Industri Keramik Nikmati Dampak Pembatasan Impor, Utilisasi Pabrik Terus Naik

6 hours ago 7

REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG -- Industri keramik nasional mulai menikmati dampak positif dari kebijakan pemerintah yang memperketat masuknya produk impor. Pelaku industri menilai kebijakan antidumping serta penguatan penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) membuat produk keramik dalam negeri semakin kompetitif dan mampu meningkatkan pemanfaatan kapasitas produksi.

Chief Executive Officer PT Platinum Ceramics Industry Liem May Tjoe mengatakan regulasi pemerintah tersebut menjadi salah satu faktor yang membantu industri keramik bertahan sekaligus berkembang di tengah berbagai tantangan.

"Kalau sekarang karena pemerintah memberikan regulasi yang sedikit menghambat masuknya produk impor. Jadi kita sangat terbantu dengan itu. Kalau dari sisi produk impor itu sekarang ini pemerintah sangat support kami. Ini yang kami ingin dipertahankan," kata May Tjoe dalam acara MURI Awarding Ceremony di Indo Build Tech Expo, ICE BSD City, Tangerang, Rabu (8/7/2026).

Menurut May Tjoe, sebelum kebijakan tersebut diterapkan, industri keramik nasional menghadapi tekanan akibat derasnya arus produk impor, terutama dari China dan India. Kondisi itu membuat persaingan di pasar domestik semakin berat bagi produsen lokal.

Namun, setelah pemerintah memperketat pengawasan terhadap produk impor, peluang industri dalam negeri untuk menguasai pasar domestik mulai meningkat.

"Sekarang produk impornya nggak masuk, kami yang berkembang," ujarnya.

Meski demikian, May Tjoe mengatakan industri keramik masih menghadapi sejumlah tantangan lain, terutama tingginya biaya energi dan distribusi. Menurut dia, harga gas yang belum kompetitif serta meningkatnya biaya logistik masih menjadi hambatan bagi pelaku industri.

"Untuk pengiriman ekspedisi yang agak mulai susah. Itu sedikit menghambat kita," katanya.

Karena itu, ia berharap pemerintah tetap mempertahankan berbagai kebijakan yang melindungi industri nasional agar momentum pertumbuhan tersebut tidak kembali melemah.

Optimisme serupa disampaikan Ketua Umum Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (ASAKI) Edy Suyanto. Ia mengatakan industri keramik Indonesia justru menunjukkan tren positif ketika industri keramik global masih mengalami perlambatan.

Menurut Edy, produksi keramik dunia turun dari sekitar 15,9 miliar meter persegi pada 2021 menjadi sekitar 11 miliar meter persegi pada 2024 atau menyusut hampir 30 persen.

Sebaliknya, utilisasi industri keramik nasional terus meningkat. Tingkat utilisasi pabrik naik dari 66 persen pada 2025 menjadi sekitar 73 persen pada tahun ini dan diproyeksikan kembali meningkat hingga mencapai 75 persen pada 2026.

"Capaian ini menunjukkan industri keramik Indonesia tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga terus tumbuh meski masih menghadapi tantangan berupa harga gas yang tinggi, pelemahan daya beli masyarakat, serta persaingan dengan produk impor," ujar Edy.

Di tengah prospek industri yang mulai membaik, PT Platinum Ceramics Industry juga memperkenalkan inovasi Titanium Big Slab Glow in The Dark yang meraih Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai keramik slab pertama di Indonesia dengan efek menyala dalam gelap (afterglow effect).

May Tjoe mengatakan pengembangan produk tersebut membutuhkan waktu sekitar satu tahun. Inovasi itu menjadi bukti bahwa industri keramik nasional mampu menghasilkan produk premium yang dapat bersaing dengan produk luar negeri.

"Kami ingin membuktikan bahwa kami bisa berinovasi, kami nggak kalah dengan produk-produk dari luar," katanya.

Ia optimistis prospek industri keramik nasional akan terus membaik apabila pemerintah tetap konsisten memberikan dukungan terhadap produk dalam negeri.

"Optimis. Bahkan sampai ke depan kelihatannya kalau pemerintah terus men-support kami, harusnya industri keramik ini bisa terus berkembang," ujar May Tjoe.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |