Peradaban Api vs Peradaban Tanah

5 hours ago 11

Oleh : Achmad Thshofawie, Kordinator Ecofitrah, Peminat Kajian Strategis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada satu dialog kosmik yang tak pernah usang. Ia terjadi jauh sebelum sejarah manusia dimulai, namun gaungnya terasa hingga hari ini—bahkan dalam konflik energi modern yang berdampak mengguncang dunia.Dialog itu adalah pernyataan sombong Iblis di hadapan Allah:

“Aku lebih baik darinya (Adam); Engkau ciptakan aku dari api, dan Engkau ciptakan dia dari tanah.” (QS Al-A’raf:12).

Kalimat ini bukan hanya sekedar pembangkangan. Ia adalah fondasi dari sebuah paradigma—cara pandang terhadap kehidupan, kekuasaan, dan nilai. Hari ini, tanpa kita sadari, dunia modern sedang mengulang narasi itu dalam bentuk yang lebih kompleks: peradaban api melawan peradaban tanah.

Api: Simbol Energi, Kecepatan, dan Dominasi

Dalam dunia modern, “api” tidak lagi sekadar nyala lilin atau bara kayu. Ia menjelma menjadi: minyak bumi,gas alam, batu bara,pembangkit listrik, bahkan sistem industri global.Api adalah energi. Dan energi adalah kekuasaan. Negara yang menguasai energi: menggerakkan industri, mengendalikan logistik,menentukan harga global,bahkan mempengaruhi stabilitas politik negara lain.Tidak mengherankan jika banyak konflik modern beririsan dengan sumber energi.

Contoh paling nyata adalah konflik Rusia vs Ukraina. Konflik ini bukan hanya soal wilayah atau geopolitik klasik, tetapi juga tentang: jalur gas ke Eropa, ketergantungan energi Uni Eropa, perebutan pengaruh atas pasar energi. Ketika konflik meletus, bukan hanya tank yang bergerak—harga gas melonjak, listrik mahal, dan efeknya menjalar hingga dapur rumah tangga di berbagai belahan dunia.Api, dalam bentuk energi, menunjukkan wajah aslinya: ia memberi daya, tapi juga memicu konflik.  

Tanah: Simbol Kehidupan, Kesabaran, dan Keberlanjutan

Berbeda dengan api, tanah bekerja dalam diam.Ia tidak meledak, tidak melompat, tidak membakar. Tapi dari tanah: tumbuh pangan,lahir kehidupan, terbentuk ekosistem.Dalam Al-Qur'an, manusia diciptakan dari tanah—sebuah simbol yang dalam: rendah hati, stabil, memberi, bukan menghabiskan.

Namun dalam peradaban modern, tanah sering dikorbankan demi api: hutan dibakar untuk tambang,lahan subur dialihfungsikan, pertanian tergantung pada input energi tinggi.Akibatnya, manusia perlahan menjauh dari sumber kehidupannya sendiri.

Ketika Api Mengklaim Superioritas

Kembali ke kisah Iblis, inti masalahnya bukan pada bahan penciptaan, tetapi pada klaim: "Aku lebih baik".Dalam konteks modern, klaim ini muncul dalam bentuk: negara maju lebih berhak,yang punya teknologi berkuasa,yang menguasai energi menentukan aturan.Inilah mentalitas iblisiyah dalam versi kontemporer.Energi tidak lagi dipandang sebagai amanah, tetapi sebagai alat legitimasi kekuasaan.

Konflik Energi Kekinian: Api yang Menjalar

Jika kita membuka peta dunia hari ini, kita akan melihat bahwa banyak titik panas global berkaitan erat dengan energi.

Rusia–Ukraina: Gas sebagai Senjata

Dalam konflik Rusia - Ukraina: Rusia adalah pemasok gas utama ke Eropa. Ukraina menjadi jalur transit penting. Ketika konflik terjadi,pasokan pasti terganggu,harga energi melonjak;Eropa mengalami krisis energi.Gas menjadi lebih dari sekadar komoditas—ia menjadi instrumen geopolitik.

Ketegangan di Selat Hormuz

Selat ini adalah salah satu jalur energi paling vital di dunia.Sekitar seperlima minyak global melewati jalur ini.Sedikit gangguan saja bisa mengguncang harga dunia.Ketegangan antara negara-negara di kawasan ini membuat:pasar global gelisah, harga minyak fluktuatif,risiko konflik terbuka selalu mengintai.Di sini, kita melihat bagaimana satu titik geografis bisa menjadi pusat ketegangan global—karena ia adalah “urat nadi api”.

Perang Teluk: Minyak sebagai Motif Terang-terangan

Ketika Irak menginvasi Kuwait, dunia tahu bahwa:cadangan minyak menjadi faktor utama;kontrol atas produksi berarti kontrol atas pasar.Perang ini menunjukkan secara gamblang bahwa energi bisa menjadi pemicu langsung konflik militer.

Krisis Energi Global dan Pangan

Ketika harga energi naik, pupuk (berbasis gas) menjadi mahal,produksi pangan berpotensi menurun,harga makanan naik. Akibatnya:negara miskin paling terdampak,potensi kerusuhan sosial meningkat. Di sini, api tidak hanya membakar medan perang—ia juga membakar stabilitas sosial.

Peradaban Api: Cepat tapi Rapuh

Peradaban berbasis energi tinggi memiliki ciri cepat,efisien,produktif.

Namun di balik itu, ia juga rapuh terhadap gangguan, bergantung pada sistem global,rentan terhadap konflik. Satu pipa rusak, satu jalur terganggu, satu konflik meletus—dunia langsung terguncang.

Peradaban Tanah: Lambat tapi Tangguh

Sebaliknya, peradaban yang berbasis tanah: lebih lokal,lebih mandiri,lebih stabil.Ia mungkin tidak secepat peradaban api, tetapi tidak mudah runtuh,tidak mudah dipolitisasi,lebih dekat dengan fitrah manusia.

Hari ini, pertarungan antara “api” dan “tanah” tidak selalu terlihat sebagai konflik terbuka.Ia hadir dalam bentuk: kebijakan energi vs kebijakan pangan; industrialisasi vs keberlanjutan; dan globalisasi vs kemandirian lokal

Dan sering kali, manusia modern tanpa sadar memilih “api”—karena ia lebih cepat, lebih instan, dan tampak lebih prospektif menguntungkan.

Membaca Ulang Kisah Iblis dan Adam

Kisah Iblis dan Nabi Adam bukan sekadar cerita teologis.Ia adalah cermin: antara kesombongan dan kerendahan hati;antara dominasi dan amanah;antara eksploitasi dan keseimbangan.

Dalam konteks energi: "api” menjadi simbol kekuatan;  "tanah” menjadi simbol kehidupan.Ketika manusia memilih api tanpa tanah, ia kehilangan faktor keseimbangan.

Menuju Sintesis: Bukan Memilih, Tapi Menempatkan

Solusinya bukan menolak energi, tetapi: menempatkan energi dalam kerangka fitrah.Artinya: energi sebagai alat, bukan tujuan;tanah sebagai dasar, bukan korban; teknologi sebagai sarana, bukan penguasa.

Di sinilah gagasan seperti AGROFITRAH menjadi penting: mengintegrasikan energi dengan ekosistem; mengembalikan pangan ke basis lokal;mengurangi ketergantungan pada sistem global yang rapuh.

Penutup: Perang yang Lebih Dalam

Jika kita jujur, konflik energi hanyalah permukaan.Di baliknya, ada perang yang lebih dalam: antara keserakahan dan kecukupan; antara kesombongan dan kerendahan hati; antara peradaban api dan peradaban tanah. Selama manusia masih berkata, seperti Iblis: "Aku lebih baik", maka konflik akan terus ada—dalam bentuk apa pun, termasuk energi.

Namun ketika manusia kembali memahami bahwa: energi adalah amanah; tanah adalah sumber kehidupan; dan dirinya hanyalah pengelola. Maka mungkin, untuk pertama kalinya: api tidak lagi menjadi alat kehancuran,tetapi sesuatu yang menerangi jalan arah peradaban. Dan di situlah, peradaban tidak lagi memilih antara api atau tanah—tetapi menyatukan keduanya dalam harmoni fitrah.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |