Iran Jajaki Kembali Ekspor Minyak ke Jepang, Manfaatkan Keringanan Sanksi

15 hours ago 11

REPUBLIKA.CO.ID, DUBAI -- Iran mulai menjajaki kembali ekspor minyak mentah ke Jepang setelah memperoleh keringanan sanksi (waiver) dari Amerika Serikat (AS). Namun, calon pembeli di Jepang meminta masa berlaku waiver diperpanjang serta adanya jaminan keamanan pelayaran sebelum memutuskan kembali mengimpor minyak dari Iran. Mengutip sejumlah sumber, dikutip dari Japan Times pada Senin (6/7/2026), waiver tersebut diterbitkan pada 22 Juni sebagai bagian dari pembicaraan damai selama 60 hari antara Teheran dan Washington. Masa berlaku kebijakan itu akan berakhir pada 21 Agustus 2026.

Dua sumber Iran yang mengetahui pembahasan tersebut mengatakan tiga perusahaan Jepang sedang mempertimbangkan pembelian minyak mentah dari Iran. Jika terealisasi, transaksi itu akan menjadi impor pertama Jepang dari Iran sejak 2019.

Sementara itu, sumber industri yang mengetahui proses tersebut menyebut pembicaraan awal antara pejabat Jepang dan Iran mengenai kemungkinan penjualan minyak masih berlangsung.

Pejabat Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang (Ministry of Economy, Trade and Industry/METI) mengaku belum mengetahui adanya pembahasan tersebut. Kementerian Luar Negeri Jepang maupun Departemen Keuangan AS juga belum memberikan tanggapan atas permintaan konfirmasi.

Jepang, Korea Selatan, India, dan sejumlah negara Eropa menghentikan impor minyak Iran setelah AS memperketat sanksi menyusul keputusan Presiden Donald Trump menarik negaranya dari perjanjian nuklir Iran pada 2018. Dalam beberapa tahun terakhir, China menjadi pembeli utama minyak Iran.

Seorang pejabat METI sebelumnya menyatakan pembelian minyak Iran sepenuhnya menjadi keputusan perusahaan swasta. Namun, ia menilai masih terdapat ketidakpastian mengingat waktu pengiriman yang panjang serta adanya kontrak pasokan yang telah berjalan dengan pemasok lain.

Selain itu, aspek keamanan pelayaran juga menjadi perhatian utama.

Seorang pejabat senior Iran mengatakan setiap kesepakatan dengan Jepang membutuhkan perpanjangan masa berlaku waiver dari AS karena waktu pelayaran dari Iran menuju Jepang cukup panjang.

Menurut dia, pengiriman minyak akan dilakukan melalui Pulau Kharg sebagai terminal ekspor utama Iran dengan menggunakan kapal tanker yang dioperasikan perusahaan Jepang.

Pejabat senior Kementerian Perminyakan Iran juga mengatakan National Iranian Oil Company (NIOC) telah menghubungi pelanggan-pelanggan tradisional, termasuk Jepang. Iran menyampaikan keinginannya agar para pembeli tersebut kembali mengimpor minyak apabila kesepakatan damai tercapai dan sanksi dicabut.

Kementerian Perminyakan Iran belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.

Meski demikian, keamanan pelayaran di Selat Hormuz masih menjadi tantangan. Hingga kini belum ada kepastian mengenai mekanisme pelayaran setelah tercapainya kesepakatan damai permanen antara Iran dan AS.

Pekan lalu, sebuah kapal kontainer dilaporkan diserang pasukan Iran di Selat Hormuz. Korps Garda Revolusi Iran juga menyatakan seluruh kapal yang melintasi selat tersebut harus lebih dahulu memperoleh persetujuan dari mereka.

Badan Pelayaran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan masih terdapat sekitar 80 ranjau laut yang mengapung di bagian tengah Selat Hormuz.

Seorang pejabat senior dari salah satu perusahaan penyulingan minyak terbesar di Jepang mengatakan tantangan terbesar dalam rencana impor minyak Iran adalah memperoleh perlindungan asuransi bagi kapal pengangkut.

Sementara itu, sejumlah pelaku perdagangan dan analis menilai waiver sementara dari AS belum cukup menarik bagi perusahaan penyulingan besar di Asia yang saat ini memiliki persediaan minyak memadai. Kondisi tersebut diperkirakan membuat kilang-kilang independen di China tetap menjadi pembeli utama minyak Iran.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |