Konflik Timur Tengah Mereda, Harga Minyak Dunia Tertekan, ICP Ikut Turun

23 hours ago 14

Petugas melayani pengisian bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax di salah satu SPBU di Jakarta, Rabu (10/6/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran menjadi faktor utama yang mendorong penurunan harga minyak dunia sepanjang Juni 2026. Pemerintah menyebut kondisi tersebut membuat Harga Minyak Mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) turun menjadi rata-rata 83,45 dolar AS per barel dari 106,56 dolar AS per barel pada Mei 2026.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Laode Sulaeman mengatakan ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mulai mereda telah mengurangi tekanan terhadap pasar minyak global.

"Angka ini mengalami penurunan signifikan sebesar 22,50 dolar AS per barel dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 106,56 dolar AS per barel. Penurunan ini secara umum dipengaruhi oleh tensi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang cenderung mereda sepanjang Juni," kata Laode dalam keterangannya di Kantor Ditjen Migas, Gedung Ibnu Soetowo, Jakarta, dikutip Senin (20/7/2026).

Ia menjelaskan, gencatan senjata serta pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap ikut memperlancar distribusi minyak dunia. Pulihnya jalur pelayaran tersebut membuat pasokan global kembali stabil sehingga harga minyak di pasar internasional bergerak turun.

Penurunan harga minyak juga dipengaruhi kondisi fundamental pasar. International Energy Agency (IEA) memproyeksikan permintaan minyak dunia tumbuh 1,1 juta barel per hari, sementara negara-negara OPEC+ kembali meningkatkan produksi.

Rusia juga berencana meningkatkan pasokan minyak untuk memenuhi target OPEC+ pada 2026. Kenaikan pasokan di tengah perlambatan pertumbuhan permintaan semakin menekan harga minyak dunia.

Secara rinci, perkembangan rata-rata harga minyak mentah utama pada Juni 2026 dibandingkan Mei 2026 sebagai berikut:

  • ICP minyak mentah Indonesia turun 23,11 dolar AS per barel, dari 106,56 dolar AS menjadi 83,45 dolar AS per barel.
  • Brent di ICE turun 18,73 dolar AS per barel, dari 103,71 dolar AS menjadi 84,98 dolar AS per barel.
  • WTI di NYMEX turun 16,11 dolar AS per barel, dari 98,51 dolar AS menjadi 82,41 dolar AS per barel.
  • Dated Brent turun 21,42 dolar AS per barel, dari 107,55 dolar AS menjadi 86,13 dolar AS per barel.
  • Basket OPEC turun 23,52 dolar AS per barel, dari 114,55 dolar AS menjadi 91,03 dolar AS per barel, berdasarkan data hingga 28 Juni 2026.

Pemerintah memproyeksikan ICP Juli 2026 berada pada kisaran 67 hingga 71 dolar AS per barel. Laode mengatakan pemerintah akan terus memantau perkembangan geopolitik, pasokan, dan permintaan minyak dunia guna menjaga stabilitas harga serta ketahanan energi nasional.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |