Ternyata FOMO Bisa Picu Krisis Iklim

9 hours ago 7

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Budaya konsumsi berlebih atau overconsumption dinilai bisa mempercepat krisis iklim. Konsumsi berlebih salah satunya disebabkan fenomena fear of missing out (FOMO) yang dipicu media sosial.

Konsumsi berlebih memicu peningkatan produksi barang secara masif yang berdampak langsung pada kenaikan emisi gas rumah kaca. Semakin tinggi konsumsi, semakin besar pula energi, bahan baku, dan transportasi yang dibutuhkan, mulai dari proses produksi hingga distribusi.

Selain itu, pola konsumsi berlebih juga menghasilkan lonjakan sampah, terutama dari produk sekali pakai. Limbah ini tidak hanya menumpuk di tempat pembuangan akhir, tetapi juga menghasilkan emisi metana yang mempercepat pemanasan global.

Yayasan Partisipasi Muda (YPM) mendorong peningkatan kesadaran generasi muda terhadap dampak pola konsumsi tersebut. Isu ini mengemuka dalam seminar dan workshop di Kampus UI belum lama ini.

Kegiatan bertajuk “From FOMO to Overconsumption: Ketika Tren Jadi Toxic Buat Bumi” ini melibatkan 95 peserta dari kalangan pelajar hingga mahasiswa di wilayah Jabodetabek. Forum ini juga diisi diskusi lintas perspektif, mulai dari akademisi, pemerintah, hingga pelaku usaha.

Akademisi FISIP UI Muhammad Imam mengatakan, fenomena overconsumption perlu diatasi melalui kebijakan yang tegas. Peran generasi muda dinilai penting dalam mendorong perubahan tersebut.

“Orang muda untuk aktif terlibat dalam proses kebijakan, bukan hanya sebagai pengamat, tetapi sebagai aktor perubahan,” kata Imam seperti dikutip pada Sabtu (25/4/2026).

Dari sisi pemerintah, Humas Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Adam Faza Gimnastiar menjelaskan pergeseran pendekatan pengelolaan lingkungan. Kebijakan kini mulai bergerak dari pendekatan end of pipe ke arah preventif berbasis Sustainable Consumption and Production (SCP).

“Pemerintah berperan sebagai regulator, fasilitator, sekaligus katalisator dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat,” ujar Adam.

Dari sektor industri, Sustainability & External Affairs Assistant perusahaan FMCG Ariq Gilang Narendra menilai keberlanjutan tidak bisa berjalan parsial. Dunia usaha dinilai perlu bergerak seiring kebijakan publik dan kolaborasi lintas sektor.

“Jadi penting menerapkan SCP di seluruh rantai nilai bisnis,” ujar Ariq.

Co-Founder dan Direktur Eksekutif YPM Neildeva Despendya menyoroti dampak krisis iklim terhadap generasi muda, termasuk meningkatnya risiko eco-anxiety. Ia menilai masih ada kesenjangan antara kebijakan pemerintah dan kebutuhan anak muda.

“Masih terdapat kesenjangan antara kebijakan pemerintah dan kebutuhan nyata generasi muda-yang perlu dijembatani melalui partisipasi bermakna,” ujar Neildeva.

Setelah seminar, peserta mengikuti Focus Group Discussion untuk menyusun policy brief. Simulasi ini dirancang untuk melatih proses negosiasi dan pengambilan keputusan lintas aktor kebijakan.

Rekomendasi yang dihasilkan diharapkan menjadi kontribusi nyata generasi muda dalam mendorong kebijakan konsumsi dan produksi berkelanjutan.

“Melalui program ini, YPM menegaskan komitmen melawan budaya overconsumption sekaligus membangun kesadaran konsumsi bukar sekadar aktivitas ekonomi, tetapi juga tindakan politis yang berdampak langsung pada masa depan lingkungan dan arah pembangunan bangsa,” ujar Neildeva.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |