Danantara Siapkan Merger Pelita Air ke Garuda Indonesia, Ini Strateginya

10 hours ago 11

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Danantara bersama BP BUMN mendorong konsolidasi maskapai BUMN dengan menggabungkan Pelita Air dan Garuda Indonesia sebagai langkah memperkuat industri penerbangan nasional.

“Kelak Garuda Indonesia akan menjadi holding maskapai kita. Pelita Air akan menjadi bagian dari Garuda Indonesia,” ujar Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Dony Oskaria dalam keterangan resminya, Sabtu (25/7/2026).

Dony meyakini konsolidasi maskapai BUMN akan memperkuat kapasitas grup dalam menghadapi persaingan industri penerbangan.

“Dengan konsolidasi ini, perusahaan-perusahaan tersebut akan memiliki kemampuan yang lebih kuat untuk bersaing dan menguasai pasar,” ujar Dony.

Selain memperkuat struktur korporasi, Dony menekankan industri penerbangan merupakan bisnis yang membutuhkan ketelitian tinggi serta pengambilan keputusan yang cepat dalam setiap aspek operasional agar kinerja perusahaan tetap terjaga.

“Industri yang membutuhkan ketelitian, yang harus dikelola day by day, minute by minute, adalah industri penerbangan. Begitu pesawat terbang, kita sudah bisa mengukur untung atau ruginya satu penerbangan. Karena itu, penting melakukan analisis terhadap setiap rute dan konektivitas,” ujar Dony.

Selaras dengan hal tersebut, BP BUMN dan Danantara juga mendorong peningkatan standar layanan Garuda Group secara menyeluruh, mulai dari pre-flight, in-flight, hingga post-flight.

Penguatan layanan dilakukan melalui integrasi sistem penjualan tiket, peningkatan kualitas lounge, pengalaman di dalam kabin, standar pelayanan awak pesawat, kualitas katering, penguatan program loyalitas pelanggan, serta pengembangan sumber daya manusia (SDM).

Melalui konsolidasi dan peningkatan kualitas layanan di seluruh rantai perjalanan penumpang, Garuda Group diharapkan mampu menjadi maskapai pilihan utama masyarakat Indonesia sekaligus meningkatkan daya saing sebagai pemain utama di tingkat regional.

Presiden Prabowo Subianto saat memberikan taklimat pada Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (20/7/2026), menyatakan uang negara yang dihemat setelah menutup, melakukan merger, dan mengonsolidasikan 250 BUMN hingga 31 Juli 2026 mencapai Rp 50 triliun.

Penghematan tersebut, kata Prabowo, merupakan biaya rutin (overhead cost) yang dapat dihemat karena negara tidak lagi perlu menggaji direksi, komisaris, membayar sewa gedung beserta listriknya, dan pengeluaran lainnya dari 250 BUMN tersebut.

Pada kesempatan itu, Presiden Prabowo menargetkan pada akhir 2026 jumlah BUMN yang tersisa maksimal 350 BUMN dari semula 1.077 BUMN.

"Mereka (Danantara, red.) menyanggupi," kata Prabowo.

Jika perampingan tersebut terwujud, Presiden meyakini anggaran yang dapat dihemat mendekati Rp 70 triliun hingga Rp 80 triliun. Oleh karena itu, Presiden juga meyakini Danantara merupakan salah satu capaian penting pemerintahannya.

sumber : Antara

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |