REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melanjutkan penguatan dan meninggalkan level psikologis Rp 18.000 per dolar AS. Penguatan Mata Uang Garuda terjadi setelah rilis hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) dan Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI-BI) yang menunjukkan kinerja positif.
Mengutip Bloomberg, rupiah ditutup menguat 65 poin atau 0,36 persen ke level Rp 17.921 per dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat (17/7/2026). Pada perdagangan sebelumnya, rupiah berada di posisi Rp 17.986 per dolar AS.
"(Sentimen internal) Bank Indonesia merilis hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha atau SKDU periode kuartal II 2026. Aktivitas dunia usaha terpantau meningkat. BI melaporkan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) pada kuartal II 2026 berada di 12,97 persen, meningkat dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang sebesar 10,11 persen," kata Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya, Jumat (17/7/2026).
Meningkatnya kegiatan usaha, menurut BI, didorong oleh kenaikan kinerja mayoritas lapangan usaha (LU) utama, antara lain LU pertanian, kehutanan, dan perikanan, LU konstruksi, serta LU pertambangan dan penggalian sejalan dengan aktivitas usahanya. Selain itu, LU penyediaan akomodasi dan makan minum juga meningkat seiring dengan terjaganya permintaan pada rangkaian Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan high season liburan sekolah pada kuartal II 2026.
Sejalan dengan itu, kapasitas produksi terpakai pada kuartal II 2026 tercatat sebesar 73,8 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang sebesar 73,33 persen. Peningkatan kapasitas produksi terpakai terutama ditopang oleh LU pertanian, kehutanan, dan perikanan, LU pertambangan dan penggalian, serta LU pengadaan listrik.
"Sementara itu, kondisi keuangan dunia usaha secara umum tetap baik pada aspek likuiditas maupun rentabilitas, dengan akses kredit yang tetap mudah," ujarnya.
Adapun pada kuartal III 2026, responden dalam SKDU memperkirakan aktivitas dunia usaha sedikit melambat dengan SBT sebesar 11,75 persen. Kinerja lapangan usaha yang diperkirakan meningkat berasal dari LU industri pengolahan, LU perdagangan besar dan eceran serta reparasi mobil dan motor, sejalan dengan prakiraan terjaganya permintaan masyarakat, serta LU konstruksi seiring berlanjutnya pengerjaan sejumlah proyek pemerintah dan swasta.
"Selain itu, kinerja kegiatan usaha pada LU pertambangan dan penggalian juga diperkirakan meningkat. Hal ini dipengaruhi oleh penurunan curah hujan sehingga mendorong kenaikan aktivitas pertambangan," jelasnya.
Selain data SKDU yang cenderung positif, BI juga merilis data PMI-BI yang menunjukkan aktivitas manufaktur masih berada pada zona ekspansi.
"Dalam survei lain, Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI-BI) mencatatkan kinerja industri pengolahan berada di level 51,43 pada kuartal II 2026," lanjutnya.
Meski lebih rendah dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang tercatat sebesar 52,03, posisinya masih berada di atas level 50, yang menandakan fase ekspansi. BI mencatat capaian PMI-BI tersebut didorong oleh komponen volume produksi (53,81), volume persediaan barang jadi (53,00), serta volume total pesanan (52,77).
Sentimen Eksternal
Sementara itu, dari luar negeri, Ibrahim menilai terdapat sejumlah sentimen eksternal yang memengaruhi pergerakan rupiah, mulai dari dinamika konflik geopolitik di Timur Tengah hingga ekspektasi kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed).
"Gelombang serangan AS lainnya terhadap target Iran pada hari Kamis, sehari setelah serangan merusak sebuah kapal tanker minyak di dekat terminal ekspor utama Iran. Permusuhan yang diperbarui telah memperpanjang konflik Timur Tengah hingga bulan kelima, menjaga harga minyak mentah tetap tinggi dan menghidupkan kembali kekhawatiran bahwa biaya energi yang lebih tinggi dapat memicu kembali inflasi," terang Ibrahim.

8 hours ago
7















































