REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) menilai karakter Indonesia sebagai negara kepulauan menjadi tantangan unik dalam pembangunan dan pemerataan infrastruktur gas bumi nasional. Kondisi geografis tersebut menuntut pendekatan distribusi yang berbeda agar pasokan gas dapat terhubung secara efektif dari sumber ke pengguna.
Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PGN Mirza Mahendra menyampaikan gas bumi tidak bisa diperlakukan sekadar sebagai isu pasokan dan permintaan. Infrastruktur konektivitas menjadi faktor penentu agar pemanfaatan gas berjalan optimal, efisien, dan merata di seluruh wilayah.
PGN menempatkan gas bumi sebagai bagian dari agenda besar pembangunan nasional sejalan dengan Asta Cita Presiden, khususnya penguatan kemandirian energi dan pengembangan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri. Dalam kerangka tersebut, gas diposisikan sebagai energi transisi strategis untuk menjaga keandalan pasokan sekaligus menurunkan intensitas emisi menuju target Net Zero Emission 2060.
Peran tersebut diperkuat arah Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045 yang mendorong peningkatan pemanfaatan gas bumi di sektor industri sebagai fondasi transformasi ekonomi tahap awal. Kebijakan Energi Nasional juga mencatat konsumsi gas bumi terus meningkat dan ditargetkan tumbuh hingga tiga kali lipat pada 2050.
Mirza menjelaskan tantangan utama pengembangan gas bumi terletak pada keterkaitan tiga aspek yang harus berjalan serempak. “Kalau kita ngomong gas bumi tidak hanya bicara supply dan demand. Tapi supply, konektivitas dari supply ke demand atau infrastruktur, dan demand,” ujarnya dalam diskusi INDEF di Jakarta, dikutip Rabu (24/12/2025).
PGN saat ini mengelola sekitar 823 ribu pelanggan dari sektor industri, komersial, pelanggan kecil, hingga rumah tangga. Jaringan pipa yang dioperasikan mencapai kurang lebih 33.500 kilometer, didukung infrastruktur LNG FSRU, fasilitas darat, SPBG, MRU, pabrik pengolahan LPG, serta kepemilikan 11 blok aset hulu dengan pangsa pasar sekitar 91 persen di Indonesia.
Menurut Mirza, tantangan konektivitas makin terasa seiring pergeseran sumber gas. Lapangan gas onshore di Sumatera Selatan dan Jawa Barat mengalami penurunan alami, sementara eksplorasi bergerak ke wilayah timur dan laut dalam dengan biaya produksi lebih tinggi. Kondisi tersebut menuntut solusi infrastruktur yang adaptif agar pasokan tetap tersambung ke pusat-pusat permintaan.
Ia menyoroti perbedaan mendasar Indonesia dengan negara daratan. “Indonesia kalau garis pantainya ditarik lurus sama dengan Amerika. Bedanya Amerika daratan, Indonesia kepulauan,” katanya.
Karakter kepulauan tersebut membuat pembangunan pipa konvensional tidak selalu ekonomis, terutama untuk kawasan timur. PGN merespons tantangan itu melalui integrasi jaringan gas nasional dengan pendekatan pipeline dan beyond pipeline. Di wilayah barat, konektivitas pipa ditargetkan tersambung penuh dari Aceh hingga Jawa Timur melalui penyelesaian ruas Duri–Sei Mangke dan Cirebon–Semarang tahap II. Di wilayah tengah dan timur, distribusi gas ditempuh melalui LNG dan CNG menggunakan ISO tank serta fasilitas skala kecil.
Strategi tersebut menjadi bagian dari tiga pilar bisnis PGN yang dirangkum dalam konsep Grow, Adapt, dan Step Out. Pilar Grow berfokus pada penguatan infrastruktur eksisting, pembangunan jaringan gas rumah tangga, pengembangan pengolahan gas, hingga gasifikasi batu bara menjadi synthetic natural gas. Pilar Adapt mengoptimalkan aset LNG untuk bunkering, filling station, mikro LNG, serta pengembangan LNG hub di Arun. Pilar Step Out diarahkan ke bisnis rendah karbon seperti biometana, gas to chemical, hidrogen, amonia, serta dukungan CCS dan CCUS.
PGN juga mengembangkan bisnis biometana melalui pembangunan titik injeksi di Pagardewa dan menyiapkan integrasi proyek gasifikasi batu bara Tanjung Enim ke pipa South Sumatra–West Java. Seluruh pengembangan tersebut dilengkapi upaya digitalisasi dan pemanfaatan kecerdasan buatan untuk meningkatkan efisiensi operasional.
Di sektor hilir, program jaringan gas rumah tangga telah menjangkau sekitar 819 ribu sambungan di 18 provinsi dan 74 kabupaten/kota. Rata-rata konsumsi harian sekitar 10,5 meter kubik per rumah tangga dinilai berpotensi menahan laju penggunaan LPG hingga puluhan ribu metrik ton per tahun.
PGN menilai integrasi infrastruktur dan agregasi pasokan gas menjadi kunci menekan biaya midstream dan menghadirkan harga gas yang lebih kompetitif. Langkah tersebut diharapkan memperkuat daya saing industri nasional sekaligus memperluas akses energi bersih hingga ke wilayah kepulauan.

1 month ago
73



































