Muhammad Ismail
Teknologi | 2026-07-08 14:44:58
Muhammad Ismail, Mahasiswa Mata Kuliah Filsafat dan Etika Komunikasi, Dosen Pengampu Asep Rahman Umbara, M.Ikom. Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah mengubah cara manusia memperoleh informasi, bekerja, hingga berkomunikasi. Kini, banyak orang menjadikan AI sebagai tempat bertanya, mencari solusi, bahkan mencurahkan perasaan yang sulit disampaikan kepada orang lain. Fenomena ini menunjukkan bahwa AI tidak lagi dipandang sekadar sebagai alat teknologi, tetapi mulai berperan sebagai teman berdialog.
Sumber: https://pin.it/2nrjlKFPD (Pinterest)
Di balik kemudahan tersebut, muncul pertanyaan yang perlu dikaji secara kritis. Apakah curhat kepada AI benar-benar mampu menggantikan komunikasi antarmanusia? Apakah hubungan emosional yang dibangun dengan AI tetap memiliki nilai etis? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi penting karena komunikasi pada hakikatnya bukan hanya pertukaran informasi, melainkan juga proses membangun empati, tanggung jawab, dan saling memahami. Seiring berkembangnya AI, isu transparansi, akuntabilitas, serta perlindungan privasi dalam komunikasi digital juga menjadi perhatian penting.
Dalam perspektif filsafat, manusia dipandang sebagai makhluk yang berpikir, memiliki kesadaran, serta mampu memberi makna terhadap pengalaman hidupnya. AI memang dapat menghasilkan respons yang cepat dan tampak memahami emosi pengguna, tetapi AI tidak memiliki kesadaran, pengalaman hidup, maupun tanggung jawab moral sebagaimana manusia. Respons yang diberikan merupakan hasil pengolahan data dan pola bahasa, bukan hasil empati yang benar-benar dirasakan.
Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran Martin Buber melalui konsep I–Thou (Aku–Engkau) dan I–It (Aku–Benda). Menurut Buber, hubungan I–Thou merupakan relasi yang dibangun atas dasar pengakuan terhadap sesama manusia sebagai pribadi yang utuh, sehingga melahirkan empati, kepercayaan, dan keterbukaan. Sebaliknya, hubungan I–It memandang pihak lain sebagai objek atau alat (Anderson et al., 2018). Dalam konteks curhat kepada AI, relasi yang terbentuk lebih mendekati konsep I–It karena AI hanyalah teknologi yang memproses informasi tanpa memiliki kesadaran, pengalaman hidup, ataupun kemampuan merasakan emosi sebagaimana manusia. Oleh karena itu, AI dapat membantu memberikan perspektif, tetapi tidak dapat menggantikan hubungan interpersonal yang autentik.
Selain itu, Jürgen Habermas melalui teori Tindakan Komunikatif menjelaskan bahwa tujuan komunikasi adalah mencapai kesepahaman bersama melalui dialog yang rasional, terbuka, dan bebas dari dominasi. Habermas menekankan bahwa pemahaman tidak dibangun oleh satu pihak saja, melainkan melalui komunikasi intersubjektif yang memungkinkan setiap individu menyampaikan pendapat secara setara dan terbuka terhadap argumentasi yang lebih baik. Dalam konteks penggunaan AI, proses tersebut belum sepenuhnya terwujud karena AI tidak memiliki kesadaran moral maupun kemampuan berdialog sebagai subjek yang setara (Paonganan, 2026). Oleh sebab itu, AI lebih tepat diposisikan sebagai alat bantu refleksi daripada pengganti komunikasi antarmanusia.
Fenomena curhat kepada AI juga dapat dijelaskan melalui Social Presence Theory. Teori ini menjelaskan bahwa persepsi seseorang terhadap kehadiran lawan bicara dapat dipengaruhi oleh media atau antarmuka digital yang digunakan (wikipedia, n.d.). Ketika AI memberikan respons yang cepat, personal, dan menggunakan bahasa yang empatik, pengguna dapat merasa seolah-olah sedang berbicara dengan seseorang yang benar-benar hadir. Namun, kehadiran tersebut bersifat psikologis, bukan kehadiran nyata yang disertai kesadaran, pengalaman hidup, serta hubungan timbal balik sebagaimana komunikasi antarmanusia. Akibatnya, pengguna berpotensi membangun kedekatan emosional yang sebenarnya hanya merupakan persepsi terhadap sistem AI.
Sumber: https://pin.it/6GPp4boSy (Pinterest)
Jika ditinjau dari etika komunikasi, terdapat beberapa risiko ketika seseorang terlalu bergantung kepada AI sebagai tempat mencurahkan perasaan. Pertama, risiko berkurangnya komunikasi interpersonal. Ketika seseorang lebih nyaman berbicara dengan AI daripada keluarga atau sahabat, hubungan sosial dapat menjadi semakin renggang. Padahal komunikasi antarmanusia mengandung unsur empati, kepercayaan, serta dukungan emosional yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi.
Kedua, terdapat risiko terhadap privasi pengguna. Informasi pribadi yang disampaikan kepada layanan AI perlu dijaga dengan hati-hati, terutama data yang bersifat sensitif. Ketiga, AI dapat menghasilkan jawaban yang terdengar meyakinkan, tetapi belum tentu benar, lengkap, atau sesuai dengan konteks yang dihadapi pengguna. Oleh karena itu, AI tidak seharusnya dijadikan sebagai pengambil keputusan utama dalam persoalan kehidupan, kesehatan, hukum, maupun hubungan sosial.
Perspektif tersebut diperkuat oleh konsep Ethical AI yang menekankan empat prinsip utama, yaitu transparency (transparansi), fairness (keadilan), privacy and security (privasi dan keamanan), serta accountability (akuntabilitas). Transparansi mengharuskan pengguna memahami bahwa AI bekerja berdasarkan data dan algoritma, bukan karena memiliki kesadaran atau perasaan. Prinsip keadilan mengingatkan bahwa AI masih berpotensi menghasilkan bias karena dipengaruhi oleh data pelatihan. Prinsip privasi dan keamanan menekankan pentingnya menjaga kerahasiaan informasi pribadi pengguna, sedangkan akuntabilitas mengharuskan pengembang AI bertanggung jawab terhadap dampak yang ditimbulkan oleh sistem yang mereka bangun (Pangeanic, 2023). Keempat prinsip tersebut menunjukkan bahwa penggunaan AI harus dilakukan secara bertanggung jawab agar manfaat teknologi tidak mengorbankan hak dan keamanan pengguna.
Dengan demikian, AI merupakan inovasi yang sangat bermanfaat untuk membantu memperoleh informasi, berdiskusi, maupun melakukan refleksi diri. Namun, AI tidak dapat menggantikan komunikasi antarmanusia yang dibangun melalui empati, kepercayaan, tanggung jawab moral, dan dialog yang autentik.
Kemajuan AI merupakan peluang besar untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, termasuk dalam membantu proses belajar, bekerja, dan mencari informasi. Namun, penggunaan AI sebagai tempat curhat perlu disikapi secara bijaksana. AI dapat menjadi media refleksi awal, tetapi bukan pengganti hubungan antarmanusia yang dibangun melalui empati, kejujuran, dan tanggung jawab.
Melalui perspektif filsafat Martin Buber, teori tindakan komunikatif Jürgen Habermas, Social Presence Theory, serta prinsip-prinsip Ethical AI, dapat dipahami bahwa teknologi seharusnya memperkuat nilai-nilai kemanusiaan, bukan menggantikannya. Oleh sebab itu, masyarakat perlu memanfaatkan AI secara proporsional, menjaga privasi, berpikir kritis terhadap setiap respons yang diberikan AI, serta tetap menjadikan komunikasi langsung dengan sesama manusia sebagai fondasi utama dalam membangun hubungan sosial yang sehat dan bermakna.
Referensi
Anderson, C. R., Cissna, K. N., Littlejohn, S. W., & Foss, K. A. (2018). Encyclopedia of Communication Theory I and Thou.
Pangeanic. (2023). The 4 pillars of Ethical AI – and why they’re important to Machine Learning. https://blog.pangeanic.com/the-4-pillars-of-ethical-ai-and-why-theyre-important-to-machine-learning
Paonganan, S. (2026). Tindakan Komunikatif Jurgen Habermas : Relevansinya terhadap Pembentukan Ilmu Pengetahuan dalam Ruang Publik Digital. 32, 841–852. https://doi.org/10.33503/paradigma.v32i1.3328
wikipedia. (n.d.). Social presence theory. https://en.wikipedia.org/wiki/Social_presence_theory
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

8 hours ago
12






































