Ketika yang Hijau Akhirnya Menjadi Jerami

16 hours ago 17

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ada saatnya manusia begitu sibuk mengejar sesuatu hingga lupa bertanya: setelah berhasil meraihnya, untuk apa semua itu? Usia dihabiskan untuk menambah harta, memperindah penampilan, memperluas pengaruh, dan memastikan diri tidak tertinggal dari orang lain. Namun, sebelum satu keinginan benar-benar menenteramkan hati, keinginan berikutnya telah datang meminta dipenuhi.

Al-Qur’an tidak melarang manusia bekerja, memiliki harta, mencintai keluarga, atau menikmati karunia yang halal. Akan tetapi, Al-Qur’an mengingatkan bahwa semua itu dapat berubah menjadi tabir apabila dunia tidak lagi ditempatkan sebagai jalan, melainkan dijadikan tujuan terakhir. Dalam Surah Al-Hadid ayat 20, Allah memperlihatkan dunia seperti hamparan tanaman yang semula hijau dan memukau, lalu menguning, mengering, dan akhirnya hancur.

اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ

I‘lamū annamal-ḥayātud-dun-yā la‘ibuw wa lahwuw wa zīnatuw wa tafākhurum bainakum wa takāṡurun fil-amwāli wal-aulād. Kamaṡali gaiṡin a‘jabal-kuffāra nabātuhū ṡumma yahīju fa tarāhu muṣfarran ṡumma yakūnu ḥuṭāmā. Wa fil-ākhirati ‘ażābun syadīduw wa magfiratum minallāhi wa riḍwān. Wa mal-ḥayātud-dun-yā illā matā‘ul-gurūr.

“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, ajang saling berbangga di antara kamu, serta perlombaan memperbanyak harta dan anak. Perumpamaannya seperti hujan yang menumbuhkan tanaman sehingga membuat para petani kagum. Kemudian tanaman itu mengering, lalu engkau melihatnya menguning, dan akhirnya menjadi hancur. Di akhirat terdapat azab yang keras, tetapi juga ampunan dari Allah dan keridaan-Nya. Kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang dapat memperdaya.” (QS Al-Hadid [57]: 20). Teks ayat dan makna dasarnya selaras dengan Mushaf Al-Qur’an dan terjemahan Kementerian Agama RI.

Ayat ini hadir dalam rangkaian seruan agar manusia tidak diperbudak oleh kehidupan yang sebentar. Setelah menggambarkan dunia yang lekas berlalu, ayat berikutnya menyeru manusia untuk berlomba menuju ampunan Allah dan surga. Susunan ini penting: Al-Qur’an tidak berhenti pada peringatan tentang kefanaan, tetapi segera menunjukkan ke mana tenaga, waktu, dan cita-cita manusia semestinya diarahkan.

Nilai Kehidupan Dunia

Ibnu Katsir menerangkan bahwa melalui ayat ini Allah menunjukkan kecilnya nilai kehidupan dunia apabila dibandingkan dengan kehidupan akhirat. Dunia disebut sebagai permainan, kelalaian, perhiasan, saling membanggakan diri, serta perlombaan memperbanyak harta dan keturunan. Itulah gambaran dunia ketika ia menguasai hati manusia dan menjadi pusat seluruh cita-citanya.

Permainan menyibukkan seseorang dalam waktu tertentu, tetapi tidak menghasilkan sesuatu yang kekal. Senda gurau dan kelalaian membuat hati teralihkan dari perkara yang lebih penting. Perhiasan memikat mata, tetapi keindahannya tidak bertahan selamanya. Saling berbangga membuat manusia mengukur harga dirinya melalui pandangan orang lain. Adapun perlombaan memperbanyak harta dan anak dapat mendorong seseorang merasa lebih tinggi hanya karena memiliki lebih banyak daripada orang di sekitarnya.

Ibnu Katsir menghubungkan bagian ini dengan Surah Ali Imran ayat 14 yang menjelaskan bahwa kecintaan terhadap berbagai kesenangan, keluarga, kekayaan, kendaraan, ternak, dan lahan pertanian, telah dibuat terasa indah bagi manusia. Namun, semua itu hanyalah kesenangan kehidupan dunia, sedangkan tempat kembali yang terbaik berada di sisi Allah.

Dengan demikian, persoalannya bukan terletak pada keberadaan harta, keluarga, pekerjaan, atau kedudukan. Persoalan muncul ketika hal-hal tersebut menjadi ukuran mutlak kemuliaan, mengalihkan manusia dari ketaatan, atau membuatnya merasa seakan-akan dunia inilah satu-satunya kehidupan.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |