Sri Purwaningsih
Pendidikan | 2026-06-24 11:48:07
Bantul , 24 Juni 2026 – Dalam beberapa minggu ini, musim penerimaan siswa baru selalu menjadi momen krusial yang menguras energi dan emosi. Di balik hiruk-pikuk pendaftaran tersebut, ada fenomena menarik yang tak pernah absen setiap tahunnya yaitu pemandangan para ibu atau ibu-ibu yang berada di garda terdepan, berjibaku mencari sekolah terbaik untuk buah hati mereka.
Dari memelototi layar ponsel demi memantau jurnal seleksi, hingga mendatangi langsung sekolah tujuan, para ibu ini mendadak berubah menjadi "analis data" dan "manajer strategi" demi memastikan anak mereka mendapatkan bangku sekolah.
Ronda Gadget dan Perjuangan Melawan Sistem
Perjuangan mencari sekolah baru di era digital saat ini menuntut para ibu untuk melek teknologi. Banyak dari mereka yang rela begadang atau bangun di sepertiga malam hanya untuk mengakses server pendaftaran agar tidak mengalami crash.
Sejak jalur zonasi dan prestasi dibuka, HP tidak pernah lepas dari tangan. Setiap jam ngecek posisi nama anak di jurnal pendaftaran online. Kalau posisi anak melorot ke bawah, rasanya jantung ikut copot," ungkap seorang ibu , salah satu orang tua yang sedang memperjuangkan anaknya masuk ke jenjang sekolah lanjutan.
Lika-liku yang dihadapi pun sangat beragam. Mulai dari mengurus berkas administrasi yang mendadak kurang, kebingungan mengukur titik koordinat rumah pada peta digital, hingga beradu argumen secara sehat di grup WhatsApp paguyuban untuk berbagi informasi valid mengenai kuota sekolah.
Ragam Strategi dan Rencana Cadangan
Fenomena ini juga menunjukkan betapa taktisnya para ibu dalam menyusun rencana. Ketika satu jalur pendaftaran dirasa tidak aman, mereka dengan cepat mengaktifkan Plan B hingga Plan C.
Survei Mandiri: Jauh-jauh hari sebelum pendaftaran dibuka, banyak ibu yang sudah mendatangi sekolah-sekolah incaran untuk mencari tahu iklim belajar, fasilitas, hingga ekstrakurikuler yang tersedia.
Menghitung Peluang: Mereka mendadak mahir menghitung statistik nilai, memprediksi batas bawah nilai yang diterima pada tahun sebelumnya, hingga mengalkulasi jarak rumah dalam satuan meter.
Menyiapkan Mental Anak: Di samping sibuk dengan urusan teknis, para ibu juga menjadi benteng emosional bagi sang anak, menenangkan mereka agar tidak stres menghadapi proses seleksi yang ketat.
Di balik ketegangan dan lelahnya fisik, fenomena perjuangan para ibu ini adalah wujud nyata dari cinta tanpa batas. Bagi mereka, pendidikan adalah investasi terbaik untuk masa depan anak. Tak heran jika di sela-sela kesibukan melengkapi berkas, lantunan doa-doa terbaik tidak pernah putus mereka panjatkan.
Pihak sekolah dan praktisi pendidikan pun sangat mengapresiasi keterlibatan aktif para ibu ini. Kedekatan ibu dengan proses awal masuk sekolah dinilai mampu memberikan rasa aman bagi anak dalam bertransisi ke lingkungan belajar yang baru.
Ketika pengumuman resmi akhirnya keluar dan nama sang anak tertera di lembar kelulusan, segala peluh, air mata, dan malam-malam tanpa tidur seolah menguap begitu saja, berganti dengan sujud syukur dan senyum kelegaaan seorang ibu.(pur)
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

12 hours ago
11








































