Adaptasi Komunikasi Interpersonal Mahasiswa Malaysia di Indonesia

12 hours ago 11

Image aisyah qaisara

Eduaksi | 2026-07-05 10:32:48

Aisyah Qaisara Binti Sharulazni

Mahasiswa Program Studi Manajemen Haji dan Umrah

Fakultas Agama Islam, Universitas Ibn Khaldun Bogor

https://www.pinterest.com/eduvisormarketing/

Pernahkah Anda berpikir tentang berbicara dalam bahasa yang ‘hampir sama’ dengan bahasa Anda sendiri tetapi membuat orang yang anda ajak bicara mengangkat alis karena kebingungan? Itulah kenyataan bagi banyak mahasiswa Malaysia yang belajar di Indonesia, termasuk saya. Kami fasih berbahasa Melayu dan kami akrab dengan bahasa Indonesia sehingga komunikasi tidak akan menjadi masalah besar. Namun, di balik kesamaan tersebut terdapat jebakan kecil yang sering kali menjadi sumber kesalahpahaman dalam kehidupan sehari-hari. Ini bukanlah hal baru bagi mahasiswa dari internasional yang pergi ke negara lain.

Setiap tahun, ratusan mahasiswa Malaysia melanjutkan studi di berbagai kampus di Indonesia, termasuk Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor. Seperti yang dibahas dalam berbagai buku tentang kehidupan mahasiswa luar negeri, salah satunya adalah artikel “Kehidupan Mahasiswa Luar Negeri: Kisah Bertahan Jauh dari Orang Tua” (Sekolapedia, 2026), masalah yang dihadapi oleh mahasiswa internasional tidak hanya fisik dan finansial, tetapi juga dimensi sosial dan komunikasi yang sering diabaikan. Mereka membawa harapan akademis, dan di sisi lain, tantangan di sini juga yang tidak terlihat dari luar, seperti bagaimana menjalin hubungan yang sehat dengan budaya baru jika keterampilan komunikasi yang mereka miliki tidak sepenuhnya ‘sesuai’ dengan budaya lokal.

Ketika “Sama” Tidak Selalu Berarti “Mengerti”

http://www.freepik.com/

Seperti yang mungkin Anda duga, bahasa Malaysia dan Indonesia jelas berasal dari keluarga yang sama, tetapi bahkan mereka yang telah tinggal di dua budaya yang berbeda dapat melihat bahwa kesamaan tersebut menipu. Ambil contoh kata “bisa”. Bagi orang Indonesia, kata tersebut berarti mampu atau dapat melakukan sesuatu. Namun, bagi orang Malaysia, “bisa” adalah racun atau bisa ular. Bayangkan apa yang akan terjadi jika Anda menggunakannya tanpa definisi yang jelas.

Pengalaman yang paling saya ingat sewaktu di dalam kelas, ketika saya berbicara dengan aksen Malaysia, “saye”, “kenape”, “kene”, “perbezaan”, dan banyak lagi, teman-teman lokal beraksi berbeda. Beberapa tersenyum dan beberapa tampak bingung sejenak sebelum mereka mengerti. Bukan karena mereka tidak ramah, tetapi karena telinga mereka tidak terbiasa dalam bunyi vocal “e” di akhir kata yang umum dalam pengucapan Melayu Malaysia. Apa yang sangat normal dan alami bagi saya tampak tidak bisa dan bahkan lucu bagi mereka.

Di asrama hal ini sama saja, ketika saya meminta teman untuk meminjamkan “selipar”, mereka berhenti sejenak. Ternyata mereka menyebutnya “sandal”. Demikian pula, ketika saya mengatakan “jimat”, yang mereka pahami sebagai “hemat” untuk “kain atau skirt”, mereka mengenalinya “rok” untuk pakaian wanita Muslim. Saya terbiasa bertanya terlebih dahulu dengan bertanya “Ini kalian sebutnya apa?” sebelum menggunakan kosakata yang saya pikir sudah umum. Kebiasaan kecil ini ternyata menjadi jembatan komunikasi yang sangat efektif.

Ada juga tantangan di luar tembok asrama yang saya hadapi ketika saya diundang oleh teman-teman lokal untuk makan bersama. Di sinilah “kamus dadakan” saya tumbuh dengan cepat. Singkong yang disebut “ubi kayu” dalam bahasa Malaysia, disebut “singkong” di banyak bagian dunia lainnya. Nasi uduk yang baunya sangat familiar, sangat mirip dengan nasi lemak di Malaysia, yaitu nasi yang dimasak dengan santan dan disajikan dengan lauk-pauk. Apam balik, camilan favorit saya di Malaysia, juga disebut “martabak manis” di sini. Karipap sekarang disebut “kue pastal”, gorengan sayur disebut “bakwan”, dan masak lemak cili api yang pedas gurih disebut “gulai taboh”. Setiap kali kami makan bersama, saya selalu pulang dengan nama makanan baru untuk diingat. Namun, lebih dari sekadar menghafal nama, momen-momen tersebut sebenarnya adalah yang paling alami untuk membangun kedekatan karena makanan, di mana pun, selalu menjadi bahasa yang paling universal.

Selain kosakata bahasa, gaya bicara memiliki nuansa tersendiri. Mahasiswa Malaysia biasanya terbiasa dengan aksen dan intonasi yang dianggap “kasar” oleh telinga orang Indonesia, meskipun dalam budaya aslinya hal tersebut diucapkan sebagaimana mestinya dan tidak menjadi masalah dengan kata yang akan menyakiti siapa pun. Di Indonesia, cara berbicara yang lebih halus dan tidak langsung juga tidak mudah dipahami oleh mahasiswa Malaysia yang terbiasa berbicara langsung ke intinya. Gaya komunikasi verbal dan nonverbal, yang penting dalam mata kuliah Komunikasi Interpersonal, yang merupakan bagian penting dari penerimaan pesan, sangat menjadi alasan gesekan yang berada di atas perbedaan kosakata.

Di sinilah masalah komunikasi interpersonal menjadi nyata. Komunikasi interpersonal bukan hanya tentang menyampaikan kata-kata, tetapi juga tentang bagaimana pesan diterima di telinga penerima, baik secara verbal maupun nonverbal. Begitu ada ketidakcocokan antara apa yang dimaksud dan apa yang dipahami, itulah yang menciptakan konflik atau jarak sosial, meskipun tidak ada pihak yang memiliki niat buruk. Namun, masalahnya adalah bahwa kesenjangan semacam itu jarang terlihat sampai terlambat, bahkan jika lelucon yang tampaknya tidak berbahaya dan normal disalahartikan dan terlalu banyak diucapkan sedemikian rupa sehingga menjadi terlalu banyak gangguan dan permintaan bantuan terlalu langsung.

Mengapa Inti Lebih Penting daripada Sekadar ‘Masalah Bahasa’

Beberapa orang mungkin melihat perbedaan kosakata sebagai masalah teknis yang dapat diselesaikan dengan kamus atau waktu. Namun, jika kita melihat lebih dalam, hal ini benar-benar penting dalam beberapa hal tentang bagaimana kita mengembangkan hubungan yang bermakna dengan lingkungan baru. Fenomena semacam ini bukanlah hal baru dalam studi komunikasi antarbudaya. Banyak penelitian juga menunjukkan bahwa kelompok bahasa yang saling terkait erat misalnya Melayu Malaysia dan Indonesia mengalami kesalahpahaman yang lebih halus dan sulit dideteksi dibandingkan dengan bahasa yang lebih jelas berbeda. Ketika dua bahasa sangat berbeda, orang lain berhati-hati dan saling memahami lebih baik. Namun, ketika dua bahasa sangat mirip, keakraban tersebut dapat menyebabkan rasa percaya diri yang berlebihan sehingga kesalahpahaman kecil tidak dideteksi hingga berdampak lebih besar pada hubungan sosial.

Dalam studi komunikasi, kita sudah memiliki kerangka untuk memahami situasi ini, yaitu Relationship Management Theory dari Ledingham dan Bruning, yang dikembangkan untuk hubungan masyarakat dan didasarkan pada fakta bahwa keberhasilan komunikasi antara satu pihak dan pihak lainnya, misalnya organisasi dengan publiknya dan individu dengan individu lainnya sangat bergantung pada kualitas hubungan dan bukan pada pesan. Kepercayaan, keterbukaan, komitmen, dan kepuasan adalah empat hal dasar yang menunjukkan kualitas hubungan.

Jika kita meminjam kerangka ini untuk memahami pengalaman mahasiswa luar negeri, maka “budaya lokal” yang mereka miliki pada dasarnya adalah publik yang hanya bisa kita temui dan berinteraksi dengannya. Mahasiswa Malaysia, sadar atau tidak, berurusan dengan manajemen hubungan setiap kali mereka bertemu dengan teman sekelas, dosen, atau anggota komunitas di sekitar kampus. Kesalahpahaman kecil tentang bahasa bukanlah akhir dari cerita, tetapi awal dari proses membangun kepercayaan. Semakin sering kesalahpahaman ini diperbaiki dengan sikap terbuka dan rendah hati, semakin baik hubungan tersebut.

Dan itulah yang membuat masalah ini relevan tidak hanya bagi mahasiswa Malaysia, tetapi juga bagi siapa pun yang pernah merasa seperti orang asing di negara asing, baik itu pekerja migran, mahasiswa pindahan, atau bahkan anggota baru dari sebuah organisasi. Perasaan adaptasi komunikasi, secara umum, adalah pengalaman universal, dan bagaimana kita berhasil melakukannya akan menentukan apakah kita akhirnya merasa diterima oleh orang-orang dalam komunikasi atau kita terus merasa seperti orang luar.

Ada hal lain yang perlu diingat dari sudut pandang komunikasi antarpribadi juga, yaitu bagaimana proses adaptasi ini juga menentukan konsep diri seorang mahasiswa luar negeri. Banyak orang merasa kurang percaya diri ketika pertama kali pergi ke luar negeri, dan mereka tidak ingin mengatakan hal yang salah atau menggunakan konteks yang salah karena mereka tidak bisa berbicara di depan mahasiswa lainnya. Jika mereka melakukannya terlalu lama, mereka hanya tidak ingin berbicara dan pulang ke negara asal mereka, atau terus menghindari interaksi sosial dan hanya berbicara dengan mahasiswa lokal bagi mereka. Dan sebernanya, semakin sering kita mencoba, bahkan ketika tidak peduli seberapa besar rasa malu yang kita rasakan ketika kita mengatakan dan melakukan sesuatu yang salah atau tidak berbicara tentang apa yang kita coba katakan pada saat itu, dan semakin cepat kita dapat membentuk konsep diri positif sebagai individu yang dapat beradaptasi dengan masyarakat di sekitar kita, semakin baik bagi kita. Konsep diri yang sehat ini pada akhirnya adalah kunci untuk membangun hubungan jangka panjang, tidak hanya dengan teman sekelas tetapi juga dengan dosen, staf kampus, dan anggota komunitas, serta lingkungan tempat tinggal.

Belajar Membangun Hubungan, Bukan Hanya Menghindari Kesalahan

Jika kita mengikuti prinsip-prinsip Relationship Management Theory, maka strategi adaptasi yang paling efektif bukanlah menghafal semua perbedaan kosakata sebaik mungkin, karena itu adalah hal yang sulit dilakukan dalam waktu singkat. Langkah selanjutnya lebih penting untuk mengembangkan sikap komunikasi yang mendukung empat elemen hubungan di atas.

Pertama, keterbukaan mahasiswa internasional harus bersedia bertanya ketika ragu daripada berasumsi dalam bahasa asli mereka sendiri, daripada berasumsi kebenaran. Ada banyak yang lebih aman dalam bertanya apa maksudnya daripada berasumsi dan terluka. Dan kedua, dalam hal kepercayaan, konsistensi dalam komunikasi baik berbicara dalam bahasa apa pun atau tidak, sebernanya membangun lebih banyak kepercayaan diri sebagai orang yang jujur dan dapat didekati daripada melemahkannya. Ketiga, keputusan untuk terus belajar budaya lokal dan bahasa serta tidak hanya menunggu orang lain melakukannya juga menunjukkan niat baik dan sering kali lebih diterima. Dan keempat, kepuasan dalam hubungan ini dibangun secara bertahap ketika kedua belah pihak (mahasiswa internasional dan komunikasi lokal) melihat hasil yang sama dan saling menghormati dalam komunikasi mereka.

Saya tidak selalu punya waktu untuk masuk ke dalamnya sejak awal, setidaknya secara pribadi. Saya terkadang sangat gugup tentang apa yang akan saya katakan dan apa yang saya akan pikirkan. Namun, dengan semakin banyaknya sumber komunikasi yang terbuka dan komunikasi yang lebih baik, perbedaan kecil yang dulunya menjadi penghalang percakapan kini menjadi percakapan yang menyenangkan, bahkan menjadi hal yang baru bagi budaya satu sama lain.

Pengalaman ini juga menunjukkan bahwa adaptasi komunikasi tidak selalu perlu dilakukan oleh pendatang baru, seperti teman sekelas, dosen, organisasi kampus juga dapat membantu menciptakan lingkungan yang inklusif. Tanggapan ramah yang hangat dari pihak lokal untuk bertanya kembali, mengoreksi dengan sopan, atau sekadar membiarkan mahasiswa internasional mengeksperikan diri dengan cara mereka sendiri, akan membantu mempercepatkan proses menciptakan hubungan yang setara. Relationship Management Theory mengatakan bahwa hubungan yang baik selalu dua arah, dan keberhasilan adaptasi mahasiswa internasional juga merupakan fungsi dari seberapa jauh lingkungan global akan memahami perbedaan tersebut.

Penutup: Adaptasi adalah Hubungan, Bukan Sekadar Penyesuaian Bahasa

Menjadi mahasiswa internasional mengajarkan kita untuk belajar satu hal penting yaitu beradaptasi komunikasi bukan hanya tentang menerjemahkan kata-kata, tetapi tentang membangun hubungan dengan lingkungan baru. Kesalahpahaman bahasa yang berasal dari budaya Melayu dan Indonesia tidak akan hilang pada orang Melayu dan Indonesia, tetapi kita tidak perlu khawatir jika kedua belah pihak bersedia untuk terbuka, jujur, dan mencoba menjaga hubungan baik serta menjaga kepercayaan mereka. Apa yang membuat seorang migran merasa “betah” bukan hanya berbicara persis seperti penduduk lokal, tetapi mereka yang mengembangkan hubungan nyata di tengah semua perbedaan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |