REPUBLIKA.CO.ID, CALIFORNIA – Rekayasa iklim atau geoengineering kian banyak dibahas sebagai salah satu opsi menekan dampak pemanasan global. Namun, penelitian terbaru menunjukkan teknologi tersebut berpotensi mengganggu sistem iklim bumi apabila diterapkan tanpa pemahaman yang memadai terhadap dampaknya.
Penelitian University of California yang dipublikasikan dalam jurnal Earth’s Future menemukan setiap metode rekayasa iklim memiliki konsekuensi yang berbeda. Sejumlah pendekatan dinilai dapat memicu perubahan besar pada sistem iklim regional, sementara metode lain memberikan dampak yang jauh lebih kecil.
“Kita harus berhati-hati saat mengimplementasikan proposal rekayasa iklim sebelum kita mengerti sepenuhnya apa yang terjadi,” kata penulis utama penelitian, Chen Xing, dikutip dari Science Daily, Sabtu (4/7/2026).
Xing bersama rekannya Cali Pfleger meneliti dampak rekayasa iklim terhadap ekosistem laut dengan fokus pada fenomena El Niño-Southern Oscillation (ENSO), yakni siklus alami perubahan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang memengaruhi pola cuaca di berbagai belahan dunia.
Dalam penelitian tersebut, tim membandingkan dua pendekatan rekayasa iklim yang sama-sama bertujuan memantulkan sebagian sinar matahari kembali ke angkasa agar suhu bumi menurun.
Pendekatan pertama adalah Marine Cloud Brightening (MCB), yakni menyemprotkan partikel garam laut ke atmosfer rendah untuk membuat awan menjadi lebih cerah sehingga memantulkan lebih banyak sinar matahari. Pendekatan kedua adalah Stratospheric Aerosol Injection (SAI), yang menyebarkan partikel sulfat ke lapisan stratosfer agar efek pendinginan terjadi secara lebih merata.
Hasil simulasi menunjukkan penerapan MCB di wilayah timur Samudra Pasifik dapat menurunkan kekuatan ENSO hingga sekitar 61 persen.
“Sangat sulit membuat ENSO berubah sebanyak itu dalam waktu secepat itu,” kata Profesor Rekanan University of California Samantha Stevenson.
Menurut para peneliti, perubahan tersebut dipicu pendinginan permukaan laut dan berkurangnya curah hujan akibat perubahan karakteristik awan. Kondisi tersebut kemudian memengaruhi sirkulasi atmosfer, memperkuat angin di sepanjang khatulistiwa, serta meningkatkan proses naiknya air laut dingin (upwelling) yang akhirnya melemahkan ENSO.
Xing mengatakan, hasil penelitian itu menunjukkan pendekatan MCB di kawasan timur Samudra Pasifik berpotensi memicu konsekuensi yang tidak diinginkan terhadap sistem iklim global.
“Jangan lakukan MCB di atas Samudra Pasifik timur karena hal itu dapat memicu reaksi berantai yang sangat kuat akibat hilangnya ENSO,” ujarnya.
Sebaliknya, pendekatan SAI tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap ENSO karena partikel yang disebarkan menyebar lebih merata di atmosfer sehingga tidak mengubah keseimbangan iklim regional secara drastis.
Meski demikian, Stevenson menegaskan temuan tersebut bukan berarti seluruh pendekatan MCB harus ditinggalkan.
“Kami tidak mengatakan bahwa semua MCB akan membunuh ENSO. Kami hanya mengatakan bahwa ini terjadi jika Anda melakukannya di wilayah spesifik ini,” katanya.
Penelitian tersebut juga mengingatkan bahwa rekayasa iklim dapat menimbulkan dampak lain, termasuk berkurangnya intensitas cahaya matahari yang dibutuhkan untuk fotosintesis. Kondisi itu berpotensi memengaruhi produktivitas pertanian serta ekosistem laut yang menjadi penopang rantai makanan dan penghasil sebagian besar oksigen bumi.
“Dua intervensi bisa mencapai target penurunan suhu global yang sama, namun memiliki dampak iklim regional yang luar biasa berbeda. Pertanyaan paling penting adalah, apakah kita sudah memikirkan semua konsekuensi yang mungkin terjadi?” kata Stevenson.

16 hours ago
14











































