Perang Iran Picu Krisis Pupuk dan Ancam Harga Pangan Dunia

12 hours ago 13

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perang Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran berpotensi menghancurkan berbagai sektor. Blokade Selat Hormuz yang dilakukan Iran untuk merespons serangan AS dan Israel tidak hanya memicu krisis energi, tetapi juga mengancam sektor pertanian dan pangan.

Blokade itu melemahkan pasokan pupuk yang sangat dibutuhkan para petani yang sudah menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kenaikan suhu hingga cuaca yang kian tidak menentu. Hal ini berisiko menaikkan harga pangan di seluruh dunia.

Deputi Direktur Eksekutif Program Pangan Dunia (FAO) PBB Carl Skau mengatakan petani-petani paling miskin di belahan bumi utara mengandalkan pupuk impor dari Teluk Persia. Pelemahan pasokan pupuk ini terjadi tepat sebelum musim tanam dimulai.

"Di skenario terburuk, akan menurunkan hasil panen dan menyebabkan gagal panen di musim depan. Di skenario terbaik, menaikkan biaya produksi yang dapat mendorong harga pangan pada tahun depan," kata Skau dikutip dari AP, Sabtu (28/3/2026).

Petani beras asal Punjab, India, Baldev Singh mengatakan petani kecil di negaranya mungkin tidak dapat bertahan bila pemerintah tidak mensubsidi pupuk pada periode puncak permintaan bulan Juni mendatang. "Saat ini, kami menunggu dan berharap," katanya.

Selat Hormuz tidak hanya menjadi jalur seperlima perdagangan minyak dan gas dunia. Celah sempit itu juga merupakan jalur sepertiga perdagangan pupuk dunia.

Pada Jumat (27/3/2026), Duta Besar Iran untuk PBB di Jenewa, Ali Bahreini mengatakan Teheran menerima permintaan PBB untuk mengizinkan kapal bantuan kemanusiaan dan kapal komoditas pertanian melewati Selat Hormuz, meski Iran sedang menghadapi serangan terhadap fasilitas nuklirnya.

Rencana pengiriman bantuan itu menjadi pelayaran asing pertama di perairan sempit tersebut sejak perang dimulai bulan lalu. Ketika pasar dan pemerintah berbagai negara fokus pada pasokan minyak dan gas, pembatasan pasokan pupuk dapat mengancam ketahanan pangan seluruh dunia.

Dua unsur hara utama dalam pupuk, nitrogen dan fosfat, terancam tidak bisa didistribusikan akibat blokade di Selat Hormuz.

Pasokan nitrogen, termasuk urea—pupuk yang paling banyak diperdagangkan dan membantu pertumbuhan tanaman serta meningkatkan hasil panen—paling terpukul karena keterlambatan pengiriman dan melonjaknya harga gas alam cair yang merupakan bahan penting untuk memproduksi nitrogen.

Peneliti dari perusahaan konsultasi komoditas CRU Group, Chris Lawson, mencatat perang Iran sudah membatasi 30 persen perdagangan urea global. Sementara itu, ekonom University of Texas Raj Patel mengatakan sejumlah negara sudah kekurangan urea.

Ia mencontohkan Ethiopia yang 90 persen nitrogen pupuknya berasal dari Teluk Persia yang melewati Djibouti, rute pasokan yang sudah terbatas bahkan sebelum perang AS dan Israel pada Februari lalu. "Saat ini sedang musim tanam, dan tidak ada pupuk di sana," kata Patel.

Pasokan fosfat yang diperlukan akar tanaman juga tertekan. Lawson mengatakan Arab Saudi merupakan produsen fosfat terbesar kelima di dunia dan mengekspor 40 persen sulfur dunia, bahan utama dan produk sampingan dari penyulingan minyak dan gas.

Analis dari Argus Consulting Services Owen Gooch mengatakan setelah perang berakhir, para produsen di Teluk masih membutuhkan jaminan keamanan untuk melewati Selat Hormuz. Dengan begitu, biaya asuransi juga akan melonjak tajam.

Pemerintah India memprioritaskan pasokan urea untuk kebutuhan domestik dan menyediakan sekitar 70 persen kebutuhan gas alam bagi produsen pupuk. Beberapa pabrik masih beroperasi di bawah kapasitas, yang menyebabkan penurunan produksi.

“Sistem pangan itu rapuh, dan bergantung pada rantai pasokan pupuk yang stabil untuk memastikan petani dapat menghasilkan pangan yang dibutuhkan dunia,” kata Hanna Opsahl-Ben Ammar dari Yara International, salah satu perusahaan pupuk terbesar di dunia.

Pupuk biasanya digunakan sebelum atau saat penanaman dilakukan. Sehingga, ketika pupuk tidak terkirim tepat waktu, hal itu akan merusak pertumbuhan tanaman dan hasil panen.

Dampak perang terhadap pasokan pupuk sudah terasa di AS dan Eropa, di mana musim tanam masih berlangsung. Masalah ini juga diperkirakan akan menghantam Asia ketika musim tanam di kawasan itu dilakukan beberapa bulan ke depan.

“Tanaman di ladang membutuhkan nitrogen saat ini juga, semakin cepat semakin baik, agar dapat tumbuh dengan baik, berkembang, dan membangun cadangan untuk panen pada musim panas,” kata Dirk Peters, seorang insinyur pertanian yang mengelola pertanian di luar Berlin.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |