Pembiayaan Baru BFI Finance Naik 9,3 persen yoy, Aset Tembus Rp 25,5 Triliun

22 hours ago 10

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Tahun 2025 menjadi periode ketika industri pembiayaan dihadapkan pada dinamika pasar yang dipengaruhi perubahan perilaku daya beli dan konsumsi masyarakat, serta meningkatnya sensitivitas terhadap risiko di berbagai segmen. Kondisi tersebut mencerminkan situasi di masyarakat dan keputusan finansial mereka terhadap perkembangan ekonomi makro dalam negeri.

Merespons kondisi tersebut, PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFI Finance) sebagai perusahaan yang berkaitan erat dengan perekonomian masyarakat menerapkan langkah-langkah pengelolaan bisnis yang berfokus pada penguatan kualitas portofolio dan ketahanan operasional, disertai penyesuaian strategi pada setiap lini produk.

Dari upaya tersebut, perusahaan mampu menjaga pertumbuhan total aset pada 2025 sebesar 1,4 persen dibandingkan nilainya pada 2024, menjadi Rp 25,5 triliun. Peningkatan ini didorong oleh kenaikan piutang dikelola (managed receivables) sebesar 8,9 persen year-on-year (yoy) dengan capaian Rp 26,3 triliun. Perusahaan juga konsisten untuk terus bertumbuh dengan membukukan pembiayaan baru sebesar Rp 21,9 triliun atau naik 9,3 persen dibandingkan periode sepanjang 2024 lalu.

“Kami dapat membuktikan resiliensi bisnis dengan permodalan yang solid, likuiditas yang memadai, serta profil risiko yang manageable. Tentunya ini semua berkat kemampuan dalam menerapkan prinsip agility yang diiringi kerja keras seluruh tim, semangat kolaborasi yang strategis, serta kepercayaan dari konsumen, investor, dan berbagai pemangku kepentingan,” ujar Presiden Direktur BFI Finance Sutadi, melalui keterangan tertulis, Jumat (6/3/2026).

Melalui ragam layanan pembiayaan, BFI Finance konsisten mendukung aktivitas ekonomi pada berbagai segmen konsumen, mulai dari kebutuhan individu, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), hingga kebutuhan skala bisnis besar. Hingga Desember 2025, komposisi piutang dikelola didominasi pembiayaan produktif, yakni modal kerja sebesar 57,3 persen dan investasi sebesar 17,6 persen. Sementara itu, piutang pembiayaan yang disalurkan untuk tujuan multiguna tercatat memiliki porsi 22,0 persen dan pembiayaan berbasis syariah sebesar 3,1 persen.

Untuk income statement, BFI Finance menorehkan total pendapatan senilai Rp 6,7 triliun sepanjang 2025, atau meningkat 6,5 persen dibandingkan 2024. Perusahaan juga mencatatkan kinerja yang stabil dengan profitabilitas sebesar 1,0 persen yoy, menjadi Rp 1,581 triliun.

Terlepas dari upaya peningkatan performa, perusahaan masih mampu mengelola risiko dengan baik di bawah dua persen. Non-Performing Financing (NPF) per 31 Desember 2025 berada di level bruto 1,39 persen dan neto 0,22 persen. Posisi ini lebih rendah dibandingkan NPF rata-rata industri yang berada di level bruto 2,51 persen dan neto 0,77 persen (data Otoritas Jasa Keuangan/OJK per Desember 2025).

“Melalui pengelolaan manajemen risiko yang cermat untuk menjaga kualitas aset, BFI Finance mampu mempertahankan stabilitas kinerja sekaligus menjaga posisi keuangan yang solid sebagai fondasi pertumbuhan pada masa depan,” tambah Sutadi.

Pada rasio keuangan penting lainnya, Return on Asset (ROA) dan Return on Equity (ROE) masing-masing tercatat sebesar 7,9 persen dan 14,8 persen. Sementara itu, gearing ratio terpantau sebesar 1,3 kali.

Upaya mempertahankan kinerja tersebut tidak mengurangi komitmen perusahaan untuk memberikan nilai tambah berkelanjutan kepada para pemegang saham. Pada 2025, perusahaan telah menyelesaikan pembagian dividen dengan total Rp 902 miliar untuk tahun buku 2024, serta membagikan dividen tunai interim untuk tahun buku 2025 pada 18 Desember sebesar Rp 35,00 per lembar saham atau setara Rp 520 miliar.

sumber : Antara

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |