Ini Alasan Saudi Kepincut Kembangkan Jet Tempur KAAN

9 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH – Kerajaan Arab Saudi kian gencar mendekati Turki untuk bersama-sama membangun jet tempur generasi kelima KAAN. Apa alasan di balik ketertarikan pada alat tempur yang juga dilirik negara-negara mayoritas Muslim tersebut?

Terungkapnya rencana kerja sama Saudi-Turki ini tak lama setelah Presiden AS Donald Trump menyetujui penjualan pesawat tempur siluman F-35 ke Arab Saudi. Namun, menurut Eurasian Times, laporan ketertarikan Arab Saudi terhadap KAAN pertama kali muncul pada tahun 2024, ketika kerajaan itu dilaporkan mempertimbangkan pembelian setidaknya 100 jet tempur KAAN. 

Kabar itu disusul pertemuan antara pejabat pertahanan Turki dan Saudi, termasuk Komandan Angkatan Udara Saudi Turki bin Bandar Al Saud, Wakil Menteri Pertahanan Saudi Khaled Bin Hussein Al Biyari, dan Kepala Kepresidenan Industri Pertahanan Turki Haluk Gorgun.

Pada saat itu, para analis mengatakan bahwa kedua belah pihak sedang membangun hubungan pertahanan yang sudah ada, seperti pembelian drone Akinci oleh Arab Saudi. “Arab Saudi mungkin mengupayakan produksi bersama dan transfer teknologi untuk KAAN, serupa dengan pengaturan yang dibuat untuk Bayraktar Akinci UCAV,” media Turki, Türkiye Today, melaporkan pada saat itu.

Pada Februari 2025, CEO Turkish Aerospace Industries (TAI) Mehmet Demiroglu mengatakan secara terbuka bahwa Arab Saudi dan Turki bekerja sama secara erat dalam KAAN dan bahwa proyek tersebut pada akhirnya mungkin akan melibatkan mitra asing lainnya, seperti Uni Emirat Arab.

Pada saat itu, Arab Saudi sedang berupaya meningkatkan angkatan udaranya dengan pesawat generasi kelima di tengah keengganan AS untuk menjual F-35 ke Riyadh. Arab Saudi akhirnya mendapat persetujuan dari Presiden AS Donald Trump untuk membeli pesawat tempur siluman F-35 Lightning II pada November 2025 setelah kedua belah pihak menandatangani “perjanjian pertahanan strategis bersejarah” saat kunjungan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman ke Washington, DC.

Presiden AS tidak mengungkapkan jumlah jet yang akan dijual, namun laporan sebelumnya menyebutkan bahwa Riyadh secara resmi meminta 48 pesawat tempur F-35. Ada spekulasi jumlah jet bisa dikurangi menjadi dua skuadron, atau 24 pesawat.

Persoalannya, pembelian tersebut meskipun ada penolakan keras dari Israel, yang khawatir bahwa pengiriman pesawat tempur siluman canggih ini dapat melemahkan Keunggulan Militer Kualitatif di Timur Tengah.

AS memiliki perjanjian jangka panjang dengan Israel, yang menetapkan bahwa senjata AS yang dipasok ke Israel harus memiliki “kemampuan yang lebih unggul” dibandingkan dengan yang dijual ke negara lain di Asia Barat. Israel juga menentang penjualan F-35 ke Turki dan Arab Saudi.

Faktanya, beberapa pejabat dan pakar pertahanan mengatakan kepada Reuters bahwa AS dapat menjual varian F-35 yang lebih rendah spesifikasinya ke Arab Saudi untuk mengatasi kekhawatiran Israel dan pada saat yang sama memperkuat hubungan dengan Riyadh.

Sifat penurunan kecanggihan tersebut tidak diketahui dan belum diakui secara resmi oleh kedua negara. Namun, para analis mengatakan F-35 Saudi bisa dibuat lebih lemah secara teknologi dibandingkan jet Israel berdasarkan paket perangkat lunak yang dibuat untuk jet tersebut.

Perangkat lunak F-35 mengatur fusi sensor, berbagi data, dan perencanaan misi, dan AS dapat mengintegrasikan F-35 Saudi dengan konfigurasi dasar yang kurang mumpuni, membatasi akses terhadap pembaruan spektrum penuh, penargetan berbasis AI, dan alat yang berpusat pada jaringan yang disukai Israel.

Sejauh ini, AS sudah menyetujui potensi penjualan rudal pertahanan udara Patriot senilai sekitar 9 miliar dolar AS ke Arab Saudi di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran di kawasan. Namun, masih belum ada kabar kapan kesepakatan F-35 akan ditandatangani, dan berapa banyak pesawat yang akan dibeli kerajaan tersebut.

Artinya ada unsur ketakpastian soal penjualan F-35 dari AS ke Saudi. Walaupun transaksi itu berjalan, F-35 yang didapat Saudi bakal lebih rendah kualitasnya dari yang dikirim AS ke Israel. Ini membuat rencana Saudi membangun KAAN dengan Turki jadi pilihan masuk akal.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |