REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tanpa kita sadari, ancaman kesehatan kerap mengintai dari hal-hal yang paling dekat dengan keseharian kita. Segelas air yang tampak jernih atau sepiring hidangan lezat di tempat makan favorit terkadang menyimpan risiko tersembunyi yang jarang terpikirkan.
Melalui celah kebersihan yang luput dari perhatian inilah infeksi seperti hepatitis A dapat menular secara senyap. Sering kali dianggap sepele karena gejalanya menyerupai kelelahan biasa, penyakit yang menyerang organ hati ini sebenarnya patut diwaspadai agar tidak berujung pada komplikasi yang mengganggu kualitas hidup kita.
Menyadari pentingnya membangun kesadaran kolektif sejak dini, isu pencegahan hepatitis kini kembali digaungkan melalui berbagai inisiatif yang dekat dengan masyarakat. PT Etana Biotechnologies Indonesia (Etana) menyelenggarakan rangkaian kegiatan vaksinasi hepatitis A di sejumlah institusi pendidikan kesehatan dan rumah sakit di Indonesia. Mengusung semangat kolaborasi dalam rangka peringatan Hari Hepatitis Sedunia, program ini sukses menjangkau ratusan peserta dan masih terus berjalan untuk memperluas cakupan perlindungan kesehatan publik.
Perjalanan rangkaian edukasi dan vaksinasi ini dimulai dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, lalu berlanjut ke Fakultas Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah, serta merambah ke Fakultas Farmasi dan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada. Puncak dari rangkaian kegiatan tersebut dipusatkan di FK-KMK UGM dalam format seminar yang memadukan diskusi mendalam serta aksi nyata vaksinasi.
Berkolaborasi dengan mahasiswa Program Studi Doktor angkatan 2024 serta Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK-KMK UGM sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat, acara ini mengangkat tema global Hari Hepatitis Sedunia, "Let’s Break It Down". Sebanyak 375 dosis vaksin berhasil disalurkan khusus bagi sivitas akademika UGM, mulai dari dosen, tenaga kependidikan, hingga para mahasiswa.
Kelompok usia mahasiswa dan dewasa muda nyatanya berada pada kategori yang cukup rentan terhadap penularan hepatitis A. Mengingat pola penularan virus ini umumnya bersumber dari makanan serta air yang telah terkontaminasi, lingkungan kampus dengan aktivitas sosial yang padat tentu membutuhkan perhatian khusus. Terlebih secara klinis, infeksi hepatitis A pada orang dewasa justru cenderung memunculkan manifestasi gejala yang jauh lebih berat dibandingkan ketika menyerang anak-anak. Oleh karena itu, kehadiran program preventif di lingkungan akademis menjadi langkah strategis yang sangat relevan.
“Kebutuhan perlindungan terhadap hepatitis A memang nyata, dan kami percaya edukasi serta vaksinasi tidak bisa dikerjakan sendirian. Karena itu Etana selalu terbuka berkolaborasi dengan siapa pun yang memiliki kepedulian yang sama, mulai dari rumah sakit, perguruan tinggi, organisasi profesi, komunitas olahraga, hingga pemerintah daerah,” ujar Director Anti-Infectious and Vaccine Business Unit Etana, Indra Lamora, dalam keterangan tertulis yang diterima Republika pada Rabu (12/8/2026).
Semangat kolaboratif tersebut turut mendapat sambutan hangat dari dunia pendidikan tinggi. Kampus dinilai tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan di ruang kelas, tetapi juga sebagai pusat percontohan hidup sehat bagi masyarakat luas. Peran aktif institusi pendidikan diyakini mampu mencetak kesadaran jangka panjang demi melindungi generasi masa depan dari ancaman penyakit menular.
“Hepatitis masih menjadi persoalan kesehatan yang perlu ditangani di Indonesia, dan kampus dapat berperan lebih dari sekadar tempat belajar. Edukasi menjadi bentuk percontohan dan vaksin menjadi investasi jangka panjang untuk melindungi generasi selanjutnya,” ujar Wakil Dekan Bidang Kerja Sama, Alumni, dan Pengabdian Kepada Masyarakat UGM, Dr. dr. Sudadi, SpAn-TI, Subsp.N.An(K), Subsp.An.R(K).

4 hours ago
5













































