Platform Perdagangan Emas Digital Kolaps di Shenzhen, Ribuan Investor Rugi Sampai Rp23 Triliun

4 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Runtuhnya secara mendadak sebuah platform perdagangan emas digital mengguncang Shenzhen, China. Puluhan ribu investor ritel dilaporkan mengalami kerugian gabungan lebih dari 1,4 miliar dolar AS atau setara Rp23 triliun.

Mengutip laporan media domestik China dan keterangan para investor, platform perdagangan logam daring bernama JWR menjadi tujuan banyak investor ritel China yang ingin memanfaatkan lonjakan harga emas global dalam beberapa bulan terakhir.

Namun, ketika harga emas spot kembali melonjak dalam beberapa pekan terakhir, gelombang investor berupaya mencairkan keuntungan mereka secara bersamaan. Kondisi tersebut mendorong JWR mengalami krisis likuiditas hingga tidak mampu memenuhi permintaan penarikan dana yang meningkat tajam.

Dikutip dari The Star, ratusan investor dilaporkan berkumpul di luar kantor JWR di Shenzhen pada akhir pekan lalu untuk menuntut pengembalian dana. Video yang diunggah investor di media sosial menunjukkan aparat kepolisian turun tangan untuk menjaga ketertiban.

Otoritas Distrik Luohu, Shenzhen, mengumumkan pembentukan satuan tugas untuk menyelidiki dugaan aktivitas bisnis tidak normal di JWR, sebagaimana dilaporkan media keuangan Yicai. Berdasarkan perkiraan yang dihimpun para investor, dana yang belum dibayarkan oleh perusahaan tersebut diperkirakan melebihi 10 miliar yuan.

Insiden ini mengguncang kepercayaan terhadap pusat perdagangan emas Shuibei di Shenzhen, yang selama ini dikenal sebagai jantung pasar emas China. Kasus tersebut sekaligus menyoroti meningkatnya risiko yang dihadapi investor ritel China yang menanamkan dana pada platform perdagangan logam tanpa izin, di tengah reli panjang harga emas dan perak.

“Saya dan banyak investor lain telah melaporkan kasus ini ke polisi, baik di kota asal kami maupun di Shenzhen, dan banyak orang datang langsung ke Shenzhen,” tulis seorang pengguna platform media sosial RedNote atau Xiaohongshu.

“Masih banyak platform serupa di pasar, dan risikonya sekarang sangat tinggi,” lanjutnya.

Krisis likuiditas JWR disebut terkait dengan model perdagangan pre-pricing yang diterapkannya. Melalui skema tersebut, perusahaan menarik investor ritel dalam jumlah besar lewat promosi perdagangan emas dan perak berambang masuk rendah dengan leverage tinggi di media sosial.

Dalam transaksi pre-pricing, perdagangan tidak dilakukan melalui bursa logam mulia yang teregulasi. Platform secara privat menyepakati harga emas atau perak di masa depan dengan investor, sementara aliran dana tidak melalui sistem kliring publik.

Ketika harga emas dan perak melonjak tajam dan investor secara kolektif menarik keuntungan, platform harus segera menyediakan dana besar atau menyiapkan pengiriman fisik. Jika perusahaan tidak melakukan lindung nilai secara memadai atau tidak memiliki cadangan modal yang cukup, risiko gagal bayar dapat meningkat dengan cepat.

Otoritas China sebelumnya telah berulang kali memperingatkan investor ritel mengenai risiko mengikuti reli harga emas. Sejumlah insiden serupa juga dilaporkan terjadi di Shenzhen dalam beberapa waktu terakhir, yang berkaitan dengan perdagangan logam mulia daring dan model pre-pricing.

Pada Oktober lalu, Asosiasi Emas dan Perhiasan Shenzhen mengeluarkan peringatan risiko yang mengungkap bahwa sejumlah pemasok bahan emas lokal, yang beroperasi dengan kedok perdagangan emas, sejatinya terlibat dalam praktik “taruhan emas nonfisik” melalui platform daring. Otoritas menduga praktik tersebut mengarah pada perjudian ilegal.

“Kasus-kasus ini mengungkap bagaimana sejumlah perusahaan, demi mengejar keuntungan ilegal dengan kedok perdagangan emas fisik, telah mendorong klien untuk terlibat dalam taruhan berarah berleverage tinggi, yang pada dasarnya adalah spekulasi atas naik-turun harga,” demikian bunyi peringatan industri tersebut.

Pengacara berbasis di Guangzhou, Deng Ping, yang menangani sejumlah sengketa penggalangan dana swasta, mengatakan pasar kini menunggu hasil penyelidikan pemerintah.

“Kolapsnya platform investasi swasta semacam ini belakangan semakin sering terjadi,” ujarnya. “Dua tahun lalu yang runtuh adalah teh dan mata uang kripto, sekarang logam mulia.”

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |