Mengurangi Risiko Penyakit Berawal dari Piring Kita

19 hours ago 11

Image Resmiati

Info Sehat | 2026-07-27 22:26:18

oleh: Resmiati, Azyyati Ridha Alfian

Tidak sedikit orang yang memilih makanan berdasarkan rasa, harga, atau tampilannya yang menarik. Namun, ada satu hal yang sering terlupakan, yaitu apakah makanan tersebut sehat dan diolah secara higienis. Padahal, makanan yang tampak menggugah selera belum tentu aman untuk dikonsumsi. Di balik hidangan yang terlihat lezat, bisa saja tersembunyi ancaman bakteri, virus, parasit, atau bahan kimia berbahaya yang dapat memicu berbagai penyakit.

ilustrasi

Penyakit yang ditularkan melalui makanan (foodborne diseases) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di berbagai negara, termasuk Indonesia. Kasus keracunan makanan yang terjadi di sekolah, tempat kerja, acara keluarga, hingga rumah makan masih kerap menghiasi pemberitaan. Sebagian besar sebenarnya dapat dicegah apabila setiap orang memahami pentingnya memilih, mengolah, dan mengonsumsi makanan yang sehat serta higienis.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa jutaan orang di seluruh dunia mengalami penyakit akibat makanan yang terkontaminasi setiap tahunnya. Dampaknya tidak hanya berupa diare atau muntah yang bersifat sementara, tetapi juga dapat menyebabkan dehidrasi berat, gangguan ginjal, infeksi serius, bahkan kematian, terutama pada balita, ibu hamil, lansia, dan individu dengan daya tahan tubuh yang rendah.

Ancaman lain datang dari pola konsumsi makanan yang tidak sehat. Makanan tinggi gula, garam, dan lemak memang menggoda lidah, tetapi jika dikonsumsi secara berlebihan dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes melitus, hipertensi, penyakit jantung, hingga stroke. Ironisnya, di era modern kita menghadapi dua tantangan sekaligus: makanan yang tidak sehat dan makanan yang tidak aman. Keduanya sama-sama mengancam kualitas hidup masyarakat.

Kesadaran masyarakat terhadap keamanan pangan perlu terus ditingkatkan. Langkah pertama dimulai dari pemilihan bahan makanan. Konsumen perlu lebih cermat memilih bahan pangan yang segar, tidak rusak, tidak berbau menyimpang, serta berasal dari sumber yang terpercaya. Sayuran dan buah harus dicuci dengan air bersih sebelum dikonsumsi, sementara bahan pangan hewani perlu dimasak hingga matang sempurna untuk membunuh mikroorganisme penyebab penyakit.

Kebersihan tangan juga menjadi faktor yang sangat menentukan. Tangan merupakan media perpindahan kuman yang paling mudah. Mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir sebelum mengolah makanan, sebelum makan, setelah menggunakan toilet, atau setelah memegang bahan mentah merupakan kebiasaan sederhana yang terbukti mampu menurunkan risiko penyakit secara signifikan.

Selain itu, masyarakat perlu memahami pentingnya mencegah kontaminasi silang. Pisau, talenan, dan wadah yang digunakan untuk mengolah daging mentah sebaiknya dipisahkan dari peralatan yang digunakan untuk makanan siap santap. Kebiasaan menggunakan satu talenan untuk semua jenis bahan pangan tanpa dicuci terlebih dahulu masih sering ditemukan di rumah tangga maupun usaha kuliner kecil. Padahal, praktik tersebut dapat menjadi jalur perpindahan bakteri yang berbahaya.

Penyimpanan makanan juga tidak boleh diabaikan. Makanan matang yang dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang akan menjadi tempat ideal bagi pertumbuhan bakteri. Begitu pula makanan yang dipanaskan berulang kali berpotensi mengalami penurunan kualitas gizi dan meningkatkan risiko kontaminasi apabila tidak ditangani dengan benar. Oleh karena itu, penyimpanan pada suhu yang sesuai dan pemanasan hingga merata menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan pangan.

Di lingkungan sekolah, tempat kerja, rumah sakit, hingga kantin umum, penjamah makanan memegang peran yang sangat besar. Mereka harus memahami standar kebersihan diri, menggunakan perlengkapan kerja yang bersih, menjaga kesehatan, serta menerapkan sanitasi selama proses pengolahan dan penyajian makanan. Makanan bergizi tidak akan memberikan manfaat apabila tercemar oleh praktik higiene yang buruk.

Namun, tanggung jawab menjaga keamanan pangan bukan hanya berada di tangan penjual makanan. Konsumen juga harus menjadi lebih kritis. Memilih tempat makan yang bersih, memperhatikan kondisi makanan sebelum dikonsumsi, serta tidak tergoda oleh harga murah tanpa mempertimbangkan aspek keamanan merupakan bentuk perlindungan terhadap kesehatan diri sendiri dan keluarga.

Perkembangan teknologi memberikan peluang baru dalam meningkatkan edukasi masyarakat. Informasi mengenai keamanan pangan kini dapat diakses melalui berbagai platform digital, mulai dari media sosial, aplikasi kesehatan, hingga video edukasi. Namun, derasnya arus informasi juga menuntut masyarakat untuk lebih bijak dalam memilah sumber yang dapat dipercaya. Edukasi berbasis bukti ilmiah harus menjadi rujukan utama agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh mitos atau informasi yang menyesatkan.

Sebagai akademisi, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk terus menghadirkan inovasi dalam promosi kesehatan, penelitian keamanan pangan, serta pendampingan kepada masyarakat dan pelaku usaha kuliner. Melalui kolaborasi antara pemerintah, institusi pendidikan, tenaga kesehatan, dunia usaha, dan masyarakat, budaya konsumsi pangan yang sehat dan aman dapat dibangun secara berkelanjutan.

Pada akhirnya, kesehatan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh kualitas pelayanan kesehatan, tetapi juga oleh apa yang kita konsumsi setiap hari. Sepiring makanan dapat menjadi sumber energi yang menyehatkan, tetapi juga dapat menjadi sumber penyakit apabila tidak dipilih dan diolah dengan benar. Oleh karena itu, membangun budaya hidup sehat harus dimulai dari hal yang paling dekat dengan kehidupan kita, yaitu makanan.

Mengurangi risiko penyakit akibat makanan bukanlah tanggung jawab satu pihak, melainkan gerakan bersama. Ketika masyarakat terbiasa memilih makanan bergizi, menjaga kebersihan selama pengolahan, serta menerapkan prinsip keamanan pangan dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga ikut menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi generasi mendatang. Dari piring yang bersih dan makanan yang aman, lahirlah keluarga yang sehat, masyarakat yang produktif, dan bangsa yang lebih kuat.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |