Bank Indonesia Ungkap Industri Manufaktur Masuk Level Ekspansif, Ini Penjelasannya

12 hours ago 13

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) menyampaikan kinerja lapangan usaha (LU) industri pengolahan di Indonesia pada kuartal II 2026 tetap terjaga. Hal tersebut tercermin dari hasil Prompt Manufacturing Index (PMI)-BI yang berada di atas angka 50, menunjukkan kondisi ekspansif.

"Kinerja lapangan usaha industri pengolahan pada kuartal II 2026 berada pada fase ekspansi (indeks > 50), tercermin dari PMI-BI sebesar 51,43," kata Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangannya, Jumat (17/7/2026).

Meskipun berada pada fase ekspansi, capaian PMI-BI pada kuartal II 2026 lebih rendah dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang tercatat sebesar 52,03.

Denny menjelaskan, berdasarkan komponen pembentuknya, mayoritas komponen berada pada fase ekspansi, yaitu volume produksi, volume persediaan barang jadi, dan volume total pesanan. Sementara itu, komponen tenaga kerja dan kecepatan penerimaan barang input berada pada zona kontraksi.

Pada kuartal II 2026, komponen volume produksi terindikasi berada pada zona ekspansi dengan indeks sebesar 53,81, lebih rendah dibandingkan dengan kuartal sebelumnya sebesar 54,07. Terjaganya kinerja volume produksi sejalan dengan terjaganya permintaan masyarakat yang didukung oleh tetap kuatnya volume total pesanan, tingginya volume persediaan barang jadi, serta ketersediaan sarana produksi.

Kinerja volume total pesanan pada kuartal II 2026 juga terindikasi berada pada fase ekspansi, tercermin dari indeks sebesar 52,77. Namun, angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan kuartal I 2026 yang sebesar 53,20. Terjaganya volume total pesanan juga didukung oleh kecukupan barang yang tercermin dari tingginya volume persediaan barang jadi.

Komponen volume persediaan barang jadi pada kuartal II 2026 terindikasi berada pada fase ekspansi dengan indeks sebesar 53,00, juga lebih rendah dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang sebesar 54,43.

Sementara itu, komponen tenaga kerja pada kuartal II 2026 tercatat sebesar 48,65, lebih rendah dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang sebesar 48,76.

Kemudian, komponen kecepatan penerimaan barang input pada kuartal II 2026 masih berada pada zona kontraksi dengan indeks sebesar 47,46. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan kuartal sebelumnya sebesar 49,06.

Adapun berdasarkan sublapangan usaha (Sub-LU), sebagian besar Sub-LU juga berada pada fase ekspansi. Indeks tertinggi terdapat pada industri mesin dan perlengkapan (58,24), diikuti industri makanan dan minuman (54,05), industri logam dasar (53,59), serta industri barang galian bukan logam (53,22).

"Pada kuartal III 2026, kinerja LU industri pengolahan diperkirakan meningkat dan tetap berada pada fase ekspansi, tercermin dari PMI-BI sebesar 52,32. Ekspansi terutama didorong oleh volume produksi, volume persediaan barang jadi, dan volume total pesanan," lanjut Denny.

Adapun mayoritas Sub-LU pada kuartal III 2026 diperkirakan juga berada pada fase ekspansi, dengan indeks tertinggi pada industri mesin dan perlengkapan (56,62), diikuti industri pengolahan tembakau (56,00), industri logam dasar (55,87), dan industri alat angkutan (55,44).

Sebagai informasi, PMI-BI merupakan indikator komposit yang disusun untuk memberikan gambaran umum mengenai kondisi lapangan usaha industri di Indonesia berdasarkan hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU). Data PMI-BI diperoleh dari lima komponen, yaitu volume produksi (output), volume total pesanan, volume persediaan barang jadi, jumlah tenaga kerja, dan kecepatan penerimaan barang input.

Hasil perhitungan PMI-BI merupakan pre-assessment dari benchmarking Purchasing Managers' Index (PMI). Indeks di atas 50 mengindikasikan ekspansi usaha, sedangkan indeks di bawah 50 mengindikasikan kontraksi.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |