengan santrinya yang berada di pusat kota dan pusat kekuasaan.  

Di era Reformasi 1998, Gontor turut berperan melahirkan reformasi di negara ini melalui alumninya, Cak Nur dan Cak Nun. Kedua tokoh ini menjadi pusat perhatian publik dan pergerakan politik yang menyebabkan berakhirnya Orde Baru dan hadirnya era reformasi.  Kejatuhan Soeharto pada 1998 memang merupakan hasil dari banyak faktor: krisis ekonomi, gerakan mahasiswa, tekanan masyarakat sipil, perubahan politik, konflik elite, dan melemahnya legitimasi kekuasaan. Namun, suara intelektual dan kebudayaan yang kritis, antara lain dari Cak Nur dan Cak Nun ikut membangun atmosfer yang membuat masyarakat semakin berani mempertanyakan kekuasaan dan menuntut perubahan.

Di sinilah kita dapat melihat hubungan antara pendidikan, moral, dan perubahan politik. Pesantren mungkin tidak secara langsung mempengaruhi pasang surutnya sebuah kekuasaan, tetapi pesantren dapat mendidik manusia yang tidak takut mempertanyakan kekuasaan ketika kekuasaan menyimpang. Pesantren dapat membentuk keberanian moral yang pada waktunya menjadi energi perubahan sosial. Dengan demikian, pengaruh pesantren terhadap bangsa tidak selalu dapat dihitung dari jumlah alumninya yang menjadi pejabat, melainkan dari seberapa jauh para alumninya mampu menjaga nilai-nilai pesantren ketika memasuki ruang kebijakan publik bernama negara.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |