Gaji Masuk, Tugas Menumpuk: Strategi Finansial Mahasiswa Pekerja

16 hours ago 7

Image Qoirunnisa

Gaya Hidup | 2026-08-01 19:49:12

Bekerja sambil kuliah bukan lagi hal yang asing. Banyak mahasiswa memilih menjadi karyawan sambil melanjutkan pendidikan demi membantu biaya kuliah, menambah pengalaman, atau bahkan menjadi penopang ekonomi keluarga. Beruntungnya, kini banyak perguruan tinggi yang menyediakan kelas karyawan dengan jadwal yang lebih fleksibel. Perkuliahan hanya dilaksanakan satu kali dalam seminggu, misalnya setiap hari Kamis, sehingga mahasiswa tetap dapat bekerja pada hari-hari lainnya.

Sekilas, jadwal kuliah yang hanya satu hari terlihat lebih ringan dibandingkan kelas reguler. Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu. Tugas tetap harus dikerjakan, presentasi tetap harus dipersiapkan, diskusi kelompok tetap berjalan, bahkan tidak sedikit mahasiswa yang harus mencicil tugas di sela-sela jam istirahat kerja atau mengerjakannya larut malam setelah pulang bekerja.

Di tengah rutinitas tersebut, ada satu hal yang sering terlupakan, yaitu mengatur keuangan. Ketika gaji masuk ke rekening, rasanya semua kebutuhan bisa terpenuhi. Akan tetapi, tanpa disadari, baru memasuki pertengahan bulan saldo rekening sudah mulai berkurang. Menjelang akhir bulan, sebagian mahasiswa bahkan harus lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran agar uang yang tersisa cukup sampai gajian berikutnya.

Sumber : Internet

Kondisi seperti ini sebenarnya cukup umum dialami mahasiswa pekerja. Bukan semata-mata karena penghasilannya kecil, tetapi karena pengeluaran sering kali tidak direncanakan. Ada biaya makan, transportasi, kuota internet, cicilan kuliah, hingga pengeluaran kecil yang tampak sepele, seperti membeli kopi sebelum bekerja atau memesan makanan secara daring ketika sedang lembur. Jika dijumlahkan, pengeluaran kecil tersebut bisa menghabiskan sebagian besar gaji.

Padahal, memiliki penghasilan sejak masih kuliah adalah kesempatan yang baik untuk belajar mengelola keuangan. Pengalaman ini akan menjadi bekal ketika nanti memasuki dunia kerja secara penuh. Sayangnya, tidak semua mahasiswa menyadari pentingnya kebiasaan tersebut sejak dini.

Mengatur Gaji Dimulai Sejak Hari Pertama

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan adalah menggunakan uang tanpa membuat rencana terlebih dahulu. Setelah gaji diterima, muncul keinginan membeli barang yang sudah lama diincar atau menikmati hasil kerja keras dengan berbelanja. Tidak ada yang salah dengan memberi penghargaan kepada diri sendiri. Namun, jika dilakukan tanpa batas, kebutuhan yang lebih penting justru bisa terabaikan.

Membuat anggaran sebenarnya tidak serumit yang dibayangkan. Mahasiswa cukup membagi penghasilan ke dalam beberapa kebutuhan utama. Misalnya untuk biaya kuliah, kebutuhan sehari-hari, transportasi, tabungan, dan dana darurat. Setelah semuanya dialokasikan, barulah sisa uang dapat digunakan untuk kebutuhan lain.

Cara sederhana ini membantu seseorang mengetahui ke mana uangnya akan digunakan sebelum benar-benar dibelanjakan. Dengan demikian, peluang menghabiskan gaji secara impulsif menjadi lebih kecil.

Sumber : Internet

Pengeluaran Kecil yang Sering Tidak Disadari

Banyak mahasiswa pekerja merasa tidak pernah membeli barang mahal, tetapi tetap kesulitan menyisihkan uang. Jika diperhatikan lebih detail, penyebabnya justru berasal dari pengeluaran kecil yang dilakukan hampir setiap hari.

Membeli kopi sebelum masuk kerja, jajan setelah pulang kantor, ongkos transportasi tambahan karena pulang lebih malam, hingga biaya langganan aplikasi digital sering kali dianggap bukan masalah. Padahal, jika semua pengeluaran tersebut dihitung selama satu bulan, jumlahnya bisa mencapai ratusan ribu rupiah.

Hal yang sama juga terjadi ketika hari Kamis tiba, yaitu jadwal kuliah. Banyak mahasiswa mengeluarkan biaya tambahan untuk makan bersama teman, mencetak materi kuliah, membeli alat tulis, atau sekadar nongkrong setelah perkuliahan selesai. Aktivitas tersebut tentu menyenangkan karena menjadi kesempatan bertemu teman-teman yang hanya dijumpai seminggu sekali. Namun, tetap diperlukan pengendalian agar tidak mengganggu kondisi keuangan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |