REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tekanan jual investor asing masih membayangi pasar saham domestik. Sepanjang pekan 29 Juni hingga 3 Juli 2026, investor asing mencatatkan penjualan bersih (net sell) sebesar Rp 2,9 triliun di pasar reguler sehingga menahan laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ditutup melemah 0,35 persen ke level 5.875.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Hari Rachmansyah mengatakan arus keluar dana asing menunjukkan pelaku pasar global masih bersikap hati-hati terhadap pasar saham Indonesia. Kondisi tersebut membuat ruang penguatan IHSG masih terbatas meski tekanan jual mulai mereda.
"Investor asing masih mencatatkan net sell sebesar Rp 2,9 triliun dalam sepekan. Ini menunjukkan sentimen terhadap pasar saham domestik masih cenderung berhati-hati," ujar Hari dalam risetnya, Senin (6/7/2026).
Ia mengatakan tekanan terhadap IHSG juga datang dari dalam negeri. Aktivitas manufaktur Indonesia pada Juni kembali masuk fase kontraksi dengan Purchasing Managers' Index (PMI) berada di level 46,9. Sementara itu, inflasi meningkat menjadi 3,34 persen secara tahunan dari 3,08 persen pada Mei sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap daya beli masyarakat dan arah kebijakan suku bunga.
Dari sisi eksternal, pasar juga masih mencermati arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed. Meski data ketenagakerjaan AS lebih lemah dari perkiraan sehingga meredakan ekspektasi kenaikan suku bunga, investor tetap menunggu risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan moneter berikutnya.
Memasuki perdagangan pekan ini, Hari memperkirakan perhatian investor akan tertuju pada sejumlah data ekonomi domestik, seperti cadangan devisa, indeks keyakinan konsumen, dan penjualan ritel. Selain itu, pergerakan nilai tukar rupiah, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), serta arus dana asing juga diperkirakan menjadi faktor penentu arah IHSG.
IPOT menilai IHSG masih berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan berhati-hati. Meski koreksi mulai terbatas, kualitas pemulihan dinilai belum cukup kuat karena nilai transaksi menurun dan arus keluar dana asing masih berlanjut. Untuk pekan ini, area support IHSG diperkirakan berada pada kisaran 5.800 hingga 5.760, sedangkan resistance berada pada level 5.950 hingga 6.050.
Karena itu, Hari menyarankan investor tidak terburu-buru menambah kepemilikan saham, terutama pada saham dengan likuiditas rendah. Menurut dia, strategi yang lebih aman adalah melakukan pembelian secara bertahap dan memprioritaskan saham-saham berkapitalisasi besar yang memiliki likuiditas tinggi.
"Strategi yang paling prudent saat ini adalah defense first. Hindari averaging down secara agresif, gunakan strategi masuk bertahap, dan prioritaskan saham-saham big caps yang likuid," katanya.
IPOT merekomendasikan sejumlah saham yang dapat dicermati investor pada pekan ini, antara lain PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA).
Selain saham, investor dengan profil risiko konservatif juga dapat mempertimbangkan obligasi pemerintah seri FR106 dan FR101 yang dinilai masih menawarkan imbal hasil menarik.
sumber : Antara

13 hours ago
28

















































