Kisah Ratu Paling Setia di Yunani Menanti Kepulangan Sang Raja!

8 hours ago 4

Image Zata Iwan

Kisah | 2026-08-01 01:11:06

Sumber: Greek Legends and Myth (ilustrasi Ratu Penelope bersama para pelamar yang ingin menikahinya, gambar diedit menggunakan AI Gemini)

Penantian 20 Tahun

Bayangkan pasanganmu pergi merantau lalu kabar terakhirnya 20 tahun lalu tanpa WhatsApp, tanpa telepon, tanpa kabar apakah dia hidup atau mati, sementara itu ratusan orang datang ke rumahmu memintamu menikah dengan mereka.

Apakah kamu masih setia? Bagi kebanyakan orang, jawabannya mungkin "tidak mungkin" tapi bagi Penelope, istri Odysseus dalam film "The Odyssey", itu bukan hanya mungkin itu kenyataan.

Artikel ini akan mengupas tuntas hubungan Penelope dan Odysseus dari kacamata psikologi komunikasi, serta mengungkap teori yang menjelaskan kesetiaan luar biasa mereka.

Dr Emma Bridges Penulis buku “Warriors' Wives: Ancient Greek Myth and odern Experience” menjelaskan, berpisahnya Penelope dan Odysseus demi operasi militer besar-besaran ke Kota Troya.

Menggambarkan Ratu Penelope sebagai sosok istri yang setia menunggu kepulangan suaminya dari bertugas, dalam Kisah Odyssey karya Homer hal ini masih bisa dilihat hingga zaman modern seperti sekarang.

Ketika seorang istri ditinggal oleh suaminya yang merupakan seorang Tentara demi menjalankan tugasnya, lalu suaminya dilaporkan menghilang dan sama sekali tidak ada kabar.

Konsep “ambiguous loss” yang dirasakan Penelope berdampak pada kondisi psikologisnya, bagaimana seorang istri yang ditinggalkan suaminya bertugas lalu menghilang tanpa mengetahui kabarnya sama sekali.

Attachment Theory dan Ambiguous Loss

Teori yang paling relevan untuk menjelaskan kesetiaan Penelope adalah Attachment Theory (Teori Kelekatan) yang dikembangkan oleh John Bowlby dan Mary Ainsworth, dikombinasikan dengan konsep Ambiguous Loss dari psikolog Pauline Boss.

Attachment Theory menjelaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan bawaan, untuk membentuk ikatan emosional yang kuat dengan orang tertentu.

Dalam hubungan romantis orang dengan secure attachment (kelekatan aman) cenderung mempertahankan komitmen meskipun menghadapi jarak, waktu, dan ketidakpastian.

Mereka percaya bahwa pasangan mereka akan kembali, dan ikatan itu tetap kuat meski terpisah secara fisik, sementara itu Ambiguous Loss merujuk pada situasi di mana seseorang mengalami kehilangan tanpa kepastian.

Mengutip dari Sina.com keterikatan (attachment) antara Penolope dan Odysseus, terbentuk melalui kesamaan intelektual dan spiritual mereka.

Dalam artikel berjudul “Odyssey: Analisis Psikologis Cinta Odysseus dan Penelope” itu dijelaskan Oddysseus dikenal sebagai Raja yang cerdas dan seorang ahli strategi perang, istrinya Penelope juga sama cerdasnya dalam menghadapi ratusan pelamar.

Kondisi Ambiguous yang dialami Penelope jauh lebih menyakitkan secara psikologis, daripada kehilangan yang jelas (seperti kematian).

Karena tidak ada "penutupan" yang memungkinkan proses berduka selesai, namun Penelope menunjukkan resilience yang tinggi dengan tetap mempertahankan harapan dan tidak menyerah pada tekanan ratusan pelamar.

Mengapa Teori Ini Relevan dengan Penelope dan Odysseus?

Hubungan Penelope dan Odysseus bukan sekadar cinta romantis melainkan partnership berbasis kecerdasan dan nilai bersama, Odysseus dikenal sebagai pria paling cerdik dalam Perang Troya, sementara Penelope juga menunjukkan kecerdasan strategis.

Dengan trik "menenun siang hari, mengurai malam hari" untuk menunda pernikahan dengan pelamar, kecocokan intelektual ini menciptakan secure attachment yang kuat.

Mereka saling percaya, saling menghormati, dan memiliki tujuan bersama yakni mempertahankan keluarga dan kerajaan, selain itu selama 20 tahun terpisah, Penelope menghadapi ambiguous loss yang ekstrem.

Dia tidak tahu apakah Odysseus masih hidup, apakah dia akan kembali, atau apakah dia sudah menikah dengan perempuan lain.

BR Mulikin Penulis Jurnal Sastra NETCRIT menjelaskan jika disederhanakan kenapa cinta antara Penelope dan Odysseus begitu kuat?, jawabannya adalah karena Penelope masih yakin Odysseus akan kembali dan Odysseus juga sangat mencintai istrinya.

Dalam Jurnal berjudul “The Reunion of Odysseus and Penelope in the Odyssey” itu dijelaskan, penjelasan sederhana seperti itu terlalu menyepelekan konsep cinta dalam dunia sastra Yunani.

Penelope mengubah ketidakpastian itu menjadi motivasi untuk bertahan, dia menolak semua pelamar, menjaga istana, dan membesarkan putra kesayangan mereka Telemachus.

Dengan keyakinan bahwa suatu saat suaminya akan pulang, konsep dan paradigm seniman Yunani Kuno tentang cinta sepasang kekasih yang tulus tidak sesederhana itu.

Adegan Kunci yang Menunjukkan Teori Ini

Beberapa adegan dalam film “The Odyssey” dengan jelas menggambarkan bagaimana teori ini berlaku Penelope berulang kali menolak ratusan pria yang datang melamarnya, meskipun mereka menawarkan kekayaan, kekuasaan, dan perlindungan.

Ini menunjukkan komitmen emosional yang kuat pada Odysseus bukan sekadar kewajiban sosial, Penelope berkata akan memilih suami baru setelah selesai menenun kain untuk ayah Odysseus.

Setiap malam, dia mengurai kembali apa yang dia tenun siang hari, Ini adalah strategi koping aktif untuk menghadapi ambiguous loss dia menciptakan kontrol dalam situasi yang tidak pasti.

Ketika Odysseus akhirnya pulang (dalam wujud pengemis) Penelope tidak langsung mengakuinya, dia menguji Odysseus dengan menanyakan tentang ranjang pernikahan mereka.

Bruno Currie Penulis Jurnal Studi Sejarah Yunani Cambridge University menjelaskan, pada kisah Odyssey karya Homer diceritakan Penelope mengenali Odysseus setelah 20 tahun menghilang.

Pertemuan kembali Penelope dan Odysseus sampai Penelope mengenali suaminya merupakan proses panjang, di mana Penelope harus memastikan bahwa pengemis yang dihadapannya benar-benar suaminya.

Hanya Odysseus asli yang jawaban dari pertanyaan Penelope tentang ranjang mereka, adegan ini menunjukkan trust but verify kepercayaan yang didasari oleh pengetahuan intim.

Setelah ujian berlalu Penelope dan Odysseus akhirnya berpelukan dan menangis, ini adalah pelepasan emosional dari 20 tahun tekanan, ketidakpastian, dan kerinduan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |