Saat Dunia Gagal Menjaga Kemanusiaan, Haji Merekonstruksi Peradaban (Bagian 1)

10 hours ago 13

Oleh: Setiawan Budi Utomo, Pemerhati Keuangan dan Transformasi Sosial Ekonomi, Wakil Ketua IAEI

REPUBLIKA.CO.ID -- Ketika bom dijatuhkan atas nama perdamaian, ketika veto digunakan untuk membungkam keadilan, dan ketika lembaga internasional yang dibangun untuk menjaga kemanusiaan justru tampak tak berdaya menghadapi genosida, dunia sedang menyaksikan ironi terbesar peradaban modern: hak asasi manusia semakin sering dipidatokan, tetapi semakin jarang benar-benar dilindungi.

Gaza menjadi luka terbuka paling nyata. Ribuan warga sipil kehilangan nyawa, anak-anak kehilangan masa depan, rumah sakit dan tempat ibadah menjadi sasaran, sementara dunia menyaksikan dengan bahasa diplomasi yang sering kali lebih dingin daripada reruntuhan yang masih berasap. Perserikatan Bangsa-Bangsa yang lahir dari janji never again pasca-Perang Dunia II justru sering terjebak dalam kebuntuan politik kekuatan besar. Hukum internasional tampak tegas terhadap yang lemah, tetapi sering melemah terhadap yang kuat.

Sejarah bahkan mencatat pola yang berulang. Invasi Irak tahun 2003 dilakukan atas nama senjata pemusnah massal yang kemudian tidak pernah terbukti. Afghanistan menjadi perang panjang atas nama stabilitas, tetapi meninggalkan luka sosial yang dalam. Bosnia, Rwanda, tragedi Rohingya, hingga serangan terhadap fasilitas sipil di berbagai konflik mutakhir termasuk sekolah, rumah sakit, dan kamp pengungsian yang merenggut nyawa anak-anak memperlihatkan bahwa dunia modern berkali-kali terlambat menyelamatkan kemanusiaan. Ketika ruang belajar berubah menjadi ruang duka, ketika anak-anak menjadi korban dari kalkulasi geopolitik orang dewasa, sesungguhnya yang runtuh bukan hanya bangunan, tetapi nurani peradaban. Deklarasi ada, konvensi ada, resolusi ada tetapi nyawa manusia tetap sering kalah oleh kepentingan politik global.

Inilah paradoks zaman kita: dunia tidak kekurangan deklarasi hak asasi manusia, tetapi kekurangan keberanian moral untuk menegakkannya secara adil.

Dalam lanskap global seperti inilah, ibadah haji menemukan relevansinya yang paling dalam. Haji bukan sekadar ritual spiritual tahunan, melainkan deklarasi peradaban. Ia adalah momentum untuk mengingat kembali bahwa kemanusiaan memiliki fondasi moral yang jauh lebih tua, lebih dalam, dan lebih universal daripada sekadar teks hukum modern.

Puncak pelajaran itu termaktub dalam Khutbah Wada’ Rasulullah SAW di Padang Arafah pada tahun 10 Hijriah pidato perpisahan Nabi Muhammad SAW saat Haji Wada’, yang oleh banyak sarjana dipandang sebagai salah satu deklarasi hak asasi manusia paling awal dan paling komprehensif dalam sejarah peradaban manusia.

Jauh sebelum dunia mengenal Universal Declaration of Human Rights tahun 1948, Arafah telah lebih dahulu memproklamasikan kesucian jiwa manusia, perlindungan harta, kehormatan martabat, kesetaraan ras, perlindungan perempuan, hingga keadilan ekonomi.

Universal Declaration of Human Rights lahir setelah manusia menyaksikan kehancuran Perang Dunia II; Khutbah Wada’ lahir sebelum dunia mengenal sistem internasional modern, tetapi justru menawarkan fondasi moral yang lebih mendasar: hak hidup bukan karena konstitusi memberikannya, tetapi karena Tuhan memuliakan manusia.

Empat belas abad lalu, ketika dunia masih hidup dalam hierarki ras, perbudakan sosial, dan kekuasaan absolut, Islam telah menghadirkan fondasi etik yang melampaui zamannya.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |