R@hman _Al Hikmah
Agama | 2026-07-25 11:26:41
Di sudut masjid, sejenak ku termenung sambil melirihkan dzikir, memutar kembali episode hidup yang sedang berjalan dan yang telah berlalu. Tak terasa air mata membasahi telapak tangan yang kugunakan untuk menutup wajahku yang penuh harap memohon kepada-Nya. Ada masa... ketika aku begitu sibuk meminta hidup yang mudah.Aku berdoa..._"Ya Allah... jauhkan aku dari kesulitan."_Namun rupanya...Allah lebih mencintaiku daripada keinginanku sendiri.
Maka Dia tidak selalu mengabulkan jalan yang mudah. Dia justru mengajarkanku cara menjadi kuat.Dulu...aku mengira ujian adalah tanda bahwa Allah sedang menjauh.Kini aku mengerti...Barangkali... ujian adalah cara Allah mengajakku lebih dekat. Sebab saat dunia tak lagi mampu menopang langkahku, hanya sajadah yang masih setia menampung air mataku. Dan saat semua pintu terasa tertutup, ternyata langit sedang membuka pintunya.Betapa sering kita meminta bunga, namun Allah memberikan hujan.
Padahal...tak ada taman yang mekar tanpa lebih dahulu dicium oleh hujan. Tak ada pelangi yang lahir tanpa langit yang sempat menangis. Dan tak ada jiwa besar yang tumbuh tanpa ditempa oleh luka.Ya Allah...Ajarkan aku mencintai ujian. Bukan karena aku mencintai rasa sakit. Tetapi karena aku percaya... Di balik setiap air mata, Engkau sedang mencuci hatiku. Di balik setiap kehilangan, Engkau sedang mengosongkan tanganku agar lebih kuat menggenggam-Mu.
Di balik setiap penantian, Engkau sedang mengajariku bahwa waktu terbaik selalu milik-Mu.Bukankah emas tak akan menjadi indah jika enggan masuk ke dalam api?, bukankah mutiara tak akan lahir jika kerang tak bersabar memeluk luka?, Lalu mengapa aku ingin menjadi hamba yang bercahaya, tetapi menolak proses yang Allah pilihkan?Rasulullah ﷺ bersabda, _"Apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka. Barang siapa ridha, maka baginya keridhaan Allah. Dan barang siapa murka, maka baginya kemurkaan Allah."_(HR. At-Tirmidzi no. 2396, hasan sahih)Betapa indahnya... Ternyata ujian bukan selalu bahasa murka.Kadang...ia adalah bahasa cinta.
Bahasa yang hanya dipahami oleh hati yang percaya bahwa Allah tak pernah salah memilih takdir.Allah pun berfirman, فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا_"Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."_(QS. Al-Insyirah: 5–6)Perhatikan...Allah tidak mengatakan,_"Setelah kesulitan ada kemudahan."_Tetapi..._"Bersama kesulitan ada kemudahan."_Artinya...Bahkan ketika engkau masih menangis, rahmat Allah sedang bekerja. Bahkan ketika engkau merasa sendiri, pertolongan Allah sedang mendekat.Mungkin...hari ini kita belum memahami mengapa Allah memilih jalan yang terjal.
Namun suatu hari nanti... ketika kita berdiri di hadapan-Nya, barulah kita berkata,_"Ya Allah... Sekarang aku mengerti. Ternyata luka itu adalah jalan yang Engkau gunakan untuk membawaku pulang."_Maka...Wahai hati...Jangan membenci ujianmu. Bisa jadi... Di situlah Allah sedang membangun versi terbaik dirimu.
Jangan iri kepada mereka yang jalannya tampak mudah. Sebab kita tidak pernah tahu, siapa yang sedang dimanjakan dunia, dan siapa yang sedang dipersiapkan untuk kemuliaan di sisi Allah. Teruslah melangkah. Menangislah jika perlu.
Beristirahatlah jika lelah.Tetapi...jangan pernah berhenti berharap. Karena Allah tidak pernah menyia-nyiakan setetes air mata yang jatuh demi mencari ridha-Nya.Dan jika suatu hari engkau mampu tersenyum di tengah ujianmu,ketahuilah...Bukan karena bebanmu telah ringan. Tetapi karena hatimu telah belajar mencintai cara Allah mencintaimu._"Ya Allah... jika ujian adalah jalan menuju cinta-Mu, maka kuatkan langkah kami untuk melaluinya.
Jangan kecilkan ujian kami, tetapi besarkan hati kami agar mampu memandang setiap takdir sebagai pelukan kasih sayang-Mu. Hingga kelak, ketika semua telah usai, kami dapat berkata dengan penuh syukur: 'Setiap luka yang Engkau titipkan, ternyata sedang mengantarkanku menuju-Mu.'" Aamiin yaa Rabbal 'Aalamiin
Serial dalam Buku : "99 Catatan Cinta Seorang Da'i"
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

6 hours ago
9







































