Saat Dunia Gagal Menjaga Kemanusiaan, Haji Merekonstruksi Peradaban (Bagian 2)

3 hours ago 8

Oleh: Setiawan Budi Utomo, Pemerhati Ekonomi Syariah dan Kebijakan Publik, Wakil Ketua IAEI

REPUBLIKA.CO.ID -- Dalam Khutbah Wada' itu pula Rasulullah SAW menegaskan:

“Tidak ada keutamaan orang Arab atas non-Arab, tidak pula non-Arab atas Arab; tidak pula yang berkulit putih atas yang hitam, kecuali karena takwa.”

Pernyataan ini lahir berabad-abad sebelum dunia modern berbicara tentang anti-diskriminasi rasial. Ketika kolonialisme masih menjadi sistem global, ketika apartheid bahkan belum memiliki nama, Islam telah mendeklarasikan kesetaraan manusia.

Haji mempraktikkan prinsip itu secara nyata. Semua manusia mengenakan ihram yang sama. Tidak ada simbol jabatan. Tidak ada privilese kekuasaan. Tidak ada kemewahan status sosial. Presiden dan petani berdiri dalam saf yang sama. Direktur dan buruh thawaf pada lintasan yang sama. Miliarder dan tukang ojek berdoa di tanah yang sama.

Di tengah dunia yang semakin mengukur manusia dari paspor, warna kulit, rekening bank, dan posisi sosial, haji mengingatkan bahwa nilai manusia tidak ditentukan oleh kepemilikan, tetapi oleh integritas moral.

Ekonomi yang Berkeadaban

Khutbah Wada’ juga memuat kritik tajam terhadap ketidakadilan ekonomi.

Rasulullah SAW secara tegas menghapus praktik riba yang eksploitatif:

“Segala bentuk riba pada masa jahiliyah dihapuskan…”

Pesan ini bukan sekadar larangan transaksi tertentu, tetapi kritik terhadap sistem ekonomi yang dibangun di atas pemerasan dan ketimpangan struktural.

Hari ini dunia menghadapi paradoks besar: pertumbuhan ekonomi tinggi, tetapi kesenjangan sosial semakin brutal. Segelintir elite menguasai sebagian besar kekayaan dunia, sementara jutaan manusia hidup dalam kerentanan pangan, kesehatan, dan pendidikan.

Kemakmuran tanpa keadilan hanya melahirkan kecemburuan sosial. Pertumbuhan tanpa distribusi hanya mempercepat keretakan peradaban.

Haji mengingatkan bahwa ekonomi bukan sekadar akumulasi kapital, tetapi instrumen keadilan sosial.

Perempuan dan Martabat Sosial

Dalam khutbahnya, Nabi juga memberi perhatian besar pada perlakuan terhadap perempuan:

“Perlakukanlah perempuan dengan baik…”

Pada masa ketika perempuan sering diposisikan sebagai objek sosial, Islam justru menegaskan perlindungan martabat mereka. Dalam sejarah Indonesia, nilai itu bergema dalam perjuangan RA Kartini, yang melihat pendidikan, kehormatan, dan kebebasan berpikir perempuan sebagai fondasi kemajuan peradaban.

Pesan ini tetap sangat aktual ketika kekerasan berbasis gender, eksploitasi ekonomi, dan ketimpangan akses masih menjadi problem global.

Peradaban yang besar bukan ditentukan oleh gedung tinggi atau pertumbuhan ekonomi semata, tetapi oleh cara ia memperlakukan kelompok yang paling rentan.

Haji sebagai Sekolah Anti-Ego

Seluruh rangkaian haji sejatinya adalah latihan menghancurkan ego.

Ihram melatih kesederhanaan. Wukuf melatih perenungan. Sa’i mengajarkan ikhtiar. Melempar jumrah melambangkan perlawanan terhadap hawa nafsu.

Tawaf mengajarkan bahwa pusat kehidupan bukanlah diri sendiri, melainkan Tuhan.

Di era media sosial, ketika manusia berlomba membangun citra, mengejar validasi, dan memamerkan keberhasilan, haji justru mengajarkan pembongkaran total terhadap narsisme. Manusia kembali menjadi makhluk kecil di hadapan Yang Maha Besar. Dan justru dari kerendahan itulah lahir kemuliaan.

Restorasi Peradaban

Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia memiliki tanggung jawab moral untuk menjadikan nilai-nilai haji sebagai etika publik, bukan sekadar ritual tahunan.

Haji tidak boleh berhenti sebagai statistik keberangkatan jamaah atau kebanggaan administratif. Ia harus menjadi energi transformasi sosial. Pejabat yang pulang dari haji semestinya membawa integritas yang lebih kuat. Pebisnis yang berhaji semestinya membawa keadilan yang lebih nyata. Akademisi yang berhaji semestinya membawa kebijaksanaan yang lebih dalam.

Masyarakat yang berhaji semestinya membawa empati yang lebih luas. Karena hakikat haji bukanlah gelar “haji” di depan nama, melainkan perubahan akhlak di belakangnya. Dunia hari ini tidak kekurangan orang pintar. Yang kurang adalah manusia yang beradab.

Dan dari Padang Arafah, empat belas abad lalu, Rasulullah SAW telah memberikan peta jalan itu: peradaban yang dibangun di atas keadilan, kesetaraan, penghormatan martabat manusia, dan kasih sayang universal.

Barangkali itulah makna terdalam haji: bukan sekadar perjalanan menuju Tanah Suci, tetapi perjalanan pulang menuju kemanusiaan yang suci.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |