Skill Vs Ijazah: Mana yang Sebenarnya Lebih Dibutuhkan?

4 hours ago 9

Image Cndrawhyueka

Eduaksi | 2026-07-08 19:28:23

Di era modern seperti sekarang, pertanyaan tentang “mana yang lebih penting antara skill atau ijazah” semakin sering muncul. Banyak anak muda mulai mempertanyakan apakah pendidikan formal benar-benar menjadi penentu utama kesuksesan seseorang. Di sisi lain, dunia kerja terus berubah dan menuntut kemampuan yang lebih praktis dibanding sekadar nilai akademik. Fenomena ini memunculkan perdebatan yang menarik: apakah ijazah masih menjadi tolok ukur utama, atau justru keterampilan yang kini lebih dibutuhkan?

Selama bertahun-tahun, masyarakat memandang ijazah sebagai tiket menuju masa depan yang lebih baik. Semakin tinggi pendidikan seseorang, maka semakin besar pula peluang mendapatkan pekerjaan yang layak. Pola pikir tersebut tidak sepenuhnya salah, karena pendidikan formal memang memberikan dasar pengetahuan, kedisiplinan, dan pengakuan resmi terhadap kemampuan seseorang. Banyak perusahaan juga masih menjadikan ijazah sebagai syarat utama dalam proses rekrutmen.

Namun, perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan industri mulai mengubah cara pandang tersebut. Dunia kerja saat ini bergerak sangat cepat. Perusahaan tidak hanya membutuhkan orang yang memiliki teori, tetapi juga individu yang mampu bekerja, beradaptasi, dan menyelesaikan masalah secara nyata. Kemampuan komunikasi, kreativitas, penguasaan teknologi, hingga kemampuan bekerja dalam tim menjadi nilai yang semakin penting.

Tidak sedikit orang yang memiliki ijazah tinggi tetapi kesulitan bersaing karena minim keterampilan praktis. Sebaliknya, ada banyak individu yang berhasil membangun karier bahkan tanpa latar belakang pendidikan tinggi karena memiliki skill yang relevan. Fenomena ini dapat dilihat dari berkembangnya profesi di bidang digital seperti desain grafis, content creator, programmer, hingga digital marketing yang lebih menonjolkan portofolio dan kemampuan dibanding nilai akademik semata.

Meski demikian, bukan berarti ijazah tidak lagi penting. Dalam beberapa bidang tertentu seperti pendidikan, kesehatan, hukum, dan pemerintahan, ijazah tetap menjadi syarat utama yang tidak dapat digantikan. Ijazah juga masih berfungsi sebagai bukti bahwa seseorang pernah menjalani proses pendidikan formal dan memiliki dasar kompetensi tertentu.

Permasalahan sebenarnya bukan terletak pada memilih skill atau ijazah, melainkan bagaimana keduanya dapat berjalan seimbang. Sayangnya, sistem pendidikan di Indonesia masih sering terlalu fokus pada teori dan nilai akademik. Banyak siswa yang diajarkan untuk mengejar angka tinggi, tetapi kurang dibekali kemampuan praktis yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.

Akibatnya, banyak lulusan yang merasa “kaget” ketika memasuki dunia kerja. Mereka menyadari bahwa dunia nyata membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan menghafal materi pelajaran. Dunia kerja menuntut kemampuan berpikir kritis, komunikasi yang baik, pengalaman, serta kemampuan beradaptasi dengan perubahan.

Karena itu, pendidikan seharusnya mulai berorientasi pada pengembangan keterampilan nyata tanpa mengabaikan pentingnya akademik. Sekolah dan perguruan tinggi perlu memberikan lebih banyak praktik, proyek lapangan, serta pelatihan yang relevan dengan kebutuhan industri. Di sisi lain, generasi muda juga perlu menyadari bahwa belajar tidak cukup hanya di ruang kelas. Mengembangkan skill secara mandiri melalui pengalaman, pelatihan, dan teknologi menjadi hal yang sangat penting di era sekarang.

Pada akhirnya, skill dan ijazah bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Ijazah dapat membuka pintu kesempatan, tetapi keterampilanlah yang menentukan seberapa jauh seseorang mampu bertahan dan berkembang. Di tengah persaingan dunia kerja yang semakin ketat, kombinasi antara pendidikan dan kemampuan nyata akan menjadi kunci utama untuk menghadapi masa depan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |