Lulusan RI Butuh 19,8 Bulan Cari Kerja, Ini Kompetensi yang Kini Dicari Industri

14 hours ago 13

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Rata-rata lulusan perguruan tinggi di Indonesia membutuhkan waktu 19,8 bulan untuk memperoleh pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dunia kerja kini tidak lagi hanya menilai prestasi akademik, tetapi juga kemampuan kepemimpinan, berpikir kritis, berkolaborasi, hingga kemampuan beradaptasi.

Data tersebut mengacu pada Labor Market Brief LPEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) yang dipublikasikan pada Mei 2026 berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025. Studi itu juga menyebutkan proses transisi lulusan ke dunia kerja dipengaruhi oleh ketidaksesuaian kompetensi dengan kebutuhan industri, ekspektasi terhadap pekerjaan, serta belum optimalnya keterhubungan antara pendidikan tinggi dan dunia kerja.

Menjawab tantangan tersebut, Tanoto Foundation menggelar Tanoto Scholars Gathering (TSG) 2026 di Pangkalan Kerinci, Riau, pada 23-25 Juli 2026. Kegiatan yang diikuti 240 penerima beasiswa TELADAN dari 10 perguruan tinggi mitra itu difokuskan pada penguatan kepemimpinan, kolaborasi, inovasi, dan pengembangan karakter agar lebih siap memasuki dunia kerja.

Head of Policy & Advocacy Tanoto Foundation Eddy Henry mengatakan, kepemimpinan yang bermakna selalu berawal dari tujuan yang jelas dan diwujudkan melalui keputusan yang diambil setiap hari.

“Purpose mengingatkan mengapa kita melakukan apa yang kita lakukan, meneguhkan ketika harus mengambil keputusan sulit, dan tetap fokus ketika jalan di depan masih penuh ketidakpastian,” ujar Eddy dalam siaran pers, Sabtu (25/7/2026).

Menurut Eddy, kepemimpinan tidak dibangun secara instan, melainkan melalui kebiasaan belajar, mendengarkan, dan mengambil keputusan yang benar secara konsisten.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengingatkan generasi muda agar memiliki growth mindset dan kemampuan berinovasi untuk menghadapi perubahan kebutuhan industri.

“Inovasi tidak selalu soal menciptakan sesuatu yang benar-benar baru, tapi bisa juga tentang memunculkan nilai atau dampak yang baru, pada sesuatu yang sebelumnya sudah ada. Bahkan, inovasi bisa lahir dari sebuah masalah. Maka, mulailah dari masalah nyata dan dekat dengan kalian untuk diperbaiki,” ujar Yassierli.

Ia menilai Indonesia membutuhkan lebih banyak pemimpin yang mampu melahirkan inovasi agar dapat menjadi innovation nation pada 2045.

Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie mengatakan, perkembangan kecerdasan buatan (AI) membuat lulusan perguruan tinggi harus memiliki kemampuan yang tidak mudah digantikan teknologi.

“Saat ini, pengetahuan sudah berlimpah. Semua hal bisa dicari tahu dengan AI. Itulah pentingnya untuk kita, sebagai manusia yang menerima pendidikan tinggi, untuk bisa melakukan tiga hal penting: menciptakan ilmu, menyalurkan ilmu, dan mengkurasi ilmu. Karena kalau kemampuan kita hanya terbatas pada mencari ilmu, kita bisa dengan mudah digantikan oleh AI,” ujar Stella.

Selama tiga hari penyelenggaraan, peserta mengikuti pelatihan kepemimpinan, kunjungan industri, team building, hingga masterclass yang dirancang untuk memperkuat kemampuan memimpin, bekerja sama, serta menciptakan solusi atas persoalan di masyarakat. Tanoto Foundation juga membuka pendaftaran program beasiswa TELADAN Cohort 2027 bagi mahasiswa semester pertama dari 10 perguruan tinggi mitra.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |