BI Catat Uang Beredar Melambat Jadi 8,7 Persen

12 hours ago 9

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) mencatat likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) tumbuh 8,7 persen secara year on year (yoy) pada Juni 2026. Pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang masih tercatat dua digit. Sementara itu, penyaluran kredit tumbuh positif sebesar 12,1 persen, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 10,8 persen.

“Posisi M2 pada Juni 2026 tercatat sebesar Rp 10.432,8 triliun atau tumbuh 8,7 persen (yoy), melanjutkan pertumbuhan pada Mei 2026 sebesar 10,8 persen (yoy). Perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 9,8 persen (yoy) dan uang kuasi sebesar 6,9 persen (yoy),” kata Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan resmi, Kamis (23/7/2026).

M1 dengan pangsa 56,9 persen dari M2 pada Juni 2026 tercatat sebesar Rp 5.937,5 triliun atau tumbuh 9,8 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan Mei 2026 yang tumbuh 15,3 persen (yoy). Perkembangan M1 dipengaruhi oleh pertumbuhan giro rupiah sebesar 10,4 persen (yoy), melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh 23,9 persen (yoy). Adapun uang kartal di luar bank umum dan BPR serta tabungan rupiah yang dapat ditarik sewaktu-waktu masing-masing tumbuh 15,9 persen (yoy) dan 6,8 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan Mei 2026 yang masing-masing tumbuh 16,6 persen (yoy) dan 8,3 persen (yoy).

Kemudian, uang kuasi dengan pangsa 42,3 persen dari M2 pada Juni 2026 tercatat tumbuh 6,9 persen (yoy) menjadi Rp 4.409,3 triliun, meningkat dibandingkan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 6 persen (yoy). Peningkatan tersebut terutama disebabkan oleh pertumbuhan simpanan berjangka sebesar 6 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan Mei 2026 yang sebesar 3,3 persen (yoy).

Lebih lanjut, Denny menjelaskan, perkembangan M2 pada Juni 2026 terutama dipengaruhi oleh penyaluran kredit dan tagihan bersih kepada pemerintah pusat. BI mencatat penyaluran kredit dan tagihan bersih kepada pemerintah pusat sama-sama masih tumbuh dua digit.

“Penyaluran kredit pada Juni 2026 tercatat sebesar Rp 8.916,7 triliun, tumbuh 12,1 persen (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan 10,8 persen (yoy) pada Mei 2026. Sementara itu, tagihan bersih kepada pemerintah pusat tumbuh 10,1 persen (yoy), melanjutkan pertumbuhan 37,4 persen (yoy) pada Mei 2026,” jelasnya.

Peningkatan penyaluran kredit didorong oleh kenaikan kredit kepada debitur korporasi dan perorangan yang masing-masing tumbuh 19,3 persen (yoy) dan 3,5 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang masing-masing sebesar 17,2 persen (yoy) dan 3,4 persen (yoy).

Berdasarkan jenis penggunaan, Kredit Modal Kerja (KMK) pada Juni 2026 tumbuh 9,6 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 7,9 persen (yoy). Peningkatan KMK terutama didorong oleh penyaluran kredit kepada sektor industri pengolahan dan konstruksi.

Kredit Investasi (KI) pada Juni 2026 tumbuh menjadi 22,5 persen (yoy), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 20,5 persen (yoy). Peningkatan KI terutama ditopang oleh penyaluran kredit pada sektor konstruksi dan industri pengolahan.

Adapun Kredit Konsumsi (KK) pada Juni 2026 tumbuh relatif stabil sebesar 5,7 persen (yoy), sedikit lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 5,8 persen (yoy). Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh kredit kepemilikan rumah (KPR) dan kredit kepemilikan apartemen (KPA), serta kredit real estat yang tumbuh masing-masing sebesar 4,4 persen (yoy) dan 14 persen (yoy). Angka tersebut lebih rendah dibandingkan Mei 2026 yang masing-masing sebesar 4,7 persen (yoy) dan 14,5 persen (yoy). Sementara itu, kredit kendaraan bermotor mengalami kontraksi sebesar 9,9 persen (yoy), lebih dalam dibandingkan kontraksi 9,4 persen (yoy) pada bulan sebelumnya.

Penyaluran kredit properti pada Juni 2026 tumbuh 17,6 persen (yoy), meningkat dibandingkan Mei 2026 yang sebesar 17,2 persen (yoy). Peningkatan tersebut terutama didorong oleh kredit konstruksi yang tumbuh 47,1 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 44,6 persen (yoy).

“Penyaluran kredit kepada UMKM pada Juni 2026 tumbuh sebesar 1 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,6 persen (yoy), didorong oleh kredit usaha mikro, kecil, dan menengah yang masing-masing tumbuh 1,5 persen (yoy), 0,1 persen (yoy), dan 1,6 persen (yoy),” ungkapnya.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |