Abu Shaffa
Agama | 2026-07-28 06:58:58
Oleh: Abu Shaffa
Di tengah hiruk-pikuk kota Bogor, seorang lelaki berusia 67 tahun masih setia mendorong gerobak perabot kelilingnya. Dialah Abah Nunu, asal Pamijahan, Tasikmalaya, yang hingga senja usianya tetap memilih jalan panjang bernama perjuangan.
Rutinitas di Balik Gerobak dan Menjaga Shalat
Setiap pagi, Abah Nunu memulai aktivitasnya dari rumah kontrakan sederhana di Bogor. Ia tinggal bersama rekan sesama pedagang perabot. Area jualannya tersebar di beberapa titik: Cimanggu, Taman Yasmin, Cilendek Indah, hingga Menteng Asri. Dengan gerobak tua berisi panci, wajan, sendok, dan berbagai peralatan dapur lainnya, ia menyusuri jalanan kota, kampung dan komplek perumahan. “Yang penting sehat, masih bisa jalan, masih bisa cari makan,” ujarnya dengan senyum khas yang merekah meski kerutan di wajahnya semakin dalam.
Satu hal yang membuat Abah Nunu istimewa adalah konsistensinya dalam beribadah. Di usianya yang tak lagi muda, di tengah terik matahari atau guyuran hujan, ia selalu menyempatkan diri untuk menunaikan shalat tepat waktu.
Saat azan berkumandang, Abah Nunu tak ragu menepikan gerobaknya. Ia mencari masjid atau musala terdekat, meninggalkan barang dagangannya dan bergegas menuju masjid dengan membawa pakaian dan sarung bersihnya. Sikap ini menjadi teladan sederhana namun bermakna: di tengah kerasnya kehidupan, keimanan tetap menjadi prioritas.
Penghasilan yang Kian Tergerus
“Dulu bisa dapat 100 ribu sehari. Sekarang? 30–50 ribu pun sudah syukur,” akunya dengan nada lirih. Itu masih penghasilan kotor. Belum dipotong biaya kontrakan, makan, dan kebutuhan sehari-hari. Di tengah kondisi ekonomi yang sulit — in this economy — daya beli masyarakat menurun drastis. Abah Nunu merasakan dampaknya langsung.
“Dulu orang beli panci baru kalau sudah rusak. Sekarang, ditambal pun masih dipakai,” keluhnya sambil tertawa kecil.
Sepetak Tanah: Harapan di Tanah Kelahiran
Di sela obrolan usai shalat Dhuhur, saya iseng bertanya, “Di Tasik aya sawah teu, Bah?” Abah Nunu tersenyum, “Aya, tadz, sedikit — buat nanem padi,” jawabnya, lalu mulai bercerita.
Setiap 90 hari, dari lahan itu ia hanya bisa memanen sekitar 400 kg Gabah Kering Panen (GKP) dalam kondisi yang paling bagus sekalipun — itu pun jika irigasi lancar dan cuaca mendukung. Seringnya justru hasilnya di bawah itu. Ia merinci, biaya bibit, pupuk, hingga tenaga kerja mencapai Rp1.500.000 per musim tanam. Dari setiap 100 kg GKP, ia harus mengurangi 10 kg untuk biaya penggilingan.
Sambil mendengar Abah bercerita, otak ini mulai muter (hehehe). Dari keterangan yang saya dapat, artinya dari 400 kg GKP, tersisa 360 kg gabah bersih. Dengan harga jual sekitar Rp700.000 per kuintal, pendapatan kotornya hanya Rp2.520.000. Setelah dipotong biaya produksi Rp1.500.000, keuntungan bersih yang ia dapatkan hanya sekitar Rp1.020.000 untuk perjuangan tiga bulan. Saya terdiam, kurang lebih Rp350.000 per bulan atau Rp.11.300/hari, kurang dari harga nasi padang seporsi di Bogor (tentu ini hanya hitungan dalam hati).
Abah pun mengiyakan sembari meneruskan, “Ya, minimal tidak beli beras per bulan untuk keluarga.”
Apakah ceritanya berhenti sampai di situ? Tidak. Beliau bercerita, meskipun panennya tidak pernah mencapai nisab, ia selalu berusaha bersedekah tiap kali panen — membagikan hasil taninya untuk yang lebih membutuhkan. Whaaat?? Saya sempat terdiam mendengarnya dan jujur, saya malu. Selama ini kita mungkin berpikir orang dengan keterbatasan ekonomi jarang bersedekah, seolah-olah sedekah adalah domain orang yang mampu. Tapi di sini terbantahkan, bahkan semakin menguatkan keyakinan saya tentang kebenaran teori “Menggulung Kain Sarung” milik Pak Saleh Widodo rahimahullah: bahwa empati biasanya timbul karena pernah mengalami, atau berada dalam kondisi yang sama.
Dua Dunia, Satu Perjuangan
Abah Nunu adalah gambaran nyata dari jutaan petani dan pedagang kecil di Indonesia. Ia hidup dalam dua dunia yang sama-sama berat:
Di Bogor, ia berjualan dengan penghasilan 30–50 ribu per hari — di usia yang seharusnya beristirahat.
Di Tasikmalaya, sepetak tanah yang memberikan hasil yang — setelah dihitung — hanya menyisakan sekitar Rp11.300 per hari.
Namun ia tak pernah mengeluh berlebihan. Justru di tengah perhitungan yang “menyedihkan” itu, ia masih bersyukur, masih tersenyum, dan masih istiqomah menunaikan shalat di setiap waktunya, dan “membersihkan” hartanya meski tak pernah mencapai nisabnya.
Senja Yang Tetap Berjalan
Saat kami berpamitan, Abah Nunu kembali mendorong gerobaknya. Langkahnya pelan tapi pasti. Di usianya yang senja, semangat dan ketegaran menjalani hidup begitu kuat terasa.
Di balik gerobak perabot yang usang, di balik perhitungan ekonomi yang minim, Abah Nunu mengajarkan sebuah kebenaran sederhana: kebahagiaan tidak diukur dari berapa banyak yang kita miliki, tapi dari seberapa besar kita mensyukuri apa yang ada.
Ketaatan dan kehati-hatian pada agamanya untuk “membersihkan” harta meski tak pernah sampai nisabnya menjadi sebuah pelajaran berharga bagi kami, tidak takut hartanya berkurang karena Allah telah menjamin rezeki setiap mahluk-Nya dan sesuai takarannya.
وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا عِنْدَنَا خَزَائِنُهُ وَمَا نُنَزِّلُهُ إِلَّا بِقَدَرٍ مَعْلُومٍ
“Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah simpanannya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu.” (QS. Al Hijr: 21).
Abah Nunu membuktikannya. Setiap hari. Di jalanan Bogor. Di petak lahan Tasikmalaya. Dan di setiap sujudnya. Ia sedang meniti jalan pulangnya.
pertanyaan buat kita: "Jalan pulang seperti apa yang sedang kita tempuh, untuk bekal akhirat nanti?
Selamat berjuang, Abah Nunu. Semoga setiap langkah dan doa menjadi amal yang tak pernah putus pahalanya. ???? Aamiin
penulis adalah pendamping jamaah NGABITA dan jamaah yang biasa-biasa saja
Catatan:
1. Nisab pertanian adalah 5 wasaq, dikonversi setara 653 kg gabah atau 524 kg beras, dengan kadar zakat 10% dari hasil panen dengan pengairan alami/tadah hujan atau 5% untuk yang menggunakan irigasi berbayar/pompa.
2. Ir. Saleh Widodo (rahimahullah) adalah aktivis pemberdayaan dari Pesantren Pertanian Darul Fallah dan dosen IPB.
3. Artikel ini ditulis berdasarkan obrolan santai usai shalat Dhuhur bersama Abah Nunu seorang penjual perabot keliling dan jamaah NGABITA. Cerita ini adalah potret nyata dari banyaknya pejuang senja di negeri ini yang layak mendapatkan perhatian dan apresiasi kita semua.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

19 hours ago
9




































